BKG

Mubarak, AlFathMubin (2014) Pengendalian Gulma pada Berbagai Taraf Pemupukan Nitrogen Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Kentang (Solanum tuberosum L) adalah salah satu komoditas hortikultura yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif dalam memenuhi kebutuhan bahan makanan pokok. Menurut Samadi, 2007 (dalam Ummah, 2010) kentang merupakan sumber karbohidrat yang bermanfaat untuk meningkatkan energi dalam tubuh. Di Indonesia kentang masih belum menjadi komoditas yang diunggulkan untuk dibudidayakan sehingga produktivitas kentang di Indonesia masih rendah. Menurut Baharuddin et al, (2004) menyatakan bahwa konsumsi masyarakat akan kentang 2,3 kg per kapita, sehingga dibutuhkan sebanyak 2,4 juta ton tahun-1 sedangkan produksi kentang nasional baru mencapai 1,1 juta ton tahun-1. Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman kentang adalah dengan cara pemberian nutrisi yang optimal dan membersihkan lingkungan tempat tumbuh tanaman. Pemberian nutrisi tambahan untuk tanaman dapat dilakukan dengan cara pemupukan. Selain pemupukan, lingkungan tempat tumbuh tanaman harus bersih dari tumbuhan yang tidak diinginkan seperti gulma. Utami (2004) menyatakan bahwa keberadaan gulma yang dibiarkan tumbuh pada tanaman budidaya akan menurunkan 20 – 80% hasil panen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis pupuk nitrogen pada kompetisi gulma sehingga mengetahui waktu pengendalian gulma yang tepat serta mengetahui pengaruh dan dosis pupuk nitrogen yang optimal pada tanaman kentang. Hipotesis dari penelitian adalah semakin tinggi dosis pupuk nitrogen yang diberikan pada areal pertanaman kentang maka kompetisi tanaman kentang terhadap gulma akan semakin besar. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan September 2013. Penelitian dilaksanakan di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Tempat penelitian berada di ketinggian 1640 m di atas pemukaan laut. Curah hujan rata-rata tempat penelitian 1807 mm tahun-1 dengan suhu udara antara 18–26oC, dan kelembaban udara antara 75–85 %. Alat yang akan digunakan dalam percobaan ini antara lain alat pengolah tanah, kertas label, knapsack sprayer, penggaris, Leaf Area Meter (LAM), dan timbangan analitik, oven, dan kamera digital. Bahan-bahan yang akan digunakan antara lain umbi bibit kentang varietas granola, pupuk organik kotoran ayam 20 kg ha-1, pupuk Nitrogen 70 kg ha-1, 100 kg ha-1, 130 kg ha-1, 160 kg ha-1, SP-36 200 kg ha-1, dan KCl 200 kg ha-1. Penelitian akan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan gulma (G) dan perlakuan dosis pupuk Nitrogen (P). G1P1 : Bebas gulma (Pengendalian gulma 7 hari sekali sampai panen) + N 70 kg ha-1. G1P2 : Bebas gulma (Pengendalian gulma 7 hari sekali sampai panen) + N 100 