BKG

MPancaHilmanNadhif, (2016) Pengaruh Jarak Tanam Jagung Manis (Zea Mays Saccharata Sturt) Dan Waktu Tanam Baby Buncis (Phaseolus Vulgaris L.) Dalam Sistem Tumpangsari. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Jagung manis yang merupakan produk hortikultura semakin populer karena memiliki daya tarik dari rasa yang lebih manis dan umur yang relatif singkat dibanding jagung biasa. Seiring meningkatnya pertambahan penduduk maka kebutuhan dan permintaan akan jagung manis terus meningkat. Usaha peningkatan produksi dapat dilakukan dengan cara intensifikasi maupun ekstensifikasi, dimana intensifikasi dapat dilakukan dengan perbaikan budidaya tanaman seperti pengaturan jarak tanam dan waktu tanam. Hasil atau produksi jagung manis dapat meningkat apabila pengaturan jarak tanamnya tepat. Sedangkan pengaturan waktu tanam dapat dilakukan untuk meminimalisir adanya persaingan antar tiap tanaman. Hal ini dapat terbantu dengan adanya sistem tumpangsari dengan tanaman sela karena sistem tumpangsari memiliki banyak keuntungan yaitu dapat menghasilkan berbagai macam variasi tanaman, mencegah ledakan hama dan meminimalisir kerugian panen. Tanaman baby buncis dapat difungsikan sebagai tanaman sela karena selain karena waktu panen yang lebih cepat dibanding tanaman jagung manis, tanaman baby buncis termasuk tanaman legume yang dapat menambah unsur hara pada tanah dan mempunyai daya jual yang relatif tinggi sehingga dapat menambah keuntungan petani. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mempelajari jarak tanam dan waktu tanam yang tepat terhadap hasil jagung manis menggunakan sistem tumpangsari dengan tanaman baby buncis. 2) untuk mengetahui pertumbuhan tanaman jagung manis dan tanaman baby buncis melalui sistem tumpangsari. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni - September 2013 di Lahan Jatikerto, desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Alat yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah timbangan analitik, label, knapsack sprayer, oven, cangkul, dan kamera. Bahan yang digunakan adalah benih jagung manis (varietas Jambore), benih buncis (varietas Spectacular), pupuk urea (45% N), pupuk SP-36 (36% P2O5), pupuk KCl (60% K2O), dan pestisida. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) sederhana dengan perlakuan J1= monokultur jagung manis 75 x 25 cm, J2= jagung manis 75 x 25 cm + baby buncis tanam bersamaan, J3= jagung 75 x 25 cm + baby buncis 10 hst, dan J4= 75 x 25 cm + baby buncis 20 hst, J5= monokultur jagung manis 90 x 25 cm, J6= jagung manis 90 x 25 cm + baby buncis tanam bersamaan, J7= jagung manis 90 x 25 cm + baby buncis 10 hst, dan J8= jagung manis 90 x 25 cm + baby buncis 20 hst dengan total 8 perlakuan kombinasi dengan 3 ulangan. Pengamatan dilakukan pada saat tanaman jagung manis mulai berumur 21 HST dengan interval waktu pengamatan selama 2 minggu. Pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan non destruktif terdiri dari tinggi tanaman dan jumlah daun, luas daun, indeks luas daun, dan pengamatan panen. Analisis data yang diperoleh dianalisa menggunakan analisis ragam (uji F) dengan taraf 5%. Jika terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf 5%. Pola tanam tumpangsari jagung manis dengan baby buncis mempengaruhi hasil panen jagung manis maupun baby buncis. Dari hasil penelitian menunjukkan perlakuan tumpangsari tanaman jagung manis dengan tanaman baby buncis mempengaruhi indeks luas daun umur 21 hst, berat segar tongkol dengan kelobot, berat segar tongkol tanpa kelobot, hasil panen, dan komponen hasil tanaman baby buncis. Pola tanam tumpangsari jagung manis dan baby buncis meningkatkan hasil sebesar 17,07 % dibandingkan dengan monokultur jagung manis.

English Abstract

Sweet corn is a horticultural product that is popular because it has the appeal of a sweet taste and have relatively short life than other corn. With the increasing of population, need and demand of sweet corn continue to increase. Effort to increase production can be done by using intensification and extensification, intensification can be done with the improvement of crop cultivation such as plant spacing and time of planting. The production result of sweet corn can increasing with proper plant spacing. While the time of planting treatment can be done to minimize the competition between each plant. This can be helped by intercropping with crops sidelines as intercropping system which has many advantages that can produce a wide variety of plants, preventing pest and minimize crop losses. Baby bean can used as crop sidelines because has early harvest compared to sweet corn and is a legume crops that can give nutrient elements on the ground and so as to increase the profits of farmers. The purpose of this research is 1) to learn about the right spacing and time of planting for production of sweet corn in intercropping system with baby bean. 2) To know the plant growth of sweet corn and baby bean in intercropping system. Research conducted on June to September 2013 in Jatikerto field, Jatikerto village, Kromengan District, City of Malang. Tools of this research are analytic scales, labels, knapsack sprayer, oven, hoe and camera. The material that used for this research is seeds of sweet corn, seed of green bean, Urea (46% N), SP-36 (36% P2O5), KCl (60% K2O), and pesticides. This research using a randomized block design such as J1= monoculture of sweet corn 75 x 25 cm, J2= sweet corn 75 x 25 cm + baby bean with same planting, J3= sweet corn 75 x 25 cm + baby bean 10 dap, dan J4= sweet corn 75 x 25 cm + baby bean 20 dap, J5= monoculture sweet corn 90 x 25 cm, J6= sweet corn 90 x 25 cm + baby bean with same planting, J7= sweet corn 90 x 25 cm + baby bean 10 dap, dan J8= sweet corn 90 x 25 cm + baby bean 20 dap with total of 8 combination treatments with 3 replication. Observation of sweet corn start on 21 days after planting time with interval about 2 weeks. Observation used non destructive observation consist of plant height, number of leaves, leaf area, leaf area index, and harvest observation. Data analyzed using Analysis of Varian (ANOVA) at the level of 5%. If there any significant difference among treatments will be continued with Least Significant Difference (LSD) at the level of 5 %. Intercropping sweet corn and baby bean does affect the productivity of sweet corn. The results showed that intercropping sweet corn and baby bean affects the, leaf area index at age 21 dap, yield components of sweet corn such as weight of fresh cobs with husk, weight of fresh cobs without husk, yield and yield component of baby bean. Intercropping pattern sweet corn with baby bean increase the yield of 17,07 % than sweet corn monoculture treatment.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2016/842/051611773
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Sugiantoro
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/131846
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item