BKG

Agnestika, IntanKartika (2015) Simulasi Panjang Gelombang Cahaya terhadap Kualitas Tanaman Krisan (Chrysanthemum morifolium) Potong. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium) termasuk salah satu hortikultura hias dari famili Asteraceae yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan prospek bisnis yang cukup baik, sehingga permintaan krisan semakin meningkat didukung dengan jumlah produksi krisan tiap tahun. Banyaknya permintaan krisan potong didukung dengan banyaknya sentra produksi dan budidaya krisan di Indonesia, maka dapat dipastikan bahwa krisan masih akan terus diminati dalam beberapa jangka waktu ke depan. Namun, Sanjaya et al. (2004) menyatakan bahwa bunga yang dihasilkan petani krisan di Indonesia bermutu rendah. Krisan merupakan tanaman berhari pendek dimana krisan akan tetap tumbuh vegetatif bila panjang hari yang diterimanya lebih dari batas kritisnya (Salisbury dan Ross, 1995), sehingga dalam budidaya krisan perlu dilakukan modifikasi lingkungan berupa penambahan cahaya dengan menggunakan lampu pada malam hari agar dapat menghasilkan krisan yang sesuai dengan kriteria permintaan pasar. Perbedaan kualitas cahaya akan mempengaruhi kualitas tanaman krisan itu sendiri karena memiliki panjang gelombang tertentu yang dapat diserap oleh tanaman. Panjang gelombang cahaya berkorelasi dengan spektrum warna pada cahaya tampak, dimana masing-masing warna pada spektrum warna memiliki interval panjang gelombang. Dengan demikian, diharapkan simulasi pemberian cahaya tambahan dengan berbagai panjang gelombang dapat meningkatkan kualitas pada tanaman krisan potong. Tujuan dari penelitian ini mempelajari pengaruh berbagai panjang gelombang cahaya terhadap kualitas tanaman krisan potong dan mengetahui panjang gelombang cahaya yang sesuai untuk meningkatkan kualitas tanaman krisan potong. Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Juli 2015 di screen house petani mitra PT. Inggu Laut Abadi di Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur dengan ketinggian ± 800 m dpl dengan topografi berbukit, struktur tanah remah, curah hujan berkisar antara 2400 mm/tahun, suhu udara berkisar antara 18-24 °C dengan kelembaban nisbi udara 86 %. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi cangkul, ember, tugal, selang, sprayer, jaring penegak tanaman atau net, lampu TL berdaya 20 watt, luxmeter, penggaris, meteran, jangka sorong, Royal Horticulture Colour Chart, mulsa hitam, gunting panen, papan label, bahan plastik warna merah, kuning, dan biru, alat tulis, dan kamera digital. Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian meliputi bibit krisan varietas Fiji putih, Fiji kuning, dan Fiji pink yang berasal dari stek pucuk umur 2 mst, pupuk kandang sapi, pupuk NPK (16:16:16), air, dan pestisida. Penelitian menggunakan Rancangan Tersarang dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yakni simulasi panjang gelombang cahaya (L) yang diaplikasikan dengan perbedaan warna cahaya yang terdiri dari L1 = lampu dengan plastik merah, L2 = lampu dengan plastik kuning, dan L3 = lampu dengan plastik biru, dan faktor kedua adalah varietas tanaman krisan (V) yang terdiri dari V1 = varietas Fiji putih, V2 = varietas Fiji kuning, dan V3 = varietas Fiji pink. Dari kedua perlakuan diperoleh 9 kombinasi perlakuan dan 3 kali ulangan dengan populasi 36 tanaman pada masing-masing perlakuan per ulangan dengan ukuran petak 90 x 40 cm. Pada penelitian terdapat tiga macam pengamatan, antara lain pengamatan pertumbuhan secara non destruktif, ii pengamatan panen, dan pengukuran panjang gelombang cahaya. Pengamatan non destruktif meliputi tinggi tanaman (cm), diameter batang (cm), jumlah daun (helai/tanaman), dan luas daun (cm2/tanaman) yang diamati pada 14, 28, 42, 56, 70, dan 84 hst, jumlah ruas batang yang diamati saat panen, serta saat inisiasi bunga dan saat coloring (hst) yang diamati berdasarkan kondisi mekarnya bunga. Pengamatan panen meliputi panjang tangkai (cm), diameter bunga (cm), umur panen (hst), lama kesegaran bunga (hsp), dan warna bunga. Pengukuran panjang gelombang cahaya pada masing-masing lampu dilakukan dengan metode kisi difraksi sebelum kegiatan penelitian dimulai. Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) dengan taraf 5 %. Apabila terdapat pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf 5 %. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara perlakuan panjang gelombang cahaya dan varietas tanaman krisan potong terhadap tinggi tanaman dan diameter bunga. Pengaruh panjang gelombang cahaya berpengaruh nyata terhadap parameter waktu inisiasi bunga, waktu coloring, panjang tangkai, dan lama kesegaran bunga, sedangkan perbedaan varietas tanaman krisan potong berpengaruh nyata terhadap parameter lama kesegaran bunga. Varietas Fiji putih yang ditanam pada lingkungan yang diberi lampu dengan plastik kuning, varietas Fiji kuning dan varietas Fiji pink yang ditanam pada lingkungan yang diberi lampu dengan plastik merah memberikan tinggi tanaman yang lebih tinggi dibandingkan yang lain dengan tinggi tanaman berturut-turut 78,42 cm, 78,54 cm, dan 84,38 cm. Namun, varietas Fiji kuning yang ditanam pada lingkungan yang diberi lampu dengan plastik biru (8,41 cm) dan varietas Fiji putih yang ditanam pada lingkungan yang diberi lampu dengan plastik kuning (7,64 cm) menunjukkan diameter bunga yang lebih lebar dibandingkan yang lain. Pemberian cahaya warna cahaya warna merah menghasilkan panjang tangkai lebih panjang (78,79 cm) dan kesegaran bunga lebih lama (15,50 hsp), sedangkan pemberian cahaya warna biru menghasilkan waktu inisiasi bunga (47,08 hst) dan waktu coloring (83,42 hst) lebih cepat. Varietas Fiji putih memiliki kesegaran bunga yang lebih lama dibandingkan varietas Fiji kuning dan Fiji pink. Varietas Fiji putih, Fiji kuning, dan Fiji pink memberikan kualitas bunga dengan kelas mutu AA apabila ditanam pada lingkungan dengan lampu yang diberi plastik merah dengan panjang gelombang 503,15-638,60 nm.

