BKG

Yasin, Muh (2016) Keragaman Genetik Hasil Aplikasi Kolkhisin Pada Tanaman Jeruk Siam Cv. Pontianak (Citrus Nobilis) Secara Morfologi Dan Molekuler. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Jeruk merupakan salah satu buah utama di Indonesia. Dibandingkan dengan buah-buahan lainnya jeruk memiliki kandungan vitamin C yang tinggi serta jeruk juga merupakan tanaman yang mudah tumbuh diberbagai agroklimat. Hal ini dibuktikan produksi tanaman jeruk Siam/Keprok semakin meningkat dari tahun 2010 (267.061 t), 2011 (315.133 t), 2012 (362.680 t) dan 2013 (514.855 t) (Anonim, 2014). Meskipun terjadi peningkatan produksi dari tahun 2010 – 2013, produksi jeruk domestik masih dapat dikatakan belum memenuhi kebutuhan domestik. Peningkatan produksi buah jeruk, dapat dilakukan oleh pemulia dengan cara meningkatkan kualitas buah jeruk seperti ukuran buah, jumlaah buah percabang dan lain-lain, sehingga mampu untuk memenuhi kebutuhan domestik. Peningkatan produksi tanaman dapat dilakukan secara konvensional dengan persilangan dan secara inkonvensional yaitu dengan melakukan mutasi sehingga dapat meningkatkan keragaman tanaman. Perbaikan varietas dan peningkatan varian tanaman dapat dilakukan dengan pengaplikasian kolkhisin sehingga tanaman menjadi poliploidi karena kromosom yang berada dalam tanaman mengganda (Martasari, 2008 ; Nasir, 2001). Poliploidisasi dapat memperbaiki sifat tanaman yang kurang baik (Sulistianingsih, 2004). Penggandaan kromosom atau tanaman poliploidi menyebabkaan tanaman akan lebih besar dan lebih vigor. Pengaruh yang terjadi dari aplikasi kolkhisin pada tanaman jeruk Siam Pontianak dapat diketahui dengan melakukan analisis keragaman genetik. Analisis keragaman genetik tanaman dapat dilakukan secara morfologi dengan pengamatan langsung terhadap fenotip maupun dengan menggunakan marka molekuler (Kurniasih et al., 2011). Keuntungan dalam penggunaan penanda molekuler ialah dapat digunakan untuk menganalisis keragaman genetik tanaman dan tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan (Handayani et al., 2006). Marka ISSR menghasilkan tingkat polimorfisme dan memperlihatkan keragaman genetik yang lebih tinggi (Agisimanto, Martasari, dan Supriyanto, 2006). Karena ISSR merupakan metode yang sederhana dan cepat, yang mengkombinasikan keuntungan SSR dan AFLP dan keuniversalan RAPD (Suryatini, 2011). Penelitian ini bertujuan mengetahui keragaman genetik tanaman hasil aplikasi kolkhisin berdasarkan marka morfologi dan marka molekuler pada tanaman jeruk Siam Pontianak. Hipotesis terdapat keragaman genetik tanaman hasil aplikasi kolkhisin pada tanaman jeruk Siam Pontianak secara morfologi dan molekuler. Penelitian ini dilaksanakan di kebun dan di laboratorium pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Tlekung, Batu, Malang Jawa Timur mulai bulan April sampai Juni 2015. Alat-alat yang digunakan yaitu: alat tulis, pengaris, kamera, microwave, stirer, autoclave, pipet, vortex, mikropipet, spektofotometer, gunting, gelas ukur mikrotube steril, tabung ukur, mesin elektroforesis, timer, sarung tangan, kertas label, masker, dan mesin pendingin. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun muda jeruk Siam cv. Pontianak, dan 18 tanaman hasil aplikasi kolkhisin yang berumur 8 ii tahun, Cetyl Trimetil Amin Bromide (CTAB), Ethylene Diamine Tetraacetic Acid (EDTA), Tris-HCL, Polyvinil Pyrolidone (PVP), akuades steril, β mercaptoethanol, NaCL, Alkhohol 70%, PCR core kit II (promega), IAA dan primer ISSR. Pendugaan keragaman tanaman jeruk berdasarkan karakter kuantitatif menggunakan analisis koefisien keragaman genetik. Data kualitatif dan hasil pita DNA yang telah didapat dilakukan tranformasi data dengan mengubanya mejadi data biner, kemudian dikelompokkan menurut kemiripan dari masing-masing ada atau tidak pita DNA dan dianalisis dengan menggunakan SAHN clustering dengan metode UPGMA. Secara morfologi perbedaan karakteristik tanaman hasil aplikasi kolkhisin dengan tanaman jeruk Siam cv. Pontianak ditunjukkan pada karakter duri dan bentuk daun. Analisa secara morfologi ditunjukkan pada dendogram yang menghasilkan 2 kelompok pada jarak genetik 68,3%. Secara molekuler diperoleh 18, 5, 13 dan 8 pita polimorfisme yang dihasilkan oleh 4 primer ISSR yang digunakan. Primer ISSR yang digunakan sangat informatif karena nilai dari PIC >50%. Hasil dendogram dari analisa molekuler menunjukkan 2 kelompok pada jarak genetik 71%.

