BKG

Firokhman, Alnguda (2015) Kajian Umur Kepras dan Dosis Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan komoditas penting penghasil gula. Dari tahun ke tahun konsumsi permintaan gula di Indonesia semakin meningkat karena bertambahnya penduduk dan peningkatan pendapatan penduduk. Pada tahun 2009 produksi gula tebu mencapai ± 2,333,885 ton sedangkan pada tahun 2010 produksi gula tebu mencapai ± 2,278,127 ton (BPS, 2009) lalu pada tahun 2011 produksi gula mencapai ± 2,2 juta ton dan pada tahun 2012 mencapai ± 2,7 juta ton. Pada tahun 2014 atau 5 tahun ke depan kebutuhan gula melonjak menjadi 5,70 juta ton dan pada 2025 diproyeksikan mencapai 8,30 juta ton. Dengan fluktuatif produksi gula di Indonesia salah satu faktor penyebabnya ialah ratoon (Keprasan). Menurut Tunggul (2013), ratoon hanya maksimal 3 hingga 4 kali. Permasalahan keprasan tersebut para petani masih banyak yang tidak menghiraukan saran pemerintah untuk melakukan keprasan maksimal 3 kali, melainkan petani menggunakan sistem kepras mencapai 11 kali akibat dari faktor biaya yang tinggi jika melakukan Plantcane atau tanam baru. Hasil kajian di luar negeri pada aspek agronomi menunjukkan bahwa penurunan produksi Ratoon Cane, antara lain, penurunan populasi batang tebu tersebut disebabkan oleh terjadinya kematian tunas (tillers) atau rumpun tunas (stubbles) yang tinggi (Soopramanien 1996). Richard et al., (2010) dan Mahajan (2010) menambahkan bahwa produktivitas tebu akan semakin turun jika semakin banyak dikepras. Faktor non tanaman yang dapat menurunkan RC ialah kesuburan tanah yang kurang baik dengan ketersediaan unsur hara sedikit karena sering menggunakan pupuk anorganik. Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan (Jumin, 2012 dan Susetya, 2013). Kelebihan pupuk kandang juga sebagai sumber zat nutrisi bagi tanaman, memudahkan pertumbuhan akar tanaman, mencegah beberapa penyakit akar dan menurunkan aktivitas mikroorganisme tanah yang merugikan (Samekto, 2006). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pertumbuhan awal tanaman tebu sebagai indikator hasil dan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang kambing yang terbaik pada pertumbuhan awal tanaman tebu. Sedangkan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ialah pemberian pupuk kandang kambing tertentu mampu memberikan pertumbuhan awal tanaman tebu meskipun sudah dikepras 10 kali. Penelitian telah dilakukan di Desa Kademangan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Kegiatan penelitian dimulai pada bulan Juni 2014 sampai Desember 2014. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul untuk mengambil sampel tanah dan bumbun (kowak), plastik sebagai tempat meletakkan sampel tanah, ajir untuk ploting lahan, papan label untuk identitas ulangan dan perlakuan, spidol untuk penamaan papan label, meteran untuk mengukur luas lahan, tinggi tanaman dan jarak tanam, hand counter untuk membantu dalam perhitungan jumlah sampel, tali rafia untuk membatasi lahan yang akan ditanami. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah tanaman tebu kepras varietas Bululawang, pupuk kandang kambing, pupuk Urea, KCL dan SP 36. Penelitian ini menggunakan Rancangan Tersarang (Nested) dengan tiga pengulangan. Petak utama yaitu jumlah banyaknya keprasan, meliputi K1= kepras 2 kali, K2 = kepras 4 kali, K3 = kepras 6 kali dan K4 = kepras 11 kali. Anak petak yaitu dosis pupuk kandang kambing, meliputi P0 = Tanpa pupuk kandang kambing, P1 = Pupuk kandang kambing dengan dosis 14 t ha-1, P2 = Pupuk kandang kambing dengan dosis 28 t ha-1 dan P3 = Pupuk kandang dengan dosis 42 t ha-1. Pemberian pupuk kandang 30 hari setelah kepras. Parameter pengamatan tanaman meliputi Gap, jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah, berat kering dan luas daun. Pengamatan dilakukan pada 2 bulan setelah kepras sampai 6 bulan setelah kepras dengan interval 1 bulan yaitu: 2 bsk, 3 bsk, 4 bsk, 5 bsk dan 6 bsk. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5%. Uji F digunakan untuk menguji perbedaan perlakuan yang dicobakan. Apabila terdapat beda nyata (F hitung > F Tabel 5%), maka dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai gap sebelum perlakuan pupuk kandang kambing menunjukkan tidak berpengaruh nyata pada umur kepras yang berbeda-beda. Pengaruh nyata dengan pemberian dosis pupuk kandang kambing terdapat pada pertumbuhan vegetatif tanaman tebu kepras. Pada tanaman tebu kepras 2, 4, 6 dan 11 + pupuk kandang kambing 42 t ha-1 umur 5 dan 6 bsk secara nyata dapat meningkatkan parameter tinggi tanaman dan jumlah daun, sedangkan pengaruh nyata jumlah anakan terdapat pada kepras 4 + pupuk kandang kambing 42 t ha-1 umur 2 sampai 6 bsk. Pengaruh nyata juga terdapat pada bobot basah daun, bobot basah batang, bobot kering daun, bobot kering batang dan luas daun dengan perlakuan kepras 2 + pupuk kandang kambing 42 t ha-1 sebagai yang terbaik.

