BKG

Wangsitala, Angger (2015) Pemanfaatan Thermal Unit Untuk Menentukan Waktu Panen Tanaman Baby Wortel (Daucus carota L.) Dengan Menggunakan Varietas dan Mulsa yang Berbeda. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Wortel (Daucus carota L.) merupakan tanaman yang dikenal luas di Indonesia dan prospek pengembangan tanaman ini cukup baik. Wortel dikenal hampir di setiap negara, termasuk indonesia. Sayuran ini cukup populer di kalangan masyarakat. Umur panen wortel tergantung pada jenisnya. Umbi wortel lokal dapat dipanen sekitar umur 90-97 hari setelah tanam. Sedangkan wortel varietas hibrida seperti kuroda memiliki umur panen 110 hari setelah tanam (Cahyono, 2012). Namun untuk baby carrot ukuranya cukup mungil, panjang sekitar 10 cm dengan diameter 2-4 cm. panen dilakukan saat wortel berumur 60 hari setelah tanam. Di Indonesia baby carrot diartikan sebagai wortel biasa yang dipanen lebih cepat. Sebenarnya selain dipanen lebih muda, konsumen luar negeri menghendaki jenis wortel yang dijadikan baby carrot adalah jenis yang kulitnya tidak terlalu kuning tua (Rahayu dan Sunarjono, 2003). Perbedaan varietas pada tanaman wortel dapat mempengaruhi nilai Heat Unit yang dibutuhkan oleh tanaman tersebut juga berbeda. Karena adanya perbedaan gen dan masa dormansi pada setiap varietas yang berbeda. Varietas yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah varietas kuroda, gerada, dan morelia. Mulsa jerami dapat dimanfaatkan untuk tiap jenis tanah dan tanaman. Karena mulsa jerami juga dapat menekan tumbuhnya gulma. Sekarang ini mulsa plastik hitam perak telah diterapkan secara luas, karena warna perak dapat memantulkan cahaya matahari sehingga energi cahaya matahari yang diterima oleh tanaman lebih besar (Dewanti, 2009). Menurut Sugito (2012), Satuan panas atau heat unit adalah jumlah jumlah panas yang dibutuhkan tanaman selama siklus hidupnya. Satuan panas tidak sama untuk setiap jenis tanaman. Pada tanaman yang sama, umur panen akan lebih panjang bila ditanam pada daerah yang bersuhu rendah karena untuk mendapatkan sejumlah satuan panas tertentu dibutuhkan waktu yang lebih lama. Jadi, kegunaan praktis dari satuan panas ini adalah untuk meramal saat panen yang tepat setelah mengetahui secara umum berdasarkan suhu atau insolasi yang ada. Tujuan penelitian ini ialah untuk mempelajari nilai thermal unit yang dibutuhkan pada saat panen dengan perlakuan mulsa dan varietas yang berbeda dan untuk mendapatkan hasil panen terbaik dari perlakuan varietas dan mulsa yang berbeda. Hipotesis penelitian ini ialah dengan pemberian mulsa plastik hitam perak dan varietas kuroda membutuhkan nilai heat unit rendah dan pemberian mulsa plastik hitam perak dan varietas kuroda menghasilkan produksi yang paling bagus. Penelitian ini dilakukan di lahan sewa pertanian di Desa Pandanrejo Dukuh Ngujung Kecamatan Bumiaji, Kabupaten Malang pada bulan April hingga Juni 2014. Alat yang digunakan dalam penelitian ini ialah Leaf Area Meter (LAM), timbangan analitik, oven, kamera, cangkul, meteran, alat tugal, tali rafia, termometer. Bahan yang digunakan ialah benih wortel varietas kuroda, gerada, dan morelia, jerami padi, mulsa plastik hitam perak, Pupuk Urea, TSP, KCl. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana, dengan menempatkan 9 kombinasi perlakuan yaitu P1 : Varietas kuroda, tanpa mulsa P2 : Varietas gerada, mulsa jerami, P3 : Varietas morelia, mulsa plastik hitam perak P4 : Varietas gerada, tanpa mulsa P5 : Varietas gerada, mulsa jerami P6 : Varietas gerada, mulsa plastik hitam perak P7 : Varietas morelia, tanpa mulsa P8 : Varietas morelia, mulsa jerami P9 : Varietas morelia, mulsa plastik hitam perak. Perlakuan diulang 3 kali sehingga diperoleh 27 satuan kombinasi perlakuan. Pengamatan yang dilakukan terbagi menjadi 2 komponen utama yaitu pengamatan tanaman dan cuaca. Pengamatan tanaman meliputi pengamatan Thermal Unit, pengamatan non destruktif (tinggi tanaman dan jumlah daun) pengamatan dekstruktif (ILD, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, panen) dengan mengambil 2 tanaman contoh untuk setiap kombinasi perlakuan yang dilakukan pada saat tanaman berumur 21 hst, 35 hst, 49 hst, 63 hst, dan panen sekitar (65hst). Pengamatan panen yaitu meliputi Bobot segar tanaman total (g.tan-1), Bobot segar konsumsi (g.tan-1), dan indeks panen. Untuk pengamatan cuaca parameter yang digunakan adalah Curah hujan (mm), Radiasi matahari, Suhu tanah (0C), Suhu rata-rata harian (0C). Data pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis data (uji F) dengan taraf 5%. Apabila dalam analisis ragam terdapat beda nyata, maka dilakukan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan perlakuan mulsa anorganik memberikan pertumbuhan yang lebih baik dan meningkatkan produksi baby wortel dibandingkan perlakuan tanpa mulsa dan mulsa jerami. Penggunaan mulsa plastik hitam perak dengan varietas kuroda memperoleh nilai thermal unit terendah yaitu sebesar 795.25 Cdo dengan bobot segar total tanaman tertinggi yaitu sebesar 913.00 gr dan bobot segar konsumsi tertinggi yaitu sebesar 69.13 gr. Kemudian nilai thermal unit tertinggi yang dibutuhkan baby wortel yaitu pada perlakuan P7, P8, dan P9 dengan nilai thermal unit sebesar 872.35 Cdo. Nilai bobot segar total tanaman terendah yaitu pada perlakuan P7 sebesar 578.00 gr dan bobot segar konsumsi terendah yaitu pada perlakuan P2 dan P7 sebesar 48.96 gr dan 49.04 gr.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/136/051502469
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130111
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item