BKG

Alfikri, AhmadLabib (2015) Cara Aplikasi Biourin Terhadap Pengurangan Pupuk Anorganik Pada Pertumbuhan Tanaman Anyelir (Dianthus caryophillus L). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Anyelir merupakan tanaman hias yang sangat digemari di Indonesia. Selain harga yang relatif stabil, anyelir juga merupakan komoditas bunga potong yang memiliki nilai ekonomi tinggi, secara kultural telah diterima oleh masyarakat, serta dapat diusahakan baik di lahan yang relatif sempit maupun untuk dibudidayakan dalam skala agribisnis (Aisyah et al, 2009). Terdapat dua tipe bunga anyelir yaitu spray dan Miniatur. Penanaman bunga anyelir di Colombia sangat besar-besar (41% dari produksi bunga potong yang diusahakan) 1200 ha untuk tipe standar dan 125 ha untuk tipe spray (Larson, 1992). Kelinci adalah hewan herbivora yang cukup unik karena tidak dapat mencerna serat kasar secara baik. Kotoran dan urin kelinci memiliki kandungan unsur N, P, K yang lebih tinggi (2,72%, 1,1%, dan 0,5%) dibandingkan dengan kotoran dan urin ternak lainnya seperti kuda, kerbau, sapi, domba, babi dan ayam (Wiguna, 2010). Dari beberapa uji coba pemanfaatan pupuk cair berbahan baku urine kelinci untuk pemupukan tanaman mentimun, kacang panjang, gambas dan cabe hasilnya bisa meningkat antara 20 s/d 100% (Widodo, 2009). Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan cara aplikasi biourin dan dosis NPK terbaik yang dapat meningkatkan jumlah bunga, pengaruh biourin terhadap pertumbuhan tanaman anyelir dan pengurangan NPK pada budidaya tanaman anyelir. Hipotesis penelitian ini ialah pemberian biourin dan dosis NPK terbaik dapat meningkatkan jumlah bunga. Pemberian biourin dengan cara siram dapat mengurangi penggunaan NPK pada budidaya tanaman anyelir. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2014 sampai Oktober 2014 di Dusun Dadapan Desa Pandanrejo Bumiaji Kota Batu Provinsi Jawa Timur. Desa Pandanrejo terletak 6 km dari pusat Kota Batu, 24 km dari Kota Malang dan jarak dari Ibu Kota Propinsi sekitar 133 km (Anonymous, 2015). Lokasi penelitian berada di lereng Gunung Arjuno dengan ketinggian 800 m di atas permukaan laut yang tergolong dataran tinggi dengan curah hujan 2471 mm tahun-1 hingga 1900 mm tahun-1, suhu rata-rata 21,5 oC dengan temperatur tertinggi 27,2 oC dan terendah 14,9 oC, kelembaban udara rata-rata 86%, kecepatan angin 10,72 km/jam dan pH 5,0-7,0 (Anonymous, 2015). Rancangan yang digunakan pada percobaan ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yaitu cara pemberian biourin dan dosis NPK yang terdiri dari 9 perlakuan: C0 = Urea 1 g + NPK 1 g/l sebagai kontrol; C1 = Biourin semprot + NPK 1 g/l; C2 = Biourin semprot + NPK 0,75 g/l; C3 = Biourin semprot + NPK 0,5 g/l; C4 = Biourin semprot; C5 = Biourin siram + NPK 1 g/l; C6 = Biourin siram + NPK 0,75 g/l; C7 = Biourin siram + NPK 0,5 g/l C8 = Biourin siram. Dari 9 perlakuan diulang tiga kali menjadi 27 unit perlakuan, setiap unit perlakuan terdiri dari 10 polybag pertanaman. Pengamatan pertumbuhan dilakukan dengan mengamati sepuluh tanaman contoh untuk setiap perlakuan pada saat tanaman berumur 28, 35, 42, 49, 56 dan 63 hst. Parameter yang diamati dalam pengamatan non destruktif meliputi: (1) Tinggi tanaman, diukur dengan menggunakan penggaris, mulai dari permukaan tanah hingga titik tumbuh; (2) Jumlah cabang, dihitung dari setiap tanaman pada polybag; (3) Jumlah daun, pengamatan dilakukan pada daun yang sudah berkembang dan membuka sempurna dari setiap tanaman pada polybag; (4) Jumlah bunga pertangkai, dihitung pada bunga yang sudah membuka sempurna pada setiap tangkai tanaman pada satu polybag; (5) Diameter bunga; diukur pada bunga yang sudah membuka sempurna; (6) Jumlah bunga pertanaman, dihitung pada bunga yang sudah membuka sempurna pada setiap tanaman dalam satu polybag. Parameter yang diamati dalam pengamatan destruktif meliputi: (1) Luas daun, ditentukan dengan menggunakan LAM (Leaf Area Meter). Cara mengukur masing-masing luas daun dengan cara meletakkan daun pada LAM. Daun yang diukur luasnya ditunjukkan dalam display. Daun yang diambil pada pengukuran luas daun sebanyak 10 daun dari setiap masing-masing bagian daun paling bawah, tengah dan atas. Kemudian hasil dari 10 sample daun yang diambil pada setiap bagian daun dirata-rata dan dikalikan setiap jumlah daun pertanaman sehingga akan didapatkan luas daun; (2) Indeks luas daun, indeks luas daun (ILD), yang menunjukkan nisbah antara luas daun dengan luas tanah yang dinaungi. Biourin siram + NPK 1 g/l menghasilkan rata-rata jumlah bunga pertanaman paling banyak dan terus mengalami peningkatan mulai dari 49, 56 dan 63 hst dibandingan dengan perlakuan lainnya. Komposisi biourin dengan NPK pada tanaman anyelir meningkatkan jumlah bunga pertanaman pada pemberian biourin siram + NPK 1 g/l sebanyak 659,93% dibandingkan dengan tanpa pemberian biourin. Komposisi biourin dengan NPK pada tanaman anyelir meningkatkan luas daun pada pemberian biourin semprot + NPK 1 g/l sebanyak 25,85% dan biourin siram + NPK 1 g/l sebanyak 30,04% dibandingkan dengan tanpa pemberian biourin. Penggunaan NPK 1 g/l pada semua pemberian biourin dapat meningkatkan luas daun sehingga jumlah bunga pada tanaman akan meningkat dari pada penggunaan NPK 0,75 g/l, 0,5 g/l dan 0 g.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/994/051602646
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Indah Nurul Afifah
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/131050
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item