BKG

WilisabertaPhubby, (2016) Respon Perkecambahan Tujuh Klon Tebu (Saccharum Officinarum) Terhadap Penyakit Rebah Kecambah (Damping Off). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Tebu (Saccharum officinarum) merupakan salah satu komoditas strategis, karena sebagai sumber bahan baku terbesar gula. Tebu mengandung sukrosa yang tinggi sehingga dibutuhkan sebagai sumber pangan. Permintaan konsumen akan tebu menjadi prospek untuk meningkatkan produksi tebu. Produksi tebu pada tahun 2013 dan 2014 mencapai 2.553,55 ton dan 2.575,39 ton. Hasil kenaikan tidak menunjukkan perubahan signifikan. Salah satu faktor yang mempengaruhi tebu tidak dapat tumbuh optimal, yaitu penyakit rebah kecambah (damping off). Di Indonesia penyakit tersebut menyerang pada tanaman tebu pada persemaian. Hal tersebut menyebabkan penurunan jumlah benih, akibatnya banyak tanaman yang disulam. Jamur Pythium sp akan menurunkan berat tanaman, karena akar yang terserang akan kehilangan kemampuan menyerap unsur hara. Penyakit timbul oleh kelembaban, kondisi kelembaban tinggi mempengaruhi infeksi jamur Pythium sp kepada tanaman. Kondisi lembab tersebut dapat menjadi seleksi untuk pemilihan suatu klon. Klon tahan akan memiliki genetik ketahanan tinggi dibandingkan klon rentan sehingga diharapkan menghasilkan informasi klon yang potensial untuk dikembangkan menjadi klon tahan penyakit damping off. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikologi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya dan Kebun Bibit Dinas Perkebunan dan Kehutanan, Desa Pohgading, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan. Penelitian dilaksanakan pada 11 Januari sampai 15 April 2016. Alat yang digunakan dalam penelitian meliputi cawan petri, tabung erlenmeyer, autoclave, pipet, kertas saring, timbangan, bunsen, jarum ose, oven, polibag ukuran 13 x 18 cm, plastik wrapping, hot plate, cangkul, gelas ukur, ember, meteran, mikroskop dan jangka sorong. Bahan tanam untuk penelitian, yaitu tanaman tebu (bud chip) dan bahan pembuatan media agar wortel ialah wortel, agar dan aquadest. Klon tebu yang digunakan ialah PSJT 941, Bulu Lawang, Kidang Kencana, PS 862, PS 864, PSBM 901 dan PS 865. Bahan media tanam menggunakan tanah endemik terserang (Pythium sp). Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan 14 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali. Faktor pertama terdiri dari P0 (kontrol) dan P1 (tanah terserang Pythium sp), sedangkan faktor kedua 7 klon tebu. Penelitian dilaksanakan dengan pembuatan media agar wortel dan isolasi Pythium sp dari tanah yang terserang yang berada di Desa Bandaran, Kecamatan Winongan, Pasuruan. Kemudian dilakukan persiapan media tanam tebu dari 14 kombinasi perlakuan. Setelah itu, penanaman tebudari beberapa klon dan dilakukan penyiraman dengan volume air sesuai kelembaban 70%. Parameter pengamatan meliputi tinggi batang, diameter batang, jumlah daun, lebar daun, panjang daun, panjang akar, bobot tanaman dan intensitas serangan penyakit rebah kecambah. Analisis data menggunakan sidik ragam (ANOVA) berdasarkan Rancangan Petak Terbagi (RPT) pada taraf 5% dan analisis hubungan dengan menggunakan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat faktor yang mempengaruhi perbedaan respon ketahanan dari intensitas serangan penyakit. Faktor tersebut yaitu genetik, lingkungan dan interaksi keduanya. Analisis ketahanan menunjukkan respon ketahanan klon dengan perlakuan menggunakan tanah endemik (P1), dipengaruhi oleh faktor genetik. Hal tersebut disebabkan ketahanan klon berbeda-beda. Populasi jamur Pythium sp yang berkembang didalam tanah juga mempengaruhi perbedaan respon ketahanan dari intensitas serangan penyakit disebabkan lingkungan ditanamnya klon tebuyaitu pada perlakuan P0 dan P1. Pada karakter pertumbuhan menunjukkan hasil klon Kidang Kencana memiliki ketahanan tertinggi, dikarenakan dari hasil pengamatan memiliki karakter pertumbuhan terbaik dan cepat yang melebihi beberapa klon pembanding (P0). Namun, dari semua karakter juga terdapat klon yang memiliki ketahanan tinggi dari karakter pertumbuhannya, diantaranya PSJT 941, PS 862 dan PS 865. Pada karakter pertumbuhan klon yang memiliki ketahanan rendah dan pertumbuhan lambat dari pengamatan yaitu Bulu Lawang, sehingga klon terseleksi memiliki ketahanan terbaik dari karakter yang diamati intensitas serangan, tinggi batang, diameter batang, jumlah daun, lebar daun, panjang akar, panjang daun dan bobot batang, yaitu klon PSJT 941, Kidang Kencana, PS 862 dan PS 865. Pada analisis korelasi dibedakan antara perlakuan P0 dan P1 yang menunjukkan nilai koefisien korelasi P0 pada semua karakter yang diamati lebih besar dibandingkan P1. Hal tersebut dikarenakan pada P1 dengan menggunakan tanah endemik terserang Pythium sp mengakibatkan pertumbuahan menjadi terganggu atau menurun sehingga beberapa karakter pertumbuhan juga akan berubah. Namun, pada perlakuan menggunakan tanah endemik yang terserang (P1) masih terdapat hubungan positif. Hal tersebut dikarenakan dua variabel pada P1 memiliki pertumbuhan yang saling berkaitan meskipun pertumbuhan rendah.

