BKG

Wulandari, PancaAyu (2015) Upaya Peningkatan Pembungaan Dan Hasil Polong Pada Tiga Genotip Kecipir (Psophocarpus Tetragonolobus L.). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) adalah salah satu dari kekayaan hayati Indonesia. Daerah asal dari tanaman kecipir ini belum diketahui secara jelas, namun terdapat empat tempat yang diduga sebagai daerah asal tanaman tersebut, yaitu Papua Nugini, Mauritus, Madagaskar, dan India. Daerah dataran tinggi Papua Nugini yang menjadi pusat keragaman dari tanaman kecipir (Herath, 1993). Produksi tanaman kecipir lebih unggul jika dibandingkan dengan tanaman kacang tanah dan kedelai, hanya saja kecipir tidak dibudidayakan secara luas seperti kedua tanaman tersebut. Potensi kecipir memberikan celah atau peluang untuk mengembangkan secara lebih terarah potensi komoditas ini. Usaha–usaha pengembangan komoditas tersebut antara lain melalui pemuliaan tanaman dan perbaikan teknik budidaya tanaman yang keduanya dapat dilakukan secara simultan. Daun dan sulur yang berjumlah banyak tanpa didukung dengan hasil produksi yang berlimpah menjadi salah satu kendala dalam budidaya tanaman kecipir. Salah satu teknik budidaya yang telah lama dikenal adalah pemangkasan (pruning). Selain pemangkasan upaya intensifikasi dalam memperbaiki kualitas dan kuantitas bunga serta hasil produksi tanaman kecipir juga dapat dilakukan dengan cara pemberian ZPT. Jumlah polong yang dihasilkan pada setiap tanaman kecipir bergantung pada jumlah bunga yang dapat dihasilkan oleh tanaman tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pembungaan dan hasil polong pada tiga genotip tanaman kecipir melalui upaya pemangkasan dan pemberian ZPT (GA3). Hipotesis yang diajukan ialah terdapat perbedaan peningkatan pembungaan dan hasil polong kecipir antara tanaman kontrol, tanaman yang dipangkas, dan tanaman yang diberi ZPT GA3. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Jatikerto, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada bulan Februari-Agustus 2015. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah tali rafia, cangkul, meteran, gembor, timbangan analitik dua desimal, gelas ukur, sprayer, jangka sorong, ajir, gunting, kamera digital, dan alat tulis. Bahan yang digunakan adalah 3 genotip tanaman kecipir terseleksi (Galur UB 1, Black Wates, dan Brown Wates), aquades, Asam Gibberellin (GA3) 40 ppm, kertas label, pupuk kandang, pupuk Urea, SP36, KCl, pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Metode penelitian yang digunakan adalah metode blok tunggal dengan menanam 3 genotip di lingkungan penanaman yang sama. Pada setiap genotip terdapat 3 perlakuan sebagai upaya peningkatan pembungaan dan mengurangi cabang tidak produktif. Ketiga perlakuan tersebut adalah tanpa pemangkasan dan aplikasi ZPT atau sebagai tanaman kontrol (P0), tanaman dengan pemangkasan (P1), dan tanaman dengan aplikasi ZPT (P2). Pengamatan dilakukan pada seluruh tanaman kecipir yang ditanam setelah memasuki fase generatif. Variabel pengamatan terdiri dari umur berbunga (HST), jumlah bunga, jumlah bunga rontok, jumlah polong pertanaman, bobot polong pertanaman (kg), ii diameter polong (cm), dan panjang polong (cm). Data yang telah diperoleh dari setiap variable pengamatan akan dianalisa perbedaan antar pasangan perlakuan yaitu masing-masing perlakuan (kontrol (P0) VS pemangkasan (P1), kontrol (P0) VS aplikasi ZPT (P2), dan pemangkasan (P1) VS aplikasi ZPT (P2)) pada setiap genotip menggunakan Uji T dua kelompok berpasangan dengan taraf 5%. Hasil Uji t menunjukkan nilai yang berbeda nyata untuk variabel umur berbunga (> 2,45) kecuali pada perbandingan perlakuan kontrol (P0) dengan pemangkasan (P1) dan perbandingan perlakuan antara pemangkasan (P1) dengan aplikasi ZPT (P2) pada genotip Black Wates dan Brown Wates. Untuk variabel jumlah bunga hampir keseluruhan perbandingan perlakuan menunjukkan nilai t hitung yang bebeda nyata kecuali perbandingan perlakuan kontrol (P0) dengan pemangkasan (P1) pada genotip Black Wates dan perbandingan perlakuan antara pemangkasan (P1) dengan aplikasi ZPT (P2) pada genotip Brown Wates. Nilai t hitung pada variabel jumlah bunga rontok menunjukkan hasil yang berbeda nyata dalam perbandingan antara perlakuan kontrol (P0) dengan aplikasi ZPT (P2) dan perbandingan perlakuan antara pemangkasan (P1) dengan aplikasi ZPT (P2) pada galur UB 1, dan perbandingan perlakuan kontrol (P0) dengan pemangkasan (P1) serta perbandingan perlakuan antara kontrol (P0) dengan aplikasi ZPT (P2) pada genotip Brown Wates. Jumlah polong menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada perbandingan antara perlakuan kontrol (P0) dengan pemangkasan (P1) pada genotip Black Wates dan Brown Wates. Bobot polong menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada perbandingan antara perlakuan kontrol (P0) dengan pemangkasan (P1) pada genotip Black Wates dan Brown Wates. Nilai t hitung pada diameter polong menunjukkan hasil secara keseluruhan tidak berbeda nyata. Sedangkan untuk panjang polong perbedaan yang nyata hanya ditunjukkan oleh Galur UB 1 dan genotip Black Wates (kontrol (P0) VS aplikasi ZPT (P2) dan pemangkasan (P1) VS aplikasi ZPT (P2)). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan didapatkan kesimpulan bahwa Perlakuan pemberian ZPT GA3 dengan konsentrasi 40 ppm dapat meningkatkan pembungaan dan hasil polong pada tiga genotip tanaman kecipir yang diuji pada variabel pengamatan umur berbunga, jumlah bunga, jumlah polong, dan bobot polong dan masing-masing genotip yang diuji menunjukkan respon yang berbeda terhadap kedua upaya peningkatan pembungaan dan hasil polong yang telah diberikan.

