BKG

Sinaga, AyuSartika (2015) Pengaruh Dosis Kompos Sampah Rumah Tangga Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tiga Varietas Buncis Tipe Tegak (Phaseolus Vulgaris L.). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Peningkatan produksi buncis dapat dilakukan dengan adanya pengembangan buncis di daerah dataran rendah, seperti Jatikerto. Namun, terdapat beberapa kendala dalam pengembangan buncis di daerah dataran rendah, seperti Jatikerto yaitu varietas buncis dan kesuburan tanah yang rendah. Upaya penanganan kendala varietas buncis di daerah dataran rendah dapat dilakukan dengan pemilihan varietas buncis tipe tegak yang cocok dengan lokasi penanaman, terutama di Jatikerto. Sedangkan, upaya penanganan kendala kesuburan tanah yang rendah di daerah dataran rendah, seperti Jatikerto adalah pemupukan terutama dengan pupuk organik. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui varietas dan dosis kompos sampah rumah tangga yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tipe tegak, serta mengetahui interaksi antara varietas dan dosis kompos sampah rumah tangga terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tipe tegak. Hipotesis yang diajukan ialah setiap varietas yang diberikan dosis kompos sampah rumah tangga yang berbeda akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tipe tegak, dan terdapat interaksi antara varietas dan dosis kompos sampah rumah tangga terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tipe tegak. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2015 sampai dengan Juli 2015 di kebun percobaan Universitas Brawijaya, desa Jatikerto, kecamatan Kromengan, kabupaten Malang dengan ketinggian tempat 303 meter dari permukaan laut. Jenis tanah alfisol dengan tekstur lempung liat berdebu. Secara klimatologis, suhu minimum berkisar antara 18 - 21˚ C, suhu maksimum berkisar antara 30 - 33˚ C, dan suhu rata-rata 27-29°C. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang dilakukan dengan percobaan faktorial 3 x 3 yang disusun ke dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah perlakuan varietas yaitu V1 (varietas lokal Karangploso), V2 (varietas lokal Jogja), dan V3 (varietas Balitsa-1). Faktor kedua adalah perlakuan dosis kompos sampah rumah tangga yaitu K1 (kompos sampah rumah tangga 5 ton ha-1), K2 (kompos sampah rumah tangga 10 ton ha-1), dan K3 (kompos sampah rumah tangga 15 ton ha-1). Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah oven, leaf area meter (LAM), penggaris, rol meter, gembor, gunting, cangkul, tugal, kamera digital, dan timbangan analitik. Sedangkan, bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buncis tipe tegak varietas lokal Karangploso, varietas lokal Jogja, varietas Balitsa-1, kompos sampah rumah tangga, pupuk NPK 16-16-16, bahan-bahan yang digunakan pada analisa tanah, dan biopestisida dengan bahan aktif Beauveria bassiana, Pseudomonas sp., Trichoderma sp., Aspergillus sp., dan Bacillus thuringiensis. Parameter yang diamati ialah (1) parameter pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, indeks luas daun, dan bobot kering total tanaman, (2) parameter hasil meliputi jumlah polong per tanaman, jumlah polong per petak, bobot polong per tanaman, bobot polong per petak, dan hasil panen, (3) analisis ii pertumbuhan tanaman meliputi LPT (Laju Pertumbuhan Tanaman) dan IP (Indeks Panen). Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis ragam (Uji F) sehingga didapatkan nilai F hitung yang akan dibandingkan dengan F tabel pada taraf nyata 5%. Sedangkan, untuk mengetahui perbedaan diantara perlakuan dan adanya interaksi diantara perlakuan, dilakukan pengujian lebih lanjut dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5%. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah tidak terdapat interaksi yang nyata antara varietas dan dosis kompos sampah rumah tangga pada semua parameter yang diamati baik parameter pertumbuhan, hasil, dan analisis pertumbuhan tanaman. Perlakuan dosis kompos sampah rumah tangga tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati. Hal ini diduga karena ketersediaan unsur hara dalam tanah bagi tanaman buncis tipe tegak telah tercukupi serta kompos sampah rumah tangga dapat tersedia secara perlahan dan dalam waktu yang relatif lama sehingga efek dari berbagai dosis kompos sampah rumah tangga relatif sama pada parameter pertumbuhan, hasil, dan analisis pertumbuhan tanaman. Sedangkan, perlakuan varietas memberikan pengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati. Dari ketiga varietas yang digunakan, varietas lokal Karangploso dan varietas Balitsa-1 ialah varietas terbaik untuk dikembangkan di daerah dataran rendah, seperti Jatikerto. Hal ini diduga karena varietas lokal Karangploso dan varietas Balitsa-1 lebih mampu beradaptasi dengan baik di daerah Jatikerto dibandingkan dengan varietas lokal Jogja. Selain itu, faktor genetik dan lingkungan juga mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman. Meskipun varietas lokal Jogja dapat tumbuh di daerah Jatikerto, namun pertumbuhan dan hasil dari varietas tersebut belum optimal. Meskipun produksi polong varietas Balitsa-1 hampir sama dengan produksi polong varietas Karangploso, namun produksi polong dari varietas Balitsa-1 yang ditanam di daerah Jatikerto tidak sebaik produksi polong dari varietas Balitsa-1 yang ditanam di daerah Lembang yang memiliki potensi hasil sekitar 18,4-19.0 t ha-1. Dengan demikan, hasil panen per hektar ditunjukkan bahwa produksi varietas lokal Karangploso, varietas Balitsa-1, dan varietas lokal Jogja berturut-turut 16,14 t ha-1, 15,43 t ha-1, dan 10,26 t ha-1.

