BKG

Fadhiillah, GhaniiIllman (2016) Pengaruh Waktu Pengendalian Gulma pada Monokultur dan Tumpang Sari Tanaman Jagung (Zea mays L.) dan Kacang Tanah (Arachis hypogea L.).. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Tanaman jagung manis (Zea mays L) dan kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman pangan yang mempunyai peran penting sebagai sumber karbohidrat dan protein. Produksi jagung tingkat nasional pada tahun 2013 diperkirakan 18,84 juta ton pipilan kering atau mengalami penurunan sebesar 0,55 juta ton atau 2,83 % jika dibandingkan tahun 2012. Penurunan produksi ini diperkirakan terjadi karena penurunan luas panen seluas 66,62 ribu hektar atau 1,68 % dan penurunan produktivitas sebesar 0,57 kuintal ha-1 atau 1,16 % (BPS, 2013). Peningkatan produksi dapat ditempuh dengan meningkatkan areal tanam dan mempertinggi produktivitas (intensifikasi). Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman adalah dengan memilih sistem pola tanam yang dan waktu pengendalian gulma yang tepat. Tumpangsari (intercropping) merupakan pola tanam polikultur yang sering digunakan dalam budidaya tanaman, termasuk tanaman jagung. Pada umumnya sistem tumpangsari lebih menguntungkan dibandingkan sistem monokultur karena produktivitas lahan menjadi lebih tinggi, jenis komoditas yang dihasilkan beragam, hemat dalam pemakaian sarana produksi dan resiko kegagalan dapat diperkecil. Gulma menjadi salah satu faktor pembatas produksi tanaman jagung. Menurut Nurlaili (2010), gulma menjadi penyebab hilangnya hasil produksi pertanian yang hampir setara dengan resiko serangan serangga hama dan patogen penyakit. Keberhasilan pengendalian gulma merupakan salah satu faktor penentu tercapainya tingkat produksi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh waktu pengendalian gulma pada sistem pola tanam tumpang sari tanaman jagung (Zea mays L.) dan kacang tanah (Arachis Hypogaea L.) . Hipotesis penelitian ini ialah terdapat pengaruh beda nyata pada perlakuan system pola tanam dan perbedaan waktu pengendalian gulma serta interaksi antara keduanya. Penelitian di kebun percobaan Dusun Dadapan – Desa Pandanrejo - Kecamatan Bumiaji - Kota Batu di ketinggian 900 m dpl. Dengan curah hujan Alat yang digunakan pada penelitian ialah cangkul, tugal, sabit, gembor, sprayer, timbangan analitik, oven, Leaf Area Meter (LAM), meteran, jangka sorong, gelas ukur dan kamera digital. Bahan yang digunakan pada penelitian adalah varietas BISI-2, herbisida berbahan aktif ametrin , pupuk Urea, pupuk SP-36, dan pupuk KCL sesuai dengan dosis rekomendasi. Pestisida digunakan jika serangga hama dan patogen penyakit di lahan percobaan diatas ambang ekonomi. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini ialah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 9 perlakuan diulang 3 kali, N0: Monokultur jagung dengan penyiangan 21 hst, N1: Monokultur jagung dengan penyiangan 42 hst, N2: Monokultur jagung dengan penyiangan 21 hst dan 42 hst, N3: Monokultur kacang tanah dengan penyiangan 21 hst, N4: Monokultur kacang tanah dengan penyiangan 42 hst, N5: Monokultur kacang tanah dengan penyiangan 21 hst dan 42 hst , N6: Tumpang sari jagung dan kacang tanah dengan penyiangan 21 hst, N7: Tumpang sari jagung dan kacang tanah dengan penyiangan 42 hst, N8: Tumpang sari jagung dan kacang tanah dengan penyiangan 21 hst dan 42 hst. Pengamatan dilakukan cara mengambil 2 tanaman contoh untuk setiap kombinasi perlakuan yang dilakukan pada saat tanaman berumur 2 mst, 4mst, 6mst, 8 mst, dan pada saat panen yang meliputi komponen pertumbuhan dan hasil. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F pada taraf α = 0,05 untuk mengetahui terdapat tidaknya interaksi atau pengaruh nyata dari perlakuan. Apabila terdapat interaksi atau pengaruh nyata dari perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji antar perlakuan dengan menggunakan BNT pada taraf p = 0,05. Dari hasil penelitian perlakuan system pola tanam dan waktu pengendalian gulma berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pengamatan meliputi parameter tanaman jagung yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang tongkol, bobot tongkol dan hasil panen per hektar, sedangkan parameter kacang tanah meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang, bobot 1000 biji bernas dan hasil panen per hektar. Perlakuan monokultur jagung dengan penyiangan 21 dan 42 hst (N2) menghasilkan pertumbuhan dan hasil produksi yang paling baik pada tanaman jagung diantara perlakuan lainnya. Perlakuan monokultur kacang tanah dengan penyiangan 21 hst dan 42 hst (N5) menghasilkan pertumbuhan dan hasil produksi yang paling baik pada tanaman kacang tanah diantara perlakuan lainnya

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2016/490/051608375
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/131497
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item