BKG

Rahmansyah, Bayu (2016) Pengaruh Teknik Jajar Legowo Dan Berbagai Jarak Tanam Pada Petumbuhan Dan Hasil Tanaman Jagung Bisi 16 (Zea Mays Identata). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Tanaman jagung merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan hingga saat ini. Komoditas jagung (Zea mays L) sangat dibutuhkan karena banyak kegunaan dalam kehidupan sehari hari. Dalam budidaya jagung komponen teknologi pengaturan jarak tanam dan system tanam diperlukan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Tanaman jagung hingga kini masih sangat diminati oleh masyarakat dunia, salah satunya untuk kebutuhan pangan. Kebutuhan jagung dunia mencapai 770 juta ton/tahun, 42% diantaranya merupakan kebutuhan masyarakat di benua Amerika. Di Indonesia jagung termasuk bahan pangan penting karena merupakan sumber karbohidrat kedua setelah beras. Teknologi jarak tanam diperlukan untuk mendapatkan tingkat populasi yang optimal mengurangi kompetisi mendapatkan unsur hara antar tanaman serta memaksimalkan penerimaan sinar matahari ketanaman, selain itu sistem tanam jajar legowo ternyata juga dapat diterapkan pada pertanaman jagung. Sistem tanaman jagung sama halnya dengan padi, tanaman jagung membentuk anakan, manfaat menerapkan sistem tanam legowo pada tanaman jagung adalah memudahkan pemeliharaan tanaman, terutama penyiangan gulma baik secara manual maupun herbisida, pemupukan, serta pemberian air. Keunggulan lainnya adalah memudahkan penanaman untuk pertanaman II dengan system tanamsisip yang dilakukan 2 minggu sebelum pertanaman I dipanen, sehingga menghemat periode pertumbuhan tanaman di lapangan. Pada percobaan penelitian kali ini akan membandingkan dengan sistem konvensional dan jarak tanam jajar legowo yaitu jajar legowo 2:1, 3;1, 4;1. Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu rekomendasi yang terdapat dalam paket anjuran Pengelolaan TanamanTerpadu (PTT). Pada penelitian yang dilakukan ialah dengan mengatur system tanam jajar legowo yang akan di factorial dengan berbagai jarak tanam. Jajar legowo yang digunakan ialah jajarlegowo 2:1, 3:1, 4:1 dan konvensional, sedangkan jarak tanam yang digunakan yaitu Jarak Tanam25 cm x 50 cm, Jarak Tanam30 cm x 60 cm, dan Jarak Tanam 35 cm x 70 cm. Parameter yang akan dimati ialah pengamatan pertumbuhan yang meliputi bobot kering total, luas daun, dan jumlah daun, adapun pengamatan panen atau hasil meliputi panjang tongkol tanpa kelobot, jumlah tongkol, lingkar tongkol, produksi per tanaman, bobot tongkol tanpa kelobot, bobot biji dengan kelobot, dan produksi per hektar pada tanaman tersebut. Pada penelitian ini, dilakukan analisis tanah di awal bertujuan untuk mengetahui dosis pupuk yang akan diberikan untuk tanaman jagung tersebut, agar nutrisi dapat tercukupi. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianlisis dan diolah dengan menggunakan tabel Anova dan dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5% untuk melihat perbedaan antar perlakuan. Dari data hasil penelitian yang dilakukan di lahan, menunjukkan bahwa jarak tanam sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Perlakuan jarak tanam akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun tanaman jagung. Hal ini disebabkan jumlah daun dari tanaman jagung disetiap perlakuan relatif sama banyak. Jarak tanam mengakibatkan adanya kompetisi pada pertumbuhan tanaman jagung. Semakin tinggi tingkat kerapatan antar tanaman menyebabkan semakin tinggi tingkat persaingan tanaman. Perlakuan berbagai jarak tanam yang dilakukan diduga belum mengakibatkan perasingan pada periode pertumbuhan tanaman jagung sehingga tidak menunjukkan pengaruh nyata pada jumlah daun tanaman jagung. Sedangkan, padapertumbuhantanamanjagungdenganjaraktanamsangatberpengaruhterhadapluasdauntanamanjagung. Sistem tanam jajar legowo berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman jagung bisi 16 meliputi bobot kering tanaman umur 48 dan 68 hst. Hal ini diduga sistem jajar legowo dapat meningkatkan penerimaan intensitas cahaya matahari pada daun, memudahkan pemeliharaan, penyerapan unsur hara dan air. Sistem tanam jajar legowo 2:1 memperlihatkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan jagung bisi 16 yang ditanam pada sistem jajar legowo 3:1, 4:1, ataupun konvensional. Hal tersebut diduga terjadi karena pada sistem jajar legowo 3:1, 4:1, dan konvensional populasi tanaman lebih banyak. Kerapatan tanaman menyebabkan antara tanaman saling menaungi sehingga mengurangi laju proses fotosintesis.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2017/82/051702412
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Sugiantoro
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/132173
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item