English Abstract

Increased bush bean production can be done by bush bean development in the lowland areas, such as Jatikerto. However, there are some problems in bush bean development in the lowland areas, that are bush bean variety and the low soil fertility. The problem solving of bush bean variety in the lowland areas can be done by the selection of bush bean varieties that match with planting site, especially in Jatikerto. While, the problem solving of the low soil fertility in the lowland areas, such as Jatikerto is fertilization, especially with organic fertilizer. Therefore, this research was done with purpose for determining the proper variety and household waste compost dose on the growth and yield of bush bean and knowing the interaction between varieties and household waste compost doses on growth and yield of bush bean. The proposed hypothesis were every variety with the various household waste compost doses will have the significantly different on the growth and yield of bush bean and there was interaction between varieties and household waste compost doses on growth and yield of bush bean. This research had been conducted in April 2015 until July 2015 at the experimental farm UB Jatikerto village, Kromengan district, Malang regency with altitude 303 meters above sea level. The soil type is Alfisol with dusty clay loam texture. Climatologically, minimum temperature ranged between 18 - 21˚ C, maximum temperature ranged between 30 - 33˚ C, and the average temperature ranged between 27 - 29˚ C. This research was an experimental research conducted with 3 x 3 factorial experiment arranged in Randomized Block Design (RBD) with two factors and three replications. The first factor was varieties that were V1 (var. local Karangploso), V2 (var. local Jogja), and V3 (var. Balitsa-1). The second factor was compost household waste doses that were K1 compost (compost household waste 5 tons ha-1), K2 (compost household waste 10 tons ha-1), and K3 (compost household waste 15 tons ha-1). The tools used in this research were oven, leaf area meter (LAM), a ruler, roller meter, yells, shears, hoes, tugal, digital cameras, and analytical scale. Meanwhile, the materials used in this study were bush bean var. local Karangploso, var. local Jogja, var. Balitsa-1, household waste compost, fertilizer NPK 16-16-16, the materials used in the analysis of soil, and biopesticides with active ingredients Beauveria bassiana, Pseudomonas sp., Trichoderma sp., Aspergillus sp., and Bacillus thuringiensis. The observed parameters were (1) growth components include plant height, number of leaves, leaf area index, and total plant dry weight, (2) yield components include the number of pods per plant, number of pods per plot, pods weight per plant, pods weight per plot, and yield, (3) plant growth analysis include CGR (Crop Growth Rate) and HI (Harvest Index). Analysis of the data in this research were using analysis of variance (F test) to obtain the calculated F value to be compared with F table at the 5% significance level. Meanwhile, to know the difference between the treatment and the interaction between treatment, further testing was done by using the Least Significant Difference test (LSD) at the 5% significance level. iv The result of this research was there was no significant interaction between varieties and household waste compost doses on all of observed parameters, both growth components, yield components, and plant growth analysis. Household waste compost doses had no significant effect on all of observed parameters. This was presumably because the availability of nutrients in the soil to bush bean had been fulfilled and household waste compost could be available gradually and in a relatively long time, so that the effect of household waste compost doses was relatively equal on growth components, yield components, and plant growth analysis. However, varieties had significant effect on all of observed parameters. From three varieties used, var. local Karangploso and var. Balitsa-1 were the best varieties for developing in the lowland areas, such as Jatikerto. This was presumably because var. local Karangploso and var. Balitsa-1 was better able to adapt well in Jatikerto than var. local Jogja. In addition, genetic and environmental factors also affected plant growth and yield. Although, var. local Jogja can grow in Jatikerto, but the growth and yield of them had not been optimal. Altough the pod production of var. Balitsa-1 was almost equal to the pod production of var. local Jogja, but the pod production of var. Balitsa-1 grown in Jatikerto were not good as the pod production of var. Balitsa-1 grown in Lembang that had the potential yield about 18,4-19,0 t ha-1. So, yield per acre was showed that production of varietas lokal Karangploso, varietas Balitsa-1, dan varietas lokal Jogja were 16,14 t ha-1, 15,43 t ha-1, dan 10,26 t ha-1.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/805/ 051509624
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Kustati
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130842
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item