BKG

Yulianto, Rahmawan (2015) Pengaruh Amelioran Tanah pada Tanaman Kedelai (Glycine max L.) pada Kondisi Salinitas. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Kedelai merupakan salah satu tanaman golongan leguminosae yang menjadi komoditas tanaman terpenting kedua setelah padi. Pemerintah Indonesia saat ini terus berupaya untuk meningkatkan produksi pertanian terutama produksi kedelai, karena produksi kedelai nasional mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 1970 produksi kedelai nasional hanya sebesar 0,50 juta ton dari luas panen 0,69 juta ha, pada tahun 1990 meningkat menjadi 1,49 juta ton dari luas panen 1,33 juta ha dan pada tahun 2010 produksinya menurun menjadi 907.031 ton dari luas panen 660.823 ha (Deptan, 2012). Untuk meningkatkan produksi kedelai dapat dilakukan secara intensifikasi dan ekstensifikasi. Secara intensifikasi dapat dilakukan dengan penerapan teknik budidaya, pemakaian varietas unggul serta penanganan pasca panen yang baik. Sedangkan secara ekstensifikasi dapat dilakukan dengan peningkatan areal tanam. Perluasan areal tanam ke lahan sub optimal termasuk ke daerah dekat pantai dapat menjadi alternatif pengembangan kedelai. Namun ancaman kandungan salinitas pada areal dekat pantai dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman menjadi terhambat dan struktur tanaman berubah. Penggunaan genotip yang toleran terhadap kondisi yang salin juga diharapkan dapat menghasilkan produksi yang lebih baik. Serta penggunaan amelioran yang merupakan bahan yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan memperbaiki kondisi fisik, kimia, dan biologi tanah, sehingga dapat meningkatkan potensi produksi kedelai di lahan salin. Bahan amelioran dapat berupa bahan organik, kapur, dolomit, gipsum, dan abu batu bara. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian amelioran tanah terhadap pertumbuhan dan hasil dari genotip tanaman kedelai. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga September 2014 di rumah kaca Kebun Percobaan Jatikerto, di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang dengan ketinggian tempat sekitar 303 m dpl. Metode penelitian menggunakan rancangan petak terbagi (RPT) faktorial yang terdiri dari 2 faktor, yaitu genotip kedelai dan amelioran. Faktor pertama terdiri dari 4 macam genotip, yaitu 2 genotip peka: G1 = varietas Wilis, dan G2 = varietas Tanggamus; dan 2 genotip toleran: G3 = genotip IAC,100/Bur//Malabar dan G4 = genotip Argopuro//IAC,100. Untuk faktor kedua terdiri dari 3 jenis amelioran tanah dan 1 kontrol, yaitu A0 = tanpa amelioran tanah (kontrol); A1 = jerami padi (20000 kg/ha); A2 = mikoriza 20 g; dan A3 = pupuk hijau Crotalaria juncea (20000 kg/ha). Total kombinasi 4 x 4 = 16 kombinasi perlakuan, dan diulang 3 kali sehingga terdapat 48 satuan percobaan. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot kering tajuk dan akar, indeks klorofil, komponen hasil dan hasil biji saat panen (jumlah polong per tanaman, persentase polong isi, persentase polong hampa, bobot kering biji per tanaman), kadar prolin daun dan kadar salinitas pada tanah. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dengan taraf 5%, bila terdapat pengaruh yang nyata pada perlakuan yang diaplikasikan, maka dilanjutkan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) dengan taraf 5%. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa genotip kedelai yang berbeda memiliki hasil yang berbeda pula. Pada hasil pertumbuhan, Varietas Wilis dan Tanggamus memiliki nilai tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, serta bobot kering tajuk dan akar yang lebih tinggi dibandingkan dengan genotip IAC,100/Bur//Malabar dan Argopuro//IAC,100. Namun pada hasil pertumbuhan indeks klorofil daun dan komponen hasil panen yang terdiri dari persentase polong isi, persentase polong hampa dan bobot biji menunjukkan genotip IAC,100/Bur//Malabar dan Argopuro//IAC,100 lebih baik dibandingkan dengan Varietas Wilis dan Tanggamus. Pada penggunaan amelioran, amelioran jerami secara umum menunjukkan hasil pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, bobot kering tajuk, jumlah total polong, persentase polong isi dan bobot biji yang lebih tinggi dibandingkan dengan amelioran yang lain. Sedangkan pada hasil interaksi hanya terjadi pada tinggi tanaman pada umur tanaman 14, 56 dan 63 hst yang ditunjukkan pada Varietas Wilis dengan amelioran Jerami memiliki hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan amelioran yang lain. Pada interaksi Varietas Tanggamus dengan perlakuan kontrol dan C. juncea menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan amelioran yang lain. Pada interaksi Genotip IAC,100/Bur//Malabar menunjukkan interaksi dengan Jerami lebih tinggi dibandingkan dengan amelioran yang lain. Pada hasil interaksi Genotip Argopuro//IAC,100 terhadap amelioran menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata.