English Abstract

Orange is one of the important fruits in Indonesia. Compared with other fruits, orange has high vitamin C and it can grow easily on various agro climate. This is proven on the production of Siam orange/Tangerine crop that has increase from 2010 (267.061 t), 2011 (315.133 t), 2012 (362.680 t) to 2013 (514.855 t) (Anonymous, 2014). Although it has been increased from 2010 until 2013, orange’s production still can’t fulfill domestic’s needs. The increment production of orange could be conducted by breeders by raising the quality of orange, such as size fruit, number of fruit per branch, and others, so that it can fulfill the domestic’s needs. To increase the production of a crop, it can be done in conventional manner by crossing and unconventional one by mutating, so that it can increase the diversity of plants. Giving colchicines application to make polyploidy plant because of the doubled chromosome can be one way to improve varieties and increase variation of plants (Martasari, 2008; Nasir, 2001). Doubled chromosome or polyploidy plants make plants become bigger and more vigor. The influence that has been occurred from colchicines application in Siam cv. Pontianak orange plant was identified by analysis genetic diversity. Plant’s genetic diversity analysis can be done by observing the morphology characters directly to the plant’s phenotype and by using molecular marker (Kurniasih et al., 2011). The benefit of molecular marker is it can be used to analyze plant’s genetic diversity and it isn’t influenced by environmental factors (Handayani et al., 2006). ISSR marker generates a level of polymorphism and shows higher genetic diversity (Agisimanto, Martasari and Supriyanto, 2006). ISSR is the simple and fast method which combine the advantage of SSR and AFLP and whole of RAPD (Suryatini, 2011). The purpose of this research is to know genetic diversity of plants which was the results of application colchicines based on morphology and molecular marker in Siam cv. Pontianak orange. Hypothesis there are genetic diversity of plants which was the result of application colchicines in Siam cv. Pontianak orange plants by morphological and molecular marker. This research was conducted in the garden and laboratory of Breeding Institute Research Plants of Orange and Subtropica’s Fruits Tlekung, Batu, Malang, East Java from April to June 2015. Tools that used in this research, were: stationary, ruler, camera, microwave, stirrer, autoclave, pipet, the vortex, micropipette, spectrophotometer, scissors, a measuring glass micro tube sterile, measuring tube, electrophoresis machine, timer, gloves, paper labels, a mask and freezer. Materials that used in this research were: young leaves of Siam cv. Pontianak orange, 18 orange plants as the results of colchicines application which was eight years old, Cetyl Trimethyl Amen Bromide (CTAB), Ethylene Diamine Tetraacetic Acids (EDTA), Tris-HCl, Polyvinil Pyrolidone (PVP), aquades sterile, mercaptoethanol, NaCl, alcohol 70%, PCR core kit II (promega), IAA and ISSR primer. Estimation the variety of orange plants was based on quantitative characters by using coefficient iv genetic diversity analysis. Qualitative data and results of the DNA ribbon which has been obtained, were transformed by changing the data to the binary data. Then the binary data were classified according to the presence of DNA ribbon and it were analyzed by using SHAN clustering with the UPGMA method. The difference of morphological characteristics of plants which was the result of colchicines application with Siam cv. Pontianak orange was shown in spine and leaf shape characters. The dendogram showed an analysis morphological that resulted two groups at the genetic distance as much as 68.3%. Molecular analysis that have been done, obtained 18, 5, 13 and 8 polymorphism ribbons that were produced by 4 ISSR Primer. ISSR Primer that had been used was very informative because the value of PIC was more than 50%. The results of dendogram from molecular analysis showed two groups at genetic distance 71%.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2016/127/ 051604069
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Kustati
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/131097
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item