English Abstract

Chrysanthemum (Chrysanthemum morifolium) is one of horticulture comodity from Asteraceae family which has high economic value and pretty good prospecting in business, so the demand grow as well supported by the increasing number of its production annually. Highly demand of cut chrysanthemum is supported by highly chrysanthemum’s production center in Indonesia, so it can be planned that its still has high demand few years later. But, Sanjaya et al. (2004) said that chrysanthemum’s quality which produced by Indonesian farmer still low. Chrysanthemum is a short day plant that will be grown in vegetative phase when the long day of its receipt more than critical limits (Salisbury and Ross, 1995), therefore on its cultivation is necessary to make an environmental modifications such as the additional light by using lamp at night in order to produce a chrysanthemum in accordance to market demand’s criteria. The differences of the light quality will be influenced on chrysanthemum’s quality because it has specific light wavelength which can absorbed by plant. Wavelength of light is correlated with light spectrum on visible light which each color has each light wavelength interval. So that, simulation of giving additional light with different light wavelength can enhance cut chrysanthemum’s quality. The purpose of this research were study the effect of some light wavelength on cut chrysanthemum’s quality and to know the most appropriate light wavelength to enhance cut chrysanthemum’s quality. This research conducted in April until July 2015 in farmer’s screen house partners with PT. Inggu Laut Abadi in Sub-District Punten, District Bumiaji, Batu City, East Java with ± 800 m asl elevation, with hilly topography, soil crumb structure, rainfall ranges between 2400 mm/year, temperature between 18-24 °C with relative humidity between 86 %. Tools that used in this research were hoe, bucket, timber, hose, sprayer, net, lamp with 20 watt power, luxmeter, ruler, roll-meters, calipers, Royal Horticulture Colour Chart, black mulch, harvest scissors, board labels, plastic materials in red, yellow, and blue, stationary, and digital camera. Materials that used in this research include chrysanthemum seeds variety Fiji white, Fiji yellow, and Fiji pink with cuttings age 2 wap, cow manure, NPK fertilizer (16:16:16), water, and pesticide. This research used Nested Design with 2 factors and 3 replications. The first factor was simulation of the light wavelength (L) which applicated with the difference of light color consisted L1 = lamp with plastic in red, L2 = lamp with plastic in yellow, and L3 = lamp with plastic in blue, and the second factor was chrysanthemum variety (V) which consist V1 = Fiji white variety, V2 = Fiji yellow variety, and V3 = Fiji pink variety. Based on the treatment, obtained 9 treatments combination and 3 replications with 36 population of plants each treatment on each replication with the size of the slot was 90 x 40 cm. There were three kinds of observation in this research, these were growth observation with non destructive method, harvest observation, and light wavelength measurement. Non destructive observation include height of plant (cm), diameter of stem (cm), number of leaves (sheet/plant), and leaf area (cm2/plant) that observed on 14, 28, 42, 56, 70, and 84 dap, number of nodes that observed on harvest time, and days to flowers initiation and coloring (dap) that observed by the blooms iv condition. Harvest observation include length of stem (cm), flowers diameter (cm), age of harvesting (dap), freshness of the flowers (dah), and color of the flower. Measuring wavelength of light on each lamp conducted with difraction method before the research started. Data had been analyzed was using analysis of variance test (F test) with 5 % level. If there was a significant effect then followed by Least Siginificance Difference (LSD) at 5 % level. This research showed that there are interactions between light wavelength and cut chrysanthemum’s variety treatment on height of plant and flowers diameter. Light wavelength treatment has a significant effect on days to flowers initiation and coloring, length of stem, and freshness of the flowers, but cut chrysanthemum’s variety has a significant effect just on freshness of the flowers. Fiji white variety which planted in yellow color light, Fiji yellow and Fiji pink variety which planted in red color light give longer height of plant respectively 78,42 cm, 78,54 cm, and 84,38 cm. But, Fiji yellow variety which planted in blue color light (8,41 cm) and Fiji white variety which planted in yellow color light (7,64 cm) give wider flower diameter than others. Red color light give longer length of stem (78,79 cm) and longer freshness time (15,50 dah), while blue color light give faster days to flower initiation (47,08 dap) and coloring (83,42 dap). Fiji white variety give longer freshness time than Fiji yellow and Fiji pink variety. Cut chrysanthemum variety Fiji white, Fiji yellow, and Fiji pink give flower quality with grade AA if planted on lamp with plastic in red environment with 503,15-638,60 nm wavelength of light.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/871/ 051509693
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Kustati
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130915
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item