BKG

Pratama, RikoAditya (2016) Tingkat Toleransi Beberapa Varietas Mentimun (Cucumis sativus L.) Terhadap Cekaman Salinitas. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Produksi mentimun nasional dari tahun 2009 hingga tahun 2013 mengalami penurunan dari 583.139 ton menjadi 491.636 ton. Penurunan ini disebabkan oleh keterbatasan lahan dalam pengembangan mentimun sebagai akibat dari konversi penggunaan lahan. Untuk mengatasi hal ini maka lahan pesisir atau lahan yang mengandung garam perlu diusahakan agar produksi mentimun terus meningkat. Namun permasalahan yang ada pada lahan tersebut adalah tingkat salinitas yang tinggi sebagai pembatas abiotik untuk tanaman dapat tumbuh dengan baik. Menurut Malik, Li, Lou, Weng, Chen, (2010); Tiwari, Kumar, Kaur, Kaur, Kaur, (2011) batas toleransi garam pada setiap pertumbuhan genotip tanaman mentimun adalah sebesar 2.5 dS m-1 yang menyebabkan penurunan hasil sebanyak 13%. Peningkatan salinitas mempengaruhi pertumbuhan terutama oleh penurunan kemampuan tanaman dalam menyerap air (Hill dan Koenig, 1999). Hal tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Abu-Zinada (2015) peningkatan tingkat konsentrasi salinitas semakin menurunkan jumlah buah, berat buah segar, hasil relatif, tinggi tanaman, berat segar daun dan berat segar akar. Peningkatan salinitas mencapai 4000 mg NaCl/liter atau 6.25 dS m-1 dapat menurunkan dan menghambat perkecambahan (Helmy, El-Abd, Singer, 1994). Pengujian beberapa komoditas terhadap salinitas perlu dilakukan dengan konsentrasi salinitas yang lebih tinggi pada varietas hibrida dan lokal mentimun untuk mengetahui tingkat toleransi sehingga varietas-varietas yang toleran dapat digunakan sebagai solusi untuk meningkatkan produksi mentimun nasional pada lahan yang mengandung garam. Rancangan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RAL) dan Rancangan Petak Terbagi (RPT). RAL digunakan dalam penelitian di laboratorium pada fase perkecambahan, sedangkan RPT digunakan di greenhouse untuk fase vegetatif–panen, yang terdiri dari 6 varietas sebagai anak petak dan 3 perlakuan dengan tingkat pemberian salinitas sebagai petak utama. Terdapat 18 satuan kombinasi perlakuan yang akan diulang sebanyak 3 kali sehingga didapat sebanyak 54 satuan percobaan. Masing masing satuan percobaan terdiri dari 4 tanaman sehingga akan didapat 216 populasi tanaman mentimun. Varietas yang digunakan antara lain 3 varietas hibrida yaitu Mercy (V1), Metavy (V2), Monza (V3) dan 3 varietas lokal yaitu Lokal Blitar (V4), Lokal Jember (V5), dan Lokal Panda (V6). Kemudian untuk konsentrasi larutan NaCl yang digunakan terdiri dari 3 taraf antara lain adalah S1 : 0 ppm (control), S2 : 5000 ppm, dan S3 : 10000 ppm. Untuk mendukung penelitian ini dibutuhkan alat-alat antara lain polybag, EC meter, oven, sekop/cangkul, ii timbangan analitik, Chlorohylmeter SPAD-502, jangka sorong, penggaris/meteran, gelas ukur, germinator, kamera, tali raffia, ajir, kertas merang, petridish, pipet. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga, panjang buah, jumlah buah, berat buah, jumlah bunga jantan, jumlah bunga betina, kadar klorofil, fruit-set, berat kering tanaman, panjang akar, electric conductivity meter. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan indeks cekaman, indeks toleransi, dan indeks toleransi cekaman serta akan dihitung penurunan hasilnya. Dari hasil penelitian didapat beberapa karakter yang dipengaruhi oleh tingkat salinitas dengan berbagai cekaman antara lain cekaman ringan, cekaman sedang maupun cekaman berat. Karakter yang mengalami cekaman ringan pada tingkat salinitas sedang (S1) antara lain adalah panjang tanaman, jumlah daun, kadar klorofil, umur berbunga, jumlah bunga jantan, jumlah bunga betina, umur panen, jumlah buah, berat buah, diameter buah, panjang buah, fruit-set, kadar air buah, berat kering daun, berat kering barang dan panjang akar. Sedangkan yang mengalami cekaman sedang antara lain adalah panjang hipokotil, panjang akar kecambah, dan berat kering akar. Kemudian karakter yang mengalami cekaman ringan pada tingkat salinitas tinggi (S2) antara lain panjang tanaman, umur berbunga, jumlah bunga jantan, umur panen, panjang buah dan fruit-set, serta panjang akar. Sedangkan karakter yang mengalami cekaman sedang antara lain jumlah daun, kadar klorofil, jumlah bunga betina, jumlah buah, kadar air buah, berat kering akar, berat kering daun dan berat kering batang. Karakter yang mengalami cekaman berat yang digunakan sebagai penanda dalam cekaman salinitas antara lain adalah panjang hipokotil, panjang akar kecambah, diameter buah dan berat buah. Dari hasil pengujian menggunakan indeks toleransi didapat bahwa varietas yang toleran terhadap cekaman salinitas adalah dengan tingkat salinitas sedang (5000 ppm) adalah Lokal Panda, diikuti oleh Metavy dan Lokal Blitar, kemudian dengan kriteria semi toleran antara lain adalah Mercy dan Monza. Selanjutnya pada tingkat salinitas tinggi (10000 ppm) dalam menentukan karakter penanda terhadapa cekaman salinitas yaitu berdasarkan karkater diameter buah, sehingga didapat varietas dengan kriteria semi toleran adalah Lokal Blitar, Lokal Panda dan Mercy, sedangkan varietas tidak toleran adalah Metavy, Monza dan Lokal Jember.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2016/22/05160268
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/131198
Text
Skripsi_Riko_Aditya_Pratama_115040200111107.pdf
Restricted to Repository staff only

Download

Actions (login required)

View Item View Item