English Abstract

Winged bean (Psophocarpus tetragonolobus L.) is one of the biodiversity of Indonesia. Area of origin of the winged bean plant is not known for certain, but there are four suspected as the origin of the plants, namely Papua New Guinea, Mauritius, Madagascar and India. Highland areas Papua New Guinea is the center of diversity of winged bean plants (Herath, 1993). Winged bean crop production is superior when compared to plant peanut sand soy beans, cow peas just not widely cultivated as the second crop. The magnitude of the potential cow peas, provide a gap or opportunity to develop more targeted potential of this commodity. The efforts to develop among other commodities through plant breeding and improvement of crop cultivation techniques that both can be done simultaneously. Leaves and tendrils which amount to much without the support with abundant production became one of the obstacles in winged bean cultivation. The number of pods produced at each winged bean plant depends on the amount of flower that can be produced by these plants. One technique that has long been known incultivation is pruning. Intensified its efforts in improving the quality and quantity of flowers and winged bean crop production can also be done by giving PGR.The purpose of this research is to increase flowering and pod yield in three genotypes of winged bean plants through pruning and giving PGR (GA3).The proposed hypothesis is there is an improving of flower and pod yield of winged bean between the control plants, the plants are pruned, and plants treated with GA3 PGR. Research was conducted at the experimental field Jatikerto Brawijaya University, Malang, East Java in February to August 2015. The tools used in this study is a rope, hoe, meter, yells, analytical balance two decimals, measuring cups, sprayer, calipers, marker, scissors, digital cameras, and stationery. The research method used is single block method, by planting 3 genotypes in the same environment without the use of replication. At each genotype, there are 3 treatments as an effort to increase flowering, all three treatments are without pruning and plant growth regulator application or as a control plant (P0), plants with pruning (P1), and plants with the application of PGR (P2). Observations will be done on all crops grown winged bean after entering the generative phase. Observation variables include age of flowering (DAP), number of flower, number of flower loss, number of pods each plant, pods weight each plant (kg), pod diameter (cm), and pod length (cm). Data have been obtained from each variable observations will be analyzed the differences between couples treatments, each treatment (control (P0) VS pruning (P1), control (P0) VS PGR applications (P2) and pruning (P1) PGR applications (P2 )) on each genotype using T test two groups paired with a level of 5%. iv T test results showed significantly different values for variable of flowering day (> 2,45) except in comparison Control (P0) VS Pruning (P1) and comparison between pruning (P1) with PGR aplication (P2) in Black Wates and Brown Wates Genotype. For variable of number of flower almost all comparisons showed significantly different t value except in comparison Control (P0) VS Pruning (P1) of Black Wates and comparison between pruning (P1) with PGR aplication (P2) of Brown Wates. For a variable Number of flowers almost all comparative treatments showed t value of the different significantly except comparison control treatment (P0) with pruning (P1) in genotype Black Wates and comparison of treatment between pruning (P1) with the application of PGR (P2) on the genotype Brown Wates. T value in a variable Number of flower loss showed significantly different results in the comparison between the control treatment (P0) with the application of PGR (P2) and comparison of treatment between pruning (P1) with the application of PGR (P2) on Galur UB 1, and the comparison of control treatment (P0) and pruning (P1) and a comparison between the control treatment (P0) with the application of PGR (P2) on the genotype Brown Wates. Number of pods showed results that were not significantly different in the comparison between the control treatment (P0) with pruning (P1) in genotype Black and Brown Wates Wates. Weight of pods showed results that were not significantly different in the comparison between the control treatment (P0) with pruning (P1) in genotype Black and Brown Wates Wates. t value on the diameter of the pod shows the overall results were not significantly different. As for the long pods that the only real difference is indicated by Galur UB 1 and genotype strains Black Wates (control (P0) VS PGR applications (P2) and pruning (P1) VS PGR applications (P2)). Based on the research that has been carried out it was concluded that the treatment is aplication of PGR GA3 with a concentration of 40 ppm can improve flowering and pod yield on the three genotypes winged bean tested at observation variable flowering day , number of flowers , number of pods , and pods weight and each genotype tested showed different responses to the efforts to increase flowering and pod yield that has been given .

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/862/ 051509684
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Kustati
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130905
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item