BKG

Yanik, (2015) Pengaruh Waktu Polinasi dan Umur Polen Terhadap Hasil Benih Terong Hijau (Solanum melongena L.) Hibrida. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Terong (Solanum melongena L.) merupakan tanaman sayuran yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia dan bernilai ekonomi penting di beberapa negara Asia, Afrika, dan negara Sub tropis (Kumchai et al., 2013). Peningkatan areal tanam terong belum diimbangi dengan ketersediaan jumlah varietas terong, baik yang bersari bebas maupun hibrida. Pada tahun 2011 produktivitas terong di Indonesia 9,94 ton/ha, padahal potensi produksi dapat mencapai 40 ton/ha (Rukmana 1996). Upaya peningkatan produktivitas terong dapat dilakukan dengan cara menyediakan benih terong hibrida. Kendala dalam pelaksanaan polinasi terong hibrida adalah waktu polinasi dan ketersediaan polen. Dalam percobaan sebelumnya dilaporkan oleh PT. BISI International Tbk. Polinasi dilakukan pada pagi hari sehari setelah bunga diemaskulasi dan polen yang digunakan setelah penyimpanan 1 hari. Kendala pada waktu polinasi terkadang terjadi hujan, sehingga waktu polinasi sangat penting diketahui apakah polinasi dapat dilakukan lebih dari satu hari. Polen yang digunakan untuk polinasi terkadang lebih dan pada hari selanjutnya kekurangan. Pemuliaan bertujuan untuk mengetahui bahwa polen yang berumur lebih dari 1 hari masih viabel dan dapat digunakan untuk polinasi. Sehingga penelitian tentang waktu polinasi dan umur polen sangat penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah a) Mengetahui pengaruh interaksi antara waktu polinasi dan umur polen terhadap hasil benih terong hijau (Solanum melongena L.) hibrida, b) Mengetahui pengaruh penundaan waktu polinasi terhadap hasil benih terong hijau (Solanum melongena L.) hibrida, c) Mengetahui pengaruh umur polen terhadap hasil benih terong hijau (Solanum melongena L.) hibrida. Hipotesis yang diajukan adalah a) Terdapat interaksi antara waktu polinasi dan umur polen terhadap hasil benih terong hijau (Solanum melongena L.) hibrida, b) Penundaan waktu polinasi 48 jam setelah emaskulasi (W3) tidak mengurangi hasil benih terong hijau (Solanum melongena L.) hibrida, c) Umur polen 2 hari (S2) tidak mengurangi hasil benih terong hijau (Solanum melongena L.) hibrida. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai November 2014, di Dusun Sumberjo, Desa Ngringin, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk. Ketinggian ± 43 m di atas permukaan laut. Suhu rata-rata 22 – 26,3oC. Alat yang digunakan dalam penelitian adalah alat budidaya, alat dokumentasi dan alat untuk uji viabilitas polen. Bahan yang digunakan adalah bibit terong EP 1001, pupuk, fungisida, insektisida dan bahan untuk uji viabilitas polen. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) yang diulang 3 kali. Perlakuan yang diberikan yaitu faktor satu adalah waktu polinasi (W) yang terdiri dari: W1 = sesaat setelah emaskulasi, W2 = 24 jam setelah emaskulasi dan W3 = 48 jam setelah emaskulasi. Faktor kedua adalah umur polen (S) yang terdiri dari: S0 = umur polen 0 hari, S1 = umur polen 1 hari dan S2 = umur polen 2 hari. Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini meliputi persentase bunga menjadi buah, persentase buah panen, diameter buah, panjang buah, persentase ii bentuk buah simetris, bobot per buah, bobot buah per tanaman, bobot biji kering per buah, bobot biji kering per tanaman, Jumlah biji per buah, bobot 1000 biji dan persentase fertilitas dan viabilitas polen. Data yang didapatkan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) taraf 5%. Perhitungan analisis ragam yang berbeda nyata dilakukan uji lanjut dengan menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5 %. Kesimpulan penelitian ini adalah: 1. Interaksi antara waktu polinasi dan umur polen ditunjukkan pada persentase buah panen, bobot buah per tanaman, bobot biji kering per buah, bobot biji kering per tanaman dan jumlah biji per buah. 2. Penundaan waktu polinasi 24 jam setelah emaskulasi (W2) dan 48 jam setelah emaskulasi (W3) menghasilkan rata-rata persentase bunga menjadi buah, bobot biji kering per buah, bobot biji kering per tanaman dan jumlah biji per buah lebih banyak sedangkan polinasi yang dilakukan sesaat setelah emaskulasi (W1) menghasilkan bobot 1000 biji yang lebih tinggi. 3. Umur polen 2 hari (S2) menghasilkan rata-rata persentase buah panen dan bobot 1000 biji yang lebih tinggi sedangkan umur polen 0 hari (S0) dan 1 hari (S1) menghasilkan rata-rata persentase buah panen, bobot biji kering per buah, bobot biji kering per tanaman dan jumlah biji per buah lebih banyak serta umur polen 0 hari (S0), 1 hari (S1) dan 2 hari (S2) dapat digunakan untuk polinasi dan semakin lama umur polen maka nilai viabilitas polen akan semakin menurun.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/415/051505613
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130422
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item