BKG

Aisyah, SitiNur (2015) Evaluasi Sifat Morfologi Enam Aksesi Buncis (Phaseolus vulgaris L.) dan Korelasinya terhadap Daya Hasil. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Buncis merupakan tanaman semusim yang berbentuk perdu. Buahnya (polongnya) pendek, yakni ± 12 cm, lurus atau bengkok dan warnanya bermacammacam (Sunarjono, 1990). Buncis terdiri dua tipe pertumbuhan yaitu tipe merambat dan tipe tegak. Kacang buncis merupakan salah satu sumber protein nabati yang murah dan mudah dikembangkan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tentang produksi sayuran indonesia menyebutkan bahwa produksi buncis dari periode tahun 2007-2014 berturut-turut adalah sebagai berikut 266.790 ton, 266.551 ton, 290.993 ton, 336.494 ton, 334.659 ton, 322.145 ton, dan 327.378 ton, 315.404 ton per hektar (BPS, 2015). Prospek pengembangan buncis masih cukup baik, produktivitas masih dapat ditingkatkan. Teknologi yang cukup mampu memperbaiki produktivitas buncis adalah tersedianya varietas-varietas buncis yang berdaya hasil tinggi serta berkualitas sesuai dengan selera konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat morfologi tanaman buncis sehingga dapat menjadi acuan untuk memilih benih buncis yang berdaya hasil tinggi serta berkualitas. Selain itu untuk mengetahui korelasi antara morfologi tanaman buncis dengan daya hasil yang diperoleh. Penelitian ini dilaksanakan di Jalan Mawar, Kelurahan Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang dengan ketinggian tempat ± 420 m dpl, curah hujan ± 1800 mm/th, dengan suhu udara ± 23⁰ C pada bulan November 2012 sampai dengan bulan Februari 2012. Alat yang digunakan: cangkul, mulsa hitam perak, tugal, ajir, tali rafia, penggaris, alat tulis, kamera, timbangan analitik. Bahan yang digunakan: enam aksesi tanaman buncis (Phaseolus vulgaris L.): INZ-1, INZ-2, LPK-1, LPK-2, LBS-2, LBS-4, dan varietas Lebat-3 sebagai pembanding, Urea, SP-36, KCl, NPK Mutiara, pupuk kandang sapi. Parameter pengamatan: karakter kualitatif (tipe pertumbuhan, warna batang, warna bunga, warna sayap bunga, warna daun, bentuk anak daun, ujung anak daun, warna polong, irisan melintang polong, kelengkungan polong, permukaan polong, bentuk biji, warna biji) dan karakter kuantitatif (umur awal berbunga, jumlah bunga, lama berbunga, jumlah daun, panjang tanaman, diameter batang, umur panen, panjang polong, lebar polong, bobot polong, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per polong, bobot polong per tanaman, panjang biji, lebar biji, jumlah biji per tanaman, bobot 100 biji, umur panen kering, periode pengisian polong). Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari tujuh perlakuan dengan tiga kali ulangan. Aksesi berperan sebagai perlakuan sehingga terdapat tujuh perlakuan, enam aksesi buncis dan satu varietas ii buncis sebagai pembanding. Evaluasi sifat morfologi mengacu pada Descriptor List for Phaseolus vulgaris (IBPGR, 1982) dan untuk mengetahui korelasi antara variabel pengamatan dengan daya hasil digunakan metode analisis kovarian yang dilanjutkan dengan uji t student. Evaluasi sifat morfologi yang dilakukan didapatkan hasil bahwa terdapat keragaman sifat morfologi pada enam aksesi buncis yang diuji berdasarkan Descriptor List for Phaseolus vulgaris, kemudian bila dibandingkan dengan varietas pembanding (LEBAT-3) aksesi LPK-2 dapat direkomendasikan menjadi benih unggul karena memiliki hasil (bobot polong pertanaman) yang lebih tinggi dari varietas pembanding. Untuk karakter yang dikategorikan sebagai hasil terdiri dari Jumlah polong per tanaman (JPT), Jumlah biji per polong (JBiP), Jumlah biji per tanaman (JBiT), Bobot polong (BP), Bobot polong per tanaman (BPT). Hasil korelasinya sebagai berikut jumlah polong per tanaman berkorelasi positif sangat nyata dengan jumlah bunga dan berkorelasi positif nyata dengan lama berbunga. Jumlah biji per polong berkorelasi fenotipik positif nyata dengan panjang tanaman dan berkorelasi fenotipik positif sangat nyata dengan jumlah polong per tanaman. Jumlah biji per tanaman berkorelasi positif sangat nyata dengan jumlah bunga dan jumlah polong per tanaman, kemudian berkorelasi fenotipik positif sangat nyata dengan umur panen, dan juga berkorelasi fenotipik positif nyata dengan panjang polong. Bobot polong berkorelasi positif nyata dengan jumlah biji per polong, kemudian berkorelasi fenotipik positif nyata dengan umur awal berbunga. Bobot polong per tanaman berkorelasi positif sangat nyata dengan jumlah bunga, jumlah polong per tanaman dan jumlah biji per tanaman, kemudian berkorelasi positif nyata dengan lama berbunga dan jumlah daun, dan juga berkorelasi fenotipik positif sangat nyata dengan panjang polong.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/588/051507581
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Indah Nurul Afifah
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130609
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item