English Abstract

Sugarcane (Saccharum officinarum) is one of the strategic commodities, because as the largest source of the raw material sugar. Sugarcane contain high sucrose so that needed as a food source. Consumer demand for sugarcane to the prospects for increase sugarcane production. The production of sugarcane in 2013 and 2014 reached 2553.55 tons and 2575.39 tons. The result of the increase showed no significant change. One factor that affects sugarcane can not grow optimally, that is a fungal disease damping off. In Indonesia, the disease attacked sugarcane in the seedling. This causes decrease in the number of seeds, consequently lot of swapping of dead plants with healthy plants. Pythium fungus will decrease the weight of the plant, because the roots are attacked will lose ability to absorb nutrients. The disease results by humidity, high humidity conditions influence Pythium sp fungus infection to the plant. The humid conditions can be selected for the choose of a clone. Resistant clones will have a high resistance compared to susceptible clone so that to result information clones with the potential to be developed into a disease-resistant clones damping off. This research conducted at the Mycology Laboratory, Faculty of Agriculture, Brawijaya University and Nursery Department of Plantation and Forestry, Pohgading Village, District Pasrepan, Pasuruan. The research was conducted on 11 January until 15 April 2016. The tools used in the research include petri dish, tube erlenmeyer, autoclave, pipettes, filter paper, scales, bunsen, needle ose, oven, polybag size 13 x 18 cm, plastic wrapping, hot plate, hoes, measure cup, buckets, meter, microscope and calliper. Planting material for research, that is sugarcane (bud chip) and materials for the carrot agar mediumare carrot, agar and distilled water. Clones sugarcane used PSJT 941, Bulu Lawang, Kidang Kencana, PS 862, PS 864, PSBM 901 dan PS 865. Material planting medium used endemic soil (Pythium sp). The research used Split Plot Design (SPD) with 14 treatment combinations were 3 replications. The first factor consisted of P0 (control) and P1 (soil attacked by Pythium sp), while the second factor 7 clones of sugarcane. The research was conducted with make carrot agar medium and Pythium sp isolation from soil attacked Pythium in the Bandaran Village, District of Winongan, Pasuruan. Then do the preparation of sugarcane planting medium from 14 combined treatment. After that, the planting of sugarcane from several clones and watering with a water volume corresponding to 70% humidity. Parameters include the observation of stem height, stem diameter, number of leaf, leaf width, leaf length, root length, stem weight and the intensity of damping off disease. The data analysis used analysis of variance (ANOVA) based on Split Plot Design (SPD) at 5% level and relationship analysis used correlation. The results showed a difference in response to factors that affect the resistance of disease intensity. These factors are genetic, environment and their interaction. Analysis resistance showed response clones used endemic soil (P1), influenced by genetic factor. This is because the different in resistance clones. The developmentof Pythium sp populations in the soil also influenced difference response to factors that affect the resistance of disease intensity because environment for planting sugarcane clones that are in treatment P0 and P1. In the growth character show results Kidang Kencana has the highest resistance, because of the observations have the best character and rapid growth more clones comparator (P0). However, of all the characters also are clones that have high resistance of character growth, include PSJT 941, PS 862 and PS 865. In the growth character of clones that have a resistance low and slow growth of the observation in a Bulu Lawang, so the clones selected has best resistance of characters observed intensity of disease, stem height, stem diameter, number of leaves, leaf width, root length, leaf length and stem weight, that are PSJT 941, Kidang Kencana, PS 862 and PS 865. In the correlation analysis to differenti between P0 and P1 treatment that showed a correlation coefficient P0 on all the characters observed greater than P1. This is because P1 used soil endemic attacked Pythium sp consequently growth be disturbed or decreased so some character growth will also change. However, used soil treatment of endemic attacked (P1) is still a positive relationship. That is because the two variables in P1 has a growing interrelated despite low growth.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2016/494/051609181
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Sugiantoro
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/131501
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item