BKG

FadillaNurRamadhan, Anjari (2016) Respon Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terhadap Pupuk Kandang dan Pupuk Anorganik. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Bawang merah menjadi komoditas andalan dan sangat di gemari oleh masyarakat Indonesia. Hal ini di karenakan bawang merah memiliki banyak manfaat, selain di manfaatkan sebagai bumbu dapur, bawang merah biasanya juga di konsumsi dalam bentuk mentah sebagai obat tradisional. Kualitas umbi menjadi salah satu acuan konsumen dalam memilih bawang merah, umbi yang mudah busuk, terlalu kecil dan tidak padat kurang di minati oleh konsumen. Pemupukan sangat menentukan kualitas umbi bawang merah, pemupukan yang di lakukan sesuai dengan dosis yang tepat akan menghasilkan kualitas umbi yang baik sedangkan pemberian pupuk anorganik yang berlebihan akan menghasilkan kualitas umbi yang buruk. Pemupukan yang berlebihan dan tidak sesuai dosis sangat merugikan maka di perlukan suatu perbaikan sistem pertanian guna meminimalisir penggunaan pupuk yang berlebihan. Perbaikan sistem pertanian perlu dilakukan untuk menunjang keberhasilan pertanian di Indonesia. Sistem pertanian konvensional yang sering diterapkan oleh petani di Indonesia membawa dampak buruk bagi lingkungan. Aplikasi pupuk anorganik yang tidak sesuai dosis anjuran yang sering dilakukan petani dapat membahayakan tanaman dan juga lingkungan. Kesadaran akan bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintesis secara berlebihan maka diperlukan suatu input tambahan untuk meminimalisir penggunaan bahan kimia sintesis ke dalam tanaman, input tersebut berupa bahan organik. Pemberian bahan organik merupakan suatu upaya atau cara untuk meminimalisir penggunaan pupuk kimia. Melihat fakta diatas, dapat di pastikan bahwa pupuk kandang sangat baik dan bermanfaat bila di aplikasikan ke dalam tanah dan tanaman. Namun, sejauh ini penggunaan pupuk kandang saja dirasa tidak dapat mencukupi kebutuhan unsur hara pada tanaman. Kandungan unsur hara yang terkandung di dalam pupuk kandang membutuhkan waktu yang lama agar dapat di serap oleh tanaman, berbeda apabila dibandingkan dengan pupuk anorganik yang kandungan unsur haranya mudah di serap oleh tanaman dan lebih kompleks,sehingga penggunaan pupuk anorganik masih tetap dibutuhkan oleh tanaman namun harus sesuai dosis anjuran dan dilakukan dengan tepat. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2016 di Dusun Areng–Areng, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Batu, Malang, yang memiliki ketinggian tempat 600 mdpl. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Faktorial (RAK) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama terdiri dari 3 level meliputi : K0 = Tanpa pupuk kandang, K1 = Pupuk kandang 10 ton ha-1, K2 = Pupuk kandang 20 ton ha-1. Faktor ke dua terdiri dari 3 level meliputi : N1 = Pupuk Anorganik 100%, N2 = Pupuk Anorganik 75%, K3 = Pupuk Anorganik 50%. Pengamatan pertumbuhan dilakukan dengan mengamati tanaman contoh untuk setiap perlakuan pada saat tanaman berumur 14, 28, dan 42HST. Pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan pertumbuhan dan pengamatan hasil. Pengamatan pertumbuhan meliputi : panjang tanaman, jumlah daun, jumlah anakan per rumpun, sedangkan pengamatan hasil meliputi : jumlah umbi per rumpun, bobot segar umbi per tanaman, bobot kering umbi per tanaman, dan susut bobot umbi. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dengan taraf kesalahan 5%. Apabila terdapat pengaruh yang nyata antar masing–masing perlakuan maka dilakukan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kandang dan dosis pupuk anorganik tidak memberikan interaksi nyata pada parameter pertumbuhan panjang tanaman dan jumlah daun namun memberikan interaksi nyata pada pengamatan jumlah anakan per rumpun umur 42 HST dan jumlah umbi per rumpun. Penggunaan pupuk kandang dan pupuk anorganik secara terpisah, memberikan pengaruh nyata pada parameter jumlah anakan per rumpun umur 28 HST. Sedangkan pada pengamatan hasil bobot segar umbi per tanaman, bobot kering umbi per tanaman, dan susut bobot umbi tidak memberikan interaksi nyata namun secara terpisah perlakuan pupuk kandang berpengaruh nyata. Berdasarkan peubah jumlah anakan per rumpun dan jumlah umbi per rumpun, perlakuan pupuk kandang 20 ton ha-1 dengan dosis pupuk anorganik 50% memberikan hasil yang sama baiknya dengan perlakuan tanpa pupuk kandang dengan 100% dosis pupuk anorganik (kontrol). Penambahan pupuk kandang 10 ton ha-1 dapat mengurangi dosis pupuk anorganik 25% sedangkan penambahan pupuk kandang 20 ton ha-1 mampu mengurangi dosis pupuk anorganik hingga 50%.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2017/28/051701426
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Sugiantoro
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/132117
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item