BKG

Fadilla, ZulvaNur (2017) Induksi Poliploidi pada Bawang Putih (Allium sativum L.) dengan Pemberian Kolkisin. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Perkembangan konsumsi bawang putih di tingkat rumah tangga masyarakat Indonesia selama 2 tahun terakhir (2013-2014) mengalami peningkatan sebesar 2,98% (Susenas BPS diolah Pusdatin, 2015). Peningkatan konsumsi bawang putih ini belum didukung oleh perkembangan tanaman bawang putih yang luas areal panennya mengalami penurunan sebesar 0,23%. Hal ini mengakibatkan produksi nasional rendah dan 95% kebutuhan bawang putih harus diimpor dari beberapa negara lain terutama Cina. Menurunnya minat petani membudidayakan bawang putih lokal menjadi salah satu kendala yang menyebabkan semakin langkanya bawang putih lokal. Hal ini dikarenakan petani tidak mampu bersaing dengan bawang putih impor yang mempunyai kualitas umbi lebih baik dan harga yang lebih terjangkau. Ukuran umbi bawang putih lokal jauh lebih kecil dibandingkan bawang putih impor namun memiliki kandungan allicin tinggi yang menjadikan aromanya lebih kuat (Nurhayat, 2013). Biaya produksi tanaman bawang putih di Indonesia juga masih sangat tinggi yang disebabkan oleh tingginya kebutuhan pupuk dan serangan hama penyakit. Biaya produksi tanaman yang tinggi dan produktivitas yang rendah menjadikan harga bawang putih lokal lebih mahal. Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu usaha perbaikan tanaman. Salah satunya melalui pemuliaan tanaman yang dapat menghasilkan kultivar-kultivar unggul baru. Perbaikan sifat genetik bawang putih sulit dilakukan dengan persilangan karena tanaman memiliki tingkat sterilitas bunga yang tinggi (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998). Perbaikan sifat dapat diupayakan dengan cara lain, diantaranya dengan induksi poliploid menggunakan mutagen kolkisin. Salah satu kultivar unggul bawang putih di Indonesia ialah Lumbu Hijau yang mampu beradaptasi di dataran tinggi. Induksi poliploid dengan mutagen kolkisin dapat dilakukan pada bawang putih Lumbu Hijau sebagai langkah awal pembentukan kultivar unggul baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kolkisin pada poliploidisasi bawang putih Lumbu Hijau. Hipotesis dalam penelitian ini adalah kolkisin yang diberikan mempengaruhi poliploidisasi pada tanaman bawang putih Lumbu Hijau. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Juni 2016 di Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu dengan ketinggian tempat ± 1.100 m di atas permukaan laut. Bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu bibit bawang putih Lumbu Hijau, bubuk kolkisin, Dimethyl Sulfoxide, aquades, media tanam (tanah berpasir), label, pupuk kandang (kotoran ayam) pupuk NPK (16:16:16), ZA, ZPT (atonik), insektisida, dan fungisida. Sedangkan alat yang diperlukan antara lain: pipet, pengaduk, gelas ukur, tray (ukuran 72 lubang tanam), paranet 60%, cangkul, cetok, gembor, sprayer, tangki penyemprot, penggaris atau meteran, timbangan analitik, jangka sorong, dan kamera. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan model linier untuk RAK Faktorial dengan 2 faktor yaitu konsentrasi kolkisin (0 ppm; 250 ppm; 500 ppm; dan 750 ppm) dan lama waktu perendaman (6 jam dan 12 jam) yang diulang sebanyak 3 ulangan. Masing-masing kombinasi perlakuan dalam tiap ulangan terdiri dari 50 tanaman percobaan. Tahap pelaksanaan penelitian yang dilakukan antara lain: persiapan lahan, pembuatan greenhouse, dan persiapan media tanam di tray; pembuatan dan induksi kolkisin; penanaman; pemeliharaan tanaman; dan pemanenan. Pengamatan dilakukan pada morfologi tanaman meliputi: waktu munculnya tunas (hst), tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), waktu panen (hst), jumlah siung, diameter umbi (cm), berat basah tanaman (g), dan berat kering tanaman (g). Data hasil pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian (ANOVA) untuk RAK Faktorial menggunakan uji F pada taraf 5%. Jika hasil sidik ragam menunjukan pengaruh yang nyata maka dilakukan uji lanjut menggunakan uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa interaksi konsentrasi kolkisin dengan lama perendaman hanya terjadi pada tinggi tanaman umur 35, 42, dan 49 hst. Tinggi tanaman meningkat akibat perendaman kolkisin konsentrasi 750 ppm selama 6 jam. Sedangkan faktor konsentrasi kolkisin hanya berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 28, 35, 42, 49, dan 56 hst. Jumlah daun meningkat akibat perlakuan kolkisin 750 ppm. Faktor lama perendaman tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diamati.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2017/41/051701441
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/132130
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item