BKG

Pandanari, DikaSri (2016) Pengaruh Hormon Naa Dan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Krisan (Chrysanthemum Morifolium) Var. White Fiji. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Bunga Krisan (Chrysanthemum morifolium) merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Besar permintaan produksi krisan dengan kualitas yang baik. disebabkan krisan merupakan jenis tanaman sekali tanam. Krisan standart varietas Fiji termasuk jenis krisan standar yang paling sering dibudidayakan dikarenakan kemudahan tumbuh. Proses Studi produksi pembibitan bunga krisan merupakan kegiatan penting untuk mendapatkan teknologi yang tepat dalam optimalisasi hasil panen krisan. Lama masa pembibitan melalui stek pucuk adalah antara 15 – 20 hari. Sementara itu jarak tanam merupakan salah satu faktor yang dapat persaingan tanaman dalam memperoleh unsur hara. Tujuan penelitian ini antara lain adalah untuk mengetahui konsentrasi NAA (Naphtalene Acetic Acid)dalam larutan yang optimal sebagai perangsang pertumbuhan bibit krisan melalui bahan tanam stek pucuk pada Percobaan I. Percobaan II bertujuan untukmengetahui kombinasi perlakuan konsentrasi NAA dan perlakuan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman krisan serta mengetahui jarak tanam yang optimal untuk pertumbuhan tanaman krisan potong. Penelitian pertama dilakukan pada bulan Juni hingga bulan Juli 2014, sementara itu penelitian kedua dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Oktober 2014 di Kebun bunga potong Bapak Purwanto, Desa Sumbergondo, Kota Batu, Jawa Timur. Proses penanaman selama satu hari kerja dan dilanjutkan dengan pengamatan selama 110 hari terdiri dari 20 hari pembibitan dan 90 hari penanamandi lahan. Percobaan I menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) sedangkan Percobaan II menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor 3 ulangan. Faktor pertama adalah aplikasi konsentrasi NAA yaitu : 0 mg/L , 125 mg/L, 250 mg/L,dan 375 mg/L. Sementara itu faktor kedua merupakan jarak tanam yaitu : 8 cm x 8 cm, 12 cm x 12 cm dan 16 cm x 16 cm. Pengamatan Percobaan I dilakukan secara nondestruktif dan destruktif dilakukan terhadap 5 tanaman per satuan petak perlakuan. Pengamatan Percobaan II dilakukan secara nondestruktif terhadap 7 tanaman per satuan petak perlakuan dan destruktif dilakukan terhadap 3 tanaman per satuan petak perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa Aplikasi NAA pada stek pucuk dengan konsentrasi 375 mg/L memiliki pengaruh dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol, diantaranya: jumlah daun (35,45 %), tinggi bibit krisan (19,5 %), berat basah bibit (24,5 %) dan berat kering bibit (24 %) dengan hasil yang lebih tinggi. Kombinasi jarak tanam dan konsentrasi NAA pada tanaman menunjukkan tidak ada interaksi terhadap seluruh variabel yang diamati. Aplikasi jarak tanam 12 cm x 12 cm dan 16 cm x 16 cm pada tanaman krisan memiliki pengaruh dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan jarak tanam 8 cm x 8 cm, diantaranya : jumlah daun (21,2%), diameter batang (41,2%), bobot segar tanaman (7,25 %) dan bobot kering tanaman (8,8%). Aplikasi konsentrasi NAA 375 mg/L pada tanaman krisan memiliki pengaruh dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi lain, diantaranya : jumlah daun (19,3 %), diameter batang (29 %), bobot segar tanaman (8,7 %) dan bobot kering tanaman (7,8 %). Dari hasil penelitian maka saran dalam proses pembibitan adalah pengaplikasian NAA 125 mg/L pada stek pucuk untuk hasil jumlah daun dan tinggi tanaman yang baik. iii Sementara pada penanaman dilahan disarankan menggunakan jarak tanam 16 cm x 16 cm dan konsentrasi NAA 125 mg/L untuk menghasilkan diameter batang yang besar.

English Abstract

The Crysanthemum (Chrysanthemum morifolium) is one of many commodities havinga high economical value. Nowadays, the market demands a huge number of Chrysanthemums with good quality. It is because Chrysanthemums are a once – planting type plant. Var. Fiji has a standard flower type which is commonly planted because it is easy to grow. It is important to study the proccess of Chrysanthemum seeding to get the right technologies for harvest optimalization. The time required for shoot cutting is between 15 – 20 days, although plant spacing is one of the factors contributing to nutrient competition. This research purpose on Trial I to get the optimal NAA (Naphtalene Acetic Acid) concentration through shoot cutting during the seedling phase. Meanwhile, Trial II’s purpose is to get the combination of NAA concentration and plant spacing through the growth phases in vegetative and generative phases.Trial I was held during June to July 2014. Trial II was held fromAugust to September, 2014. It take place on Mr. Purwanto’s field in Sumbergondo – Batu. The research was divided into one day for planting, 15 days for seedling, and 90 days of observing the plants. Trial I used Completely Randomized Design during the seedling phase, while Trial II used Factorial Randomized Group Design consist of 12 treatment combinations and 3 replications. The first factor used different concentrations of NAA: 0 mg/L, 125 mg/L, 250 mg/L, and 375 mg/L. The second factor used different plant spacings: 8 cm x 8 cm, 12 cm x 12 cm, and 16 cm x 16 cm. Trial I used non-destructive and destructive observation conducted on 5 plants per plot treatment unit. Trial II used non-destructive observation conducted on 7 plants per plot treatment unit and destructive observation conducted on 3 plants per plot treatment unit. The results of this research conclude that on Trial I, the application of The 375 mg/L of NAA concentration has better effect on total number of leaves (35,45 %), height of seed (19,5 %), wet seed mass (24,5 %) and dry seed mass (24 %). Trial II resulted that the NAA application and plant spacingdid not showed the interaction to all variables.The application of 12cm x 12 cm and 16 cm x 16 cm plant spacing show better results for total leaf number (21,2%), stem diameter total (41,2%), wet mass (7,25 %) and total dry mass (8,8%) than 8 cm x 8 cm plant spacing. The NAA concentration 125 mg/L, 250 mg/L and 375 mg/L show better results for total leaf number (19,3 %), stem diameter (29 %), total wet mass (8,7 %) and total dry mass (7,8 %) than control. Suggestions from this research are: to use 375 mg/L of NAA concentration on seedling phase to get the best result of number of leaves and height of seed. Mean while use 12 cm x 12 cm plant spacing and 125 mg/L NAA concentration to get the best result of stem diameter.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2016/414/ 051607566
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Kustati
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/131412
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item