English Abstract

Sugarcane (Saccharum officinarum L.) is an important commodity producer of sugar. From year to year, the consumption of sugar demand in Indonesia has increased due to the increase in population and increase in incomes of the population. In 2009 the production of sugar cane to ± 2,333,885 tons, while in 2010 the production of sugar cane to ± 2,278,127 tons (CBS, 2009) and in 2011 the production of sugar reaches ± 2.2 million tonnes and in 2012 reached 2.7 million tons ± . In 2014 or 5 years into the future needs of sugar jumped to 5.70 million tons in 2025 and is projected to reach 8.30 million tons. With fluctuating sugar production in Indonesia one contributing factor is ratoon (keprasan). According to Stump (2013), ratoon only a maximum of 3 to 4 times. The keprasan problems farmers are still many who do not heed advice keprasan government to undertake a maximum of 3 times, but farmers use kepras system reached 11 times as a result of the high cost factor when doing Plantcane or new planting. The results of the study abroad on agronomic aspects indicate that the decline in production ratoon Cane, among others, the decline of the sugar cane caused by the death of shoots (tillers) or clumps of shoots (stubbles) high (Soopramanien 1996). Richard et al., (2010) and Mahajan (2010) adds that the productivity of sugarcane will be dropped if more must be cut. Non-crop factors that can reduce soil fertility RC is less well with the availability of nutrients slightly due to frequent use of inorganic fertilizers. Manure as fertilizer derived from animal waste (Jumin, 2012 and Susetya, 2013). Excess manure as well as a source of nutrients for plants, facilitate the growth of plant roots, preventing root diseases and decrease the activity of soil microorganisms are harmful (Samekto, 2006). The purpose of this study to determine the initial growth of sugarcane as an indicator of the results and to determine the effect dose goat manure is best in the early growth of sugarcane. While the hypothesis proposed in this study is specific goat manure application is able to provide initial growth of sugar cane must be cut despite being 10 times. Research has been conducted in the village Kademangan, District Exhibition, Malang. Research activities started in June 2014 through December 2014. The instrument used in this study is hoe to take samples of soil and pile (herons), plastics as a place to put a soil sample, marker for land plotting, board labels for identification and treatment replicates, markers for naming board labels, meter for measuring land area, plant height and plant spacing, hand counters to assist in the calculation of the number of samples, the rope to restrict land to be planted. The materials used in the study is sugarcane varieties kepras Bululawang, goat manure, urea, KCL and SP 36. This study uses a nested design (Nested) with three repetitions. The main plot is the number of times ratoon, covering K1 = ratoon 2 times, K2 = ratoon 4 times, K3 = ratoon 6 times and K4 = ratoon 11 times. Subplot that dose goat manure, covering P0 = Without goat manure, P1 = Manure goat with a dose of 14 ton ha-1, P2 = Manure goat at a dose of 28 ton ha-1 and P3 = Manure at a dose of 42 ton ha-1. Manure application 30 days after kepras. Parameter observations include Gap plant, number of tillers, plant height, number of leaves, fresh weight, dry weight and leaf area. Observations were made at 2 months after kepras until 6 months after kepras with intervals of 1 month, namely: 2 BSK, 3 BSK, BSK 4, 5 and 6 BSK BSK. Observational data obtained were analyzed using analysis of variance (F test) at 5% level. F-test was used to test the difference in treatment is tested. If there is a significant difference (F count> F Table 5%), then followed with a HSD test at 5% level. The results showed that the value of the gap before the goat manure treatment showed no significant effect on age of ratoon different. The real effect of small doses of goat manure contained in the ratooncane vegetative growth. In sugarcane kepras 2, 4, 6 and 11 + goat manure 42 ton ha-1 ages 5 and 6 BSK can significantly improve the parameters of plant height and number of leaves, whereas the real effect on the number of tillers are ratoon 4 + goat manure 42 ton ha-1 age 2 to 6 BSK. There is also a real influence on the wet weight of leaves, stems wet weight, dry weight of leaf, stem dry weight and leaf area with treatment kepras 2 + goat manure 42 ton ha-1 as the best

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/120/051502436
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130094
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item