BKG

Rizqingtyas, Hana (2016) Evaluasi Genetik Galur-Galur Mutan Generasi Kedua Dan Ketiga Jagung Pakan/Yellow Corn (Zea Mays L.). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Jagung ialah salah satu komoditas yang memiliki peran penting dan strategis menyebabkan permintaan jagung semakin lama meningkat. Namun kendala yang ada saat ini ialah tingginya permintaan pasar belum diimbangi dengan produktivitas jagung. Sehingga banyak program pemuliaan tanaman yang dilakukan untuk menghasilkan kultivar jagung yang unggul, salah satunya melalui proses mutasi. Mutasi dapat terjadi secara alami atau melalui induksi (buatan). Contoh kasus yang diduga sebagai peristiwa mutasi yaitu pada hasil penanaman jagung pakan secara ear to row di CV. Blue Akari yang menunjukkan adanya perubahan warna biji pada tongkol dari warna kuning penuh menjadi kuning dan putih. Sedangkan contoh mutasi buatan dapat dilakukan dengan memberikan mutagen, misalnya kolkisin. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Aili pada tahun 2015 dan dilanjutkan oleh Anggraeni pada tahun yang sama menunjukkan bahwa perlakuan kolkisin menyebabkan keragaman pada galur inbrida serta munculnya biji berkarakter warna merah muda. Pada tanaman menyerbuk silang seperti pada jagung, perbedaan karakter pada biji diasumsikan sebagai perbedaan genetik. Selain itu, dari peristiwa tersebut belum diketahui apakah terdapat efek yang dibawa oleh polen atau yang lebih dikenal dengan efek xenia. Tujuan dari penelitian ini ialah: 1) Untuk mengevaluasi perubahan karakter warna biji dan beberapa karakter pada generasi kedua dan ketiga galur - galur mutan jagung pakan dan 2) Untuk mengetahui pengaruh serbuk sari galur mutan terhadap karakter tongkol galur non mutan. Hipotesis yang diajukan ialah: 1) Terdapat perbedaan karakter warna biji dan karakter tongkol pada galur-galur mutan jagung pakan dan 2) Diduga serbuk sari galur mutan memberikan pengaruh pada karakter tongkol hasil persilangan dengan galur non mutan. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2015-Februari 2016 di Dusun Areng-areng, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Alat yang digunakan dalam penelitian antara lain cangkul, tugal, meteran, timbangan, gunting, jangka sorong, penggaris, label, kertas Samson, stapler, kamera, dan alat tulis. Bahan yang digunakan ialah kompos, pupuk NPK 100 kg ha-1, pupuk ZA 150 kg ha-1, dan pestisida dengan jumlah yang diberikan sesuai dengan dosis rekomendasi. Sedangkan bahan tanam yang digunakan ialah dua galur jagung yang terdiri satu galur mutan buatan yaitu INF generasi ketiga (INFM3) beserta non mutannya, dan kedua adalah galur mutan alami yaitu IONAX yang terdiri dari tiga aksesi yaitu IONAX non mutan, mutan IONAX generasi pertama (IONAX M1) dan mutan IONAX generasi kedua (IONAX M2). Penelitian menggunakan metode single plant. Karakter kualitatif yang diamati meliputi warna pangkal batang, bentuk daun pertama warna glum, dan warna biji. Sedangkan karakter kuantitatif meliputi daya kecambah benih, persentase tanaman yang bertahan hidup, tinggi tanaman, umur berbunga jantan, umur berbunga betina, umur panen, panjang tongkol, diameter tongkol, bobot tongkol, jumlah biji per tongkol, bobot biji per tongkol, dan jumlah biji per kategori warna. Analisis data kualitatif menggunakan pendekatan statistika deskriptif sedangkan data kuantitatif dianalisis menggunakan uji beda nilai tengah (uji T) pada taraf 5%. Berdasarkan hasil pengamatan pada kedua galur mutan menunjukkan perbedaan dengan tanaman kontrol pada beberapa karakter. Pada karakter kualitatif perbedaan yang paling tampak yaitu pada karakter warna biji. Hasil pengamatan daya kecambah benih menunjukkan bahwa tanaman mutan memiliki nilai persentase lebih rendah dibandingkan tanaman non mutan. Sedangkan pada parameter tanaman yang hidup diketahui bahwa pada beberapa perlakuan persentase daya kecambah benih tidak berbanding lurus dengan persentase tanaman yang hidup. Tanaman mutan INFM3 menunjukkan perbedaan dengan tanaman kontrol pada karakter tinggi tanaman, umur berbunga jantan, umur berbunga betina, panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah biji per tongkol, bobot biji per tongkol, dan bobot tongkol. Sedangkan tanaman mutan IONAX hanya menunjukkan perbedaan pada karakter umur panen. Pada hasil persilangan antara tanaman non mutan dengan mutan, diketahui bahwa polen tanaman mutan baik pada galur INF maupun IONAX tidak memberikan pengaruh nyata secara keseluruhan pada hasil persilangan. Selain itu, hasil persilangan masing-masing galur mutan dengan non mutan menunjukkan bahwa karakter warna baru yang muncul tidak dipengaruhi oleh polen jantan.

