BKG

Anindita, DevinaCinantya (2015) Pertumbuhan Bibit Satu Mata Tunas Yang Berasal Dari Nomor Mata Tunas Berbeda Pada Tebu (Saccaharum officinarum L.) Varietas Bululawang Dan PS862. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman penghasil gula terbesar yang termasuk ke dalam famili Gramineae. Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi penduduk Indonesia yang selalu meningkat terus dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Peningkatan konsumsi ini tidak dapat dipenuhi dari produksi gula dalam negeri, sehingga harus mengimpor untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tahun 2009 diperkirakan luas areal penanaman tebu di Indonesia sekitar 422 ribu ha, dengan tingkat produksi gula hablur sebesar ± 2.6 juta ton, sedangkan kebutuhan gula Indonesia diperkirakan mencapai 4.6 juta ton per tahun dengan tingkat konsumsi gula sebesar 18 kg/orang/tahun. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas tebu dan rendemen adalah kualitas bibit tebu yang kurang baik. Bibit yang baik adalah bibit yang tidak terserang oleh hama penyakit. Alternatif untuk meningkatkan kualitas bibit yang akan ditanam ialah dengan sistem satu mata tunas. Benih satu mata tunas yang digunakan adalah benih bud chip. Bud chip memiliki ukuran yang lebih kecil dari bibit tebu lainya dan dapat meningkatkan produktivitas. Kondisi pertumbuhan tanaman tebu sangat diperlukan mata tunas yang pertumbuhannya seragam. Mata tunas yang terletak pada ruas yang masih muda dan belum berwarna akan berkecambah lebih cepat daripada yang lebih tua. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2015 hingga April 2015 di Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Pasuruan dengan ketinggian antara 6 – 91 mdpl. Metode penelitian yang digunakan ialah Rancangan Petak Terbagi (RPT) dimana petak utama varietas tebu yang terdiri dari varietas bululawang ( V1) dan PS862 ( V2) dan anak petak adalah nomor mata tunas yang terdiri dari sepuluh nomor mata tunas yaitu nomor mata tunas 7 ( M7), nomor mata tunas 8 ( M8 ), nomor mata tunas 9 ( M9 ), nomor mata tunas 10 ( M10 ), nomor mata tunas 11 ( M11 ), nomor mata tunas 12 ( M12 ), nomor mata tunas 13 ( M13 ), nomor mata tunas 14 ( M14 ), nomor mata tunas 15 ( M15 ) dan nomor mata tunas 16 ( M16 ), sehingga didapatkan 20 kombinasi perlakuan dan masing-masing kombinasi perlakuan menggunakan ulangan sebanyak tiga kali. Pengamatan yang akan dilakukan antara lain presentase perkecambahan, indeks vigor, panjang tanaman, luas daun, jumlah daun, diameter batang, berat basah dan berat kering. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis ragam ( uji F ) pada taraf 5%. Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang diberikan. Jika perlakuan menunjukkan perbedaan nyata pada F-hitung maka dilanjutkan dengan uji lanjut dengan BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara varietas Bululwang nomor mata tunas 7, 8, 9 dan Varietas PS862 nomor mata tunas 7, 8, 9, 10 dan 11 pada parameter bobot kering total tanaman. Nomor mata tunas 7, 8, 9, 10 dan 11 memberikan pengaruh nyata pada parameter bobot kering total tanaman. Nomor mata tunas terbaik pada varietas Bululawang ialah 7, 8, 9 dan Varietas PS862 terdapat pada nomor mata tunas yang sama yaitu 7, 8, 9, 10 dan 11 pada parameter bobot kering total tanaman.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/547/051507540
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130565
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item