BKG

Prasiwi, IndikaDwi (2016) Pengaruh Pemberian Thidiazuron (Tdz) Terhadap Pertumbuhan Tunas Nanas (Ananas Comosus (L.) Merr.) Cv. ‘Smooth Cayyene’ Asal Mahkota Buah. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Nanas merupakan salah satu tanaman buah berupa semak yang memiliki nama ilmiah Ananas cosmosus (L) Merr. Salah satu cara untuk perbanyakan bibit nanas adalah dengan menggunakan cara vegetatif. Pembibitan nanas dengan menggunakan mahkota buah (crown) yang dipotong dapat membantu percepatan perbanyakan varietas baru. Namun, tanaman nanas yang diperbanyak dengan menggunakan super mikro section crown memiliki prosentase tumbuh tunas yang rendah, dan memiliki waktu muncul tunas yang lama. Oleh karena itu, perlu adanya penambahan zat pengatur tumbuh untuk memacu pertumbuhan super mikro section crown. Sitokinin merupakan salah satu jenis zat pengatur tumbuh di dalam tumbuhan yang dapat memacu deferensiasi dan pembelahan sel. Thidiazuron (TDZ) merupakan salah satu sitokinin tipe phenylurea sintetik yang memiliki kemampuan lebih baik dalam menginduksi tunas diantara sitokinin lain seperti, zeatin, benzylaminopurin, dan kinetin (Kou et al. dalam Kusmianto, 2008). Hipotesis dari penelitian ini adalah pemberian thidiazuron (TDZ) dengan konsentrasi 2 ppm dapat meningkatkan jumlah tunas dan mempercepat waktu muncul tunas pada pembibitan nanas (Ananas cosmosus (L) Merr.) cv. ‘Smooth Cayenne’ Klon MD 2 asal mahkota buah di PT Great Giant Pineapple, Lampung Tengah. Penelitian ini dilaksanakan di ruang pembibitan milik Crop Development PT. Great Giant Pineapple, Terbanggi Besar, Lampung Tengah. Kegiatan penelitian ini dimulai pada bulan Januari 2016 hingga Maret 2016. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) yang terdiri dari 6 perlakuan dengan 2 faktor dan diulang sebanyak 4 kali. Faktor pertama adalah konsentrasi thidiazuron (TDZ) dengan 3 taraf, yaitu: 0 ppm, 1 ppm, dan 2 ppm. Faktor kedua adalah jumlah potongan (section) dengan 2 taraf, yaitu: 32 potongan, dan 64 potongan. Pengamatan dilakukan pada 1 minggu setelah tanam (MST) hingga 10 MST dengan 5 parameter, yaitu: umur muncul tunas, prosentase tumbuh tunas, jumlah tunas, berat basah dan panjang akar. Data dianalisa dengan menggunakan analisis varian (ANOVA) Rancangan Acak Kelompok Faktorial pada taraf 5%. Apabila hasil analisis menunjukkan perbedaan nyata maka dilanjutkan dengan uji perbandingan masing-masing perlakuan dengan menggunakan Duncan’s Multiple Rate Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa bahan tanam dengan potongan 32 lebih cepat memunculkan tunas dibandingkan dengan potongan 64. Bahan tanam potongan 32 memiliki ketebalan daging crown yang lebih tebal jika dibandingkan dengan potongan 64. Ukuran daging crown yang lebih tebal memiliki cadangan makanan yang lebih banyak, sehingga stek lebih mampu untuk membentuk tunas. Menurut Hartmann et al. (2002), bahwa perbedaan pada tipe serta variabilitas karbohidrat berpengaruh langsung terhadap kemampuan stek dalam membentuk akar dan tunas. Ukuran diameter batang stek berbanding lurus dengan banyaknya jumlah cadangan makanan yang tersedia. Tidak adanya akar pada stek di pertumbuhan awal, memaksa stek untuk vi memanfaatkan cadangan makanan dari batang (Panjaitan et al., 2014). Perlakuan potongan berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas, prosentase tumbuh tunas, jumlah tunas, dan berat basah tunas. Perlakuan terbaik berasal dari potongan 32 karena memiliki prosentase tumbuh tunas dan jumlah tunas yang lebih banyak. Perlakuan pemberian thidiazuron (TDZ) berpengaruh nyata pada umur muncul tunas, prosentase tumbuh tunas, jumlah tunas, berat basah tunas dan panjang akar. Namun, perlakuan pemberian TDZ 1 ppm tidak berbeda nyata dengan pemberian TDZ 2 ppm. Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan TDZ 2 ppm karena memunculkan tunas lebih cepat. Penggunaan TDZ pada tanaman mengakibatkan adanya akumulasi fenol, katalase, dan peroxidase (Guo et al, 2011). Menurut Mamaghani el al. (2010) bahwa bentuk aktif dari peroksidase terlibat dalam regulasi pertumbuhan, perkembangan, dan organogenesis. Kombinasi perlakuan yang paling baik adalah pada perlakuan potongan 32 tanpa pemberian TDZ karena memiliki prosentase tumbuh tunas terbanyak pada 8 dan 10 MST. Perlakuan tersebut juga memiliki berat basah tunas terbesar yaitu 2,23 gram. Perlakuan potongan 32 tanpa pemberian TDZ memiliki prosentase tumbuh tunas lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan pemberian TDZ. Hal ini disebabkan karena tanaman sudah memasuki fase cepat, sehingga tunas terbentuk lebih banyak dari sebelumnya. Disisi lain, perlakuan potongan 32 dengan pemberian TDZ mengalami pertumbuhan lambat karena konsentrasi TDZ yang digunakan terlalu tinggi. Shirani et al. (2010) menyatakan bahwa, konsentrasi TDZ yang terlalu tinggi juga dapat menghambat pertumbuhan dan pengembangan tunas pada fase berikutnya. Pada perlakuan potongan 32 tanpa pemberian TDZ memiliki berat basah lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian 2 ppm TDZ dan 1 ppm TDZ. Pemberian TDZ pada konsentrasi yang terlalu tinggi dapat menghambat pertumbuhan tunas, karena jumlah sitokinin eksogen yang terlalu banyak dapat menghalangi kinerja auksin endogen, sehingga metabolisme tunas tidak seimbang yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tunas. Penambahan TDZ yang terlalu tinggi pada tanaman pisang mengakibatkan terhambatnya proliferasi tunas dan merangsang pembentukan struktur bulat seperti kalus (Arinaitwe et al., 2000).