English Abstract

Corn is one of the commodities that have an important and strategic role that lead to the demand of the corn is progressively increasing. However, the constraint occurs today is the market demand has not been matched by productivity of maize. So, many plant breeding programs are conducted to produce superior corn cultivars, one of them is the mutation. Mutations can occur naturally or by induction (artificial). For instance, the cases considered as the mutation events are the results of feed corn planting in ear to row in the CV. Blue Akari which show the change in color of the seed on the cob from full yellow color to yellow and white. While, the examples of artificial mutation can be done by giving mutagens such as colchicine. The results of research conducted by Aili in 2015 and followed by Anggraeni at the same year showed that colchicine treatment led to the diversity of inbred lines as well as the existence of pink seeds. In cross-pollinated crops such as corn, the character differences in grain are assumed to be the genetic differences. Besides, it cannot be known from that phenomenon whether there is an effect brought by the pollen or it is well-known as a xenia effect. The objectives or this research are: 1) To evaluate the seeds’ colour character change and some characters in second and third mutant strains of corn feed and 2) To determine the influence of pollen mutant strains toward the non-mutant strains cob character. The hypothesis were: 1) There was seed’s colour character difference in the mutant strains of corn feed and 2) It was assumed that mutant strains pollens gave influences toward the cob character which was the result of pollination with non-mutant strains. This research was conducted on November 2015 – February 2016 in Areng-areng – Dadaprejo – Junrejo – Batu City. The tools used in this research were hoes, drill, tape measure, scales, scissors, calipers, ruler, label, Samson paper, stapler, cameras, and stationery. The used materials were compost, fertilizer NPK 100 kg ha-1, ZA 150 kg ha-1, and pesticides with the amount given in accordance with the recommended dosage. While, planting materials used were two strains of corn consisted of one artificial mutant strain namely INF third generation (INFM3) and non-mutant, and both were natural mutant strains which was IONAX consisting of three accessions that were non-mutant IONAX, first generation IONAX mutant (IONAX M1) and second generation IONAX mutant (IONAX M2). This research used single plant method. The qualitative character observed were stem colour, glum coloured-first leaf, and the colour of the seeds. Whereas, the quantitative characters included the germination of seeds, the percentage of plants that survived, plant height, days of flowering males, date of flowering females, harvesting age, cob length, cob diameter, corncob, number of grains per ear, grain weight per ear, and the number of seeds per colour category. The qualitative data analysis used descriptive statistical approach, while quantitative data was analyzed by using different test middle value (T test) at 5% level. Based on observations on both mutant strains showed differences from control plants on some characters. In qualitative character the most visible difference was the color seeds character. The observations result of germination showed that the mutant plants had lower percentage than non-mutant plants. While the parameter of living plants was known that at some percentage of germination of seed treatment was not directly proportional to the percentage of living plants. INFM3 mutant plants showed difference from control plants on plant height, days to flowering male, female flowering dates, cob length, cob diameter, number of grains per ear, grain weight per ear, and corncob. On the other hand, IONAX mutant plants showed only a difference in the character of harvesting. The result of crossing between a non-mutant plant with a mutant displayed that pollen mutant plants neither in strain INF nor IONAX gave significant effect on the overall result of crossing. Besides, the crossing result of each mutant strain with non-mutant showed that the new colour character was not influenced by the male pollens.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2016/623/051609310
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Sugiantoro
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/131628
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item