BKG

Suhaedi, MHasan (2015) Uji Daya Hasil Pendahuluan Hasil Topcross Pada Jagung Inbrida (Zea Mays L.) Generasi S3. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Jagung tidak hanya digunakan sebagai sumber pangan manusia namun juga menjadi komponen terbesar pakan ternak dan industri. Penggunaan varietas unggul dalam budidaya tanaman jagung merupakan salah satu faktor penunjang dalam usaha meningkatkan hasil. Keberhasilan peningkatan produksi jagung sangat tergantung pada kemampuan penyediaan dan penerapan inovasi teknologi yang meliputi varietas unggul dan penyediaan benih bermutu, serta teknologi budidaya yang tepat. Uji daya hasil tanaman jagung sangat penting dilakukan terutama uji daya hasil pendahuluan sebagai langkah awal sebelum varietas unggul dilepas untuk mengetahui potensi produksi galur-galur tanaman yang didapatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui produktivitas galur jagung hibrida hasil topcross, dan mengetahui nilai heritabilitas pada galur jagung hibrida hasil topcross. Hipotesis dari penelitian ini terdapat perbedaan produktivitas galur jagung hibrida hasil topcros yang akan diuji, dan terdapat nilai heritabilitas yang tinggi pada galur jagung hibrida hasil topcros yang diuji. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2014 – Januari 2015 di dusun Selorentek desa Karanganyar kecamatan Kraton kabupaten Pasuruan yang mempunyai ketinggian 12,5 – 25 mdpl, suhu minimum 240 -320 C, dan curah hujan rata-rata dibawah 1500 mm per tahun. Alat yang dipakai dalam penelitian adalah cangkul, sabit, gunting, meteran, penggaris, kamera digital, color chart, tali rafia, timbangan digital, spidol, label, papan nama, kayu, tugal, sprayer, dan ember. Bahan yang digunakan adalah 47 galur jagung hibrida dari hasil persilangan (topcross) generasi S3, jagung varietas Pioneer P21 dan Pertiwi 3 (varietas pembanding), pupuk majemuk NPK (16,16,16), pupuk kandang sapi, pupuk ZA, insektisida, fungisida dan air. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Pada penelitian terdapat 49 perlakuan yang terdiri dari 47 galur jagung hibrida generasi S3 dan 2 varietas pembanding (pioneer P21 dan pertiwi 3). Dalam satu plot untuk setiap galur terdapat 12 tanaman yang ditanam dalam baris tunggal. Variabel pengamatan meliputi panjang daun, lebar daun, tinggi tanaman, umur tassel, umur silk, umur panen, jumlah baris biji pertongkol, diameter tongkol, panjang tongkol, warna kernel, bobot tongkol segar, bobot pipilan pertongkol, bobot 100 biji, rendemen dan Potensi hasil. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5%, apabila terdapat pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNJ dengan taraf 5%. ii Hasil Penelitian menunjukan bahwa terdapa 12 galur yang mempunyai prospek untuk dikembangkan lebih lanjut yang dipilih berdasarkan hasil tertinggi dibandingkan dengan hasil rata-rata dari kedua varietas pembanding Pioneer P21 dan Pertiwi 3 (11.92 ton ha-1). Galur tersebut adalah G4 (12,26 ton ha-1), G6 (12,52 ton ha-1), G8 (12.88 ton ha-1), G9 (12.10 ton ha-1), G10 (12,17 ton ha-1), G13 (12.09 ton ha-1), G24 (13.10 ton ha-1), G35 (12.17 ton ha-1), G36 (12.15 ton ha-1), G40 (12,65 ton ha-1), G46 (12,29 ton ha-1), G47 (13,00 ton ha-1). Perhitungan nilai duga heritabilitas berdasarkan parameter yang diamati, menunjukkan bahwa pada 12 galur terpilih terdapat nilai heritabilitas tinggi yang digunakan sebagai indikator seleksi selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor genetik dibandingkan faktor lingkungan.

English Abstract

Corn is not only used as a source of human food but also became the largest component of industrial and animal feed. The use of superior variety in cultivation of corn is one of the supporting factors in an attempt to improve the results. The succesed in increasing maize production is highly dependent on the ability of the provision and application of technology innovation that includes superior varieties and the provision of quality seeds , as well as proper cultivation technology. The preliminary yield trials of hybrid corn is very important especially preliminary yield trials introduction as a preliminary step before varieties superior released for knowing the potential production of strain plant obtained. The purpose of this research is to know the productivity of corn hybrid strains results topcross, and knowing the value of maize hybrid strains in heritability results topcross. The hypothesis of this research there is a difference in the productivity of corn hybrid strains of the topcros results will be tested, and there is a high value for heritability in hybrid maize strains tested topcros results. This research was carried out in October 2014 – January 2015 in in dry land Kraton District, Pasuruan City. has a height of 12.5 – 25 mdpl, temperature minimum 240-320 C, and rainfall averages below 1500 mm per year. The tools that used in this research is hoe, digital camera, calculation tools, color chart, scissors, writing tools, plant label and sprayer. The material that used in this research is 47 maize hybrid lines from topcross generation S3, variety Pioneer P-21, and Pertiwi 3 as tester. The fertilizer that used in this research is NPK (16:16:16), cow compost, ZA fertilizer, insecticide, and water. This research is using Randomized Block Design (RBD) with 3 replication. In this research there are 49 factors that is 47 maize hybrid lines generation S3 and variety as tester. In a plot, there are 12 plants planted using single row method. Observation parameter is length of leaves, widht of leaves, day of tasseling, day of silikng, day of harvest, cob position, number of seed row, cob diameters, cob lenght, kernel colors, weight of fresh cob, weight seed of cob, weight of 100 seeds, rendement and potential result . The observation data will be analyzed using analysis of variance (F test) at 5% level, if there is a real effect then continued with the HSD (Honestly Significant Difference) test at 5% level. Results of the study show there are 12 strain which has prospects for developed the selected based on the highest average result from the comparison of both varieties Pioneer P21 and Pertiwi 3 (11.92 ton ha-1). These strains were G4 (12,26 ton ha-1), G6 (12,52 ton ha-1), G8 (12.88 ton ha-1), G9 (12.10 ton ha-1), G10 (12,17 ton ha-1), G13 (12.09 ton ha-1), G24 (13.10 ton ha-1), G35 (12.17 ton ha-1), G36 (12.15 ton ha-1), G40 (12,65 ton ha-1), G46 (12,29 ton ha-1), G47 (13,00 ton iv ha-1). The calculation of the value of the heritability parameter based on suspect were observed, indicating that the selected strains on the 12 there are high-value heritability is used as an indicator of the next selection. This indicates that these values are more influenced by genetic factors compared to environmental factors.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/667/ 051507660
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Kustati
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130696
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item