BKG

FARIDA, ZAHROTUNNISAKLAILAEKA (2015) UJI VIGOR DAN VIABILITAS BENIH DUA KLON KARET (Hevea brasiliensis Muell Arg.) PADA BEBERAPA PERIODE PENYIMPANAN. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Tanaman karet adalah tanaman perkebunan yang memegang peranan penting sebagai sumber penghasil devisa negara. Indonesia merupakan negara kedua penghasil karet alami di dunia (sekitar 28% dari produksi karet dunia di tahun 2010), yaitu setelah Thailand (sekitar 30%). Produktivitas lahan karet di Indonesia rendah oleh karena sebagian besar (85%) merupakan perkebunan karet rakyat dengan produktivitas yang masih rendah yaitu kurang dari 800 kg/ha/tahun. Pertumbuhan produksi untuk Indonesia dapat dicapai melalui peremajaan atau penanaman karet baru yang cukup besar. Sejalan dengan itu jumlah bahan tanaman yang dibutuhkan juga semakin banyak. Sehubungan dengan peningkatan kebutuhan karet maka diperlukan teknologi dalam pengusahaan karet. Salah satu komponen teknologi terpenting dalam pengusahaan karet adalah benih. Permasalahan penanganan benih karet yang termasuh benih rekalsitran yaitu dalam periode penyimpanan viabilitas benih cepat menurun sejalan dengan menurunnya kadar air, tidak memiliki masa dormansi, mudah terinfeksi jamur sehingga daya simpannya rendah. Viabilitas benih rekalsitran hanya dapat dipertahankan beberapa minggu atau bulan saja, meskipun disimpan pada kondisi optimum. Penyimpanan benih karet bertujuan untuk mempertahankan viabilitas benih dengan menciptakan kondisi lingkungan simpan yang optimum. Kondisi ini diperlukan agar benih tidak berkecambah dan busuk atau berjamur dalam penyimpanan dan mampu berkecambah setelah periode penyimpanan. Usaha penyimpanan benih di Indonesia pada umumnya masih dilakukan pada kisaran suhu diatas 20oC. Penyimpanan pada ruang berpendingin dapat mempertahankan daya kecambah benih sampai dua bulan. Penyimpanan benih lebih dari dua bulan akan mengakibatkan benih berlendir dan daya kecambahnya menurun. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang daya simpan benih klon tertentu yang tumbuh di Indonesia pada suhu rendah, yaitu pada suhu 7-10oC. Hipotesis yang diajukan adalah terdapat perbedaan vigor dan viabilitas benih pada 2 klon karet yang disimpan pada beberapa periode penyimpanan pada suhu 7-10oC dan terdapat interaksi antara jenis klon dan periode penyimpanan biji karet Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2015 di Ruang Teknologi Benih Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) dengan dua faktor. Faktor pertama ialah klon benih ( K ) yang terdiri dari 2 klon perlakuan, yaitu: K1 = Klon GT1 dan K2 = Klon PB260. Faktor kedua ialah Periode Simpan (P) yang terdiri dari 4 periode, yaitu: P1 = Penyimpanan 2 minggu, P2 = Penyimpanan 4 minggu, P3 = Penyimpanan 6 minggu, dan P4 = Penyimpanan 8 minggu. Pengamatan dilakukan pada 2 sub pengamatan, yaitu pengamatan benih setelah penyimpanan yang parameternya meliputi persentase benih berkecambah pada penyimpanan (%), persentase benih berjamur pada penyimpanan (%), dan kadar air benih (%) dan ii pengujian benih setelah penanaman yang parameternya meliputi daya berkecambah (%), kecepatan tumbuh (KCT) (% etmal-1), keserempakan tumbuh (KST) (%), indeks vigor (IV) (%), bobot kering kecambah normal (BKKN) (g), panjang hipokotil (cm), panjang akar (cm) dan panjang epikotil (cm). Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis ragam atau uji F. Apabila uji F menunjukkan pengaruh nyata, maka akan dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon PB260 memiliki vigor dan viabilitas yang lebih tinggi daripada klon GT1 setelah disimpan selama 8 minggu. Interaksi klon dengan periode simpan memberikan pengaruh yang sangat nyata pada tolok ukur daya berkecambah, kecepatan tumbuh, indeks vigor, keserempakan tumbuh, panjang akar, panjang hipokotil, bobot kering kecambah normal, berpengaruh nyata pada tolok ukur panjang epikotil, tapi tidak berpengaruh nyata pada tolok ukur kadar air. Faktor tunggal klon dan periode simpan memberikan pengaruh yang sangat nyata pada semua tolok ukur yaitu daya berkecambah, kecepatan tumbuh, indeks vigor, keserempakan tumbuh, kadar air, panjang hipokotil, panjang akar, panjang epikotil, dan bobot kering kecambah normal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan vigor dan viabilitas pada kedua klon setelah disimpan selama 8 minggu pada suhu 7-10oC. Pada klon PB260 vigor dan viabilitas benih masih bertahan sampai periode simpan 2 minggu, namun vigor dan viabilitas pada klon GT1 tidak bisa bertahan meskipun hanya sampai periode simpan minggu ke-2.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/607/051507600
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Indah Nurul Afifah
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130631
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item