English Abstract

Soybean is one of the class of Leguminosae plants that become the second most important crop after rice. Government of Indonesia continues to strive to increase agricultural production, especially the production of soybeans, because the national soybean production has fluctuated from year to year. In 1970 the national soybean production only amounted to 0,50 million tons from 0,69 million ha of harvested area, in 1990 increased to 1,49 million tonnes from 1,33 million ha of harvested area and in 2010 the production decreased to 907.031 tonnes of harvested area of 660.823 ha (Deptan, 2012). To increase soybean production can be done in the intensification and extensification. In intensification can be done with the application of cultivation techniques, the use of high yielding varieties and good post-harvest handling. While the extensification can be done with increased planting areas. The expansion of planting area to sub-optimal land including to areas near the coast can be an alternative to soybean development. But the salinity content become a threat in the areas near the coast that can affect plant growth becomes stunted and the changes of crop structure. The use of genotypes were tolerant to saline conditions is also expected to result in better production. And the use of ameliorant which is a material that can improve soil fertility by improving the physical, chemical, and biological soil, thus increasing the potential for soybean production in saline land. Ameliorant material can be organic materials, limestone, dolomite, gypsum and coal ash. So the purpose of this study was to determine the effect of soil ameliorant on growth and yield of soybean genotypes. The study was conducted in June until September 2014 in the greenhouse Jatikerto Experimental Farm, in the village of Jatikerto, District Kromengan, Malang Regency with an altitude about 303 m above sea level. The research method using split plot design (SPD) factorial consisting of two factors, namely soybean genotypes and ameliorant. The first factor consisted of 4 kinds of genotype, ie 2 genotype sensitive: G1 = Wilis variety, and G2 = Tanggamus variety; and 2 genotypes tolerant: G3 = IAC, 100/Bur//Malabar genotype and G4 = Argopuro//IAC, 100 genotype. For the second factor consists of three types of soil ameliorant and 1 control, ie A0 = without ameliorant soil (control); A1 = rice straw (20000 kg/ha); A2 = mycorrhizal 20 g; and A3 = green manure Crotalaria juncea (20000 kg/ha). The total combination of 4 x 4 = 16 combinations of treatment, and repeated 3 times so that there are 48 units experiment. Parameters include the observation of plant height, number of leaves, leaf area, shoot and root dry weight, chlorophyll index, yield components and grain yield at harvest (number of pods per plant, percentage of pods, the percentage of empty pods, seeds per plant dry weight), the levels of leaf proline and salinity levels. The data obtained has analyzed using analysis of variance with the level of 5%, if there are significant effect among the treatments continued LSD (Least Significant Difference) with level of 5%. Based on the research results, obtained that different soybean genotypes have different results. On the results of the growth, Wilis and Tanggamus variety showed the value of plant height, number of leaves, leaf area, shoot and root dry weight higher than the IAC,100/Bur//Malabar and Argopuro//IAC,100 genotype. However, the results of chlorophyll index, percentage of pods, the percentage of empty pods and seeds per plant dry weight showed that IAC,100/Bur//Malabar and Argopuro//IAC,100 genotype better than Willis and Tanggamus variety. On the use of ameliorant, ameliorant straw showed the parameters of plant height, number of leaves, shoot dry weight, number of pods per plant, percentage of pods and seeds per plant dry weight are higher than other ameliorant in general. While the results of interaction only occurs in plant height at 14 dap, 56 dap, and 63 dap that indicated by the Wilis variety with ameliorant Straw has a higher yield than other ameliorant. In interaction treatment Tanggamus variety with the ameliorant control and C. juncea showed higher yields than other ameliorant. In the result of the interaction of IAC,100/Bur//Malabar genotype showed interaction with Straw higher than the interaction with other ameliorant treatment. In the result of the interaction of Argopuro//IAC,100 genotype against ameliorant showed no significant difference.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/391/ 051505321
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Kustati
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130394
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item