English Abstract

Pineapple is one of fruit plants with bush form, and its scientific name is Ananas cosmosus (L) Merr. In multiplying pineapple seed, there are some methods, and one of them is vegetative method. Pineapple seed production using cropped fruit crown can boost new varieties multiplying. However, pineapple that are multiplied using micro section crown have low percentage of shoot growth and it takes a long time until the shoot appear. Therefore, plant growth substance is essential to be given to the plant in order to accumulate the growth of super micro section crown. Cytokinin is one of plant growth substances in plant that able to boost deferentiation and cell division. Thidiazuron (TDZ) is one of synthetic phenylurea type cytokinin that has better ability in inducting shoot among other cytokinin, such as zeatin, benzylaminopurin, dan kinetin (Kou et.al dalam Kusmianto, 2008). The hypothesis of this study is that thidiazuron (TDZ) when is used with 2 ppm concentration can boost the number of shoots and make the shoots grow faster in pineapple seed production (Ananas cosmosus (L) Merr.) cv. ‘Smooth Cayenne’ Clon MD 2 that is taken from fruit crown in Great Giant Pineapple Company, Lampung Tengah. This study is conducted in the nursery room of Great Giant Company’s Crop Development, Terbanggi Besar, Central Lampung. This study is started in January 2016 until March 2016. The design of this study is Randomized Factorial Block Design that is consisted of six types of treatments with two factors and is repeated four times. The first factor is thidiazuron (TDZ) concentration with three levels; 0 ppm, 1 ppm, and 2 ppm. The second factor is the number of section in two levels; 32 sections and 64 sections. Observation is done in 1 week after planting (WAP) until 10 WAP with 5 parameters; age in which the shoot appears, percentage of shoot growth, number of shoot, wet weight and the length of roots. The data of this study is analyzed with Randomized Factorial Block Design analysis of variance (ANOVA) in 5% level. If the result of the analysis shows distinct differences, it will be continued with comparison test of each treatment with using Duncan’s Multiple Rate Test (DMRT) in 5% level. The result of the observation shows that shoots are growing faster in planting material with 32 sections compared to the planting material with 64 sections. The crown’s thickness of planting material with 32 sections is thicker than 64 sections. Thicker crown have more food reserves, thus the cuttings can grow shoots. As cited from Hartmann et.al (2002), the difference on the carbohydrate type and variability are directly affecting cuttings ability to make roots and shoots. The diameter of the cuttings stem is depending on the number of available food reserves. The absence of roots in the early growth of cuttings forces cuttings to use the food reserves from stem (Panjaitan et al, 2014). The treatment towards sections is significantly affecting age in which the shoot appears, percentage of shoot growth, number of shoot, wet weight of shoot. The best treatment came from 32 sections because it has higher percentage of shoot growth and more shoots.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2016/342/ 051606659
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Kustati
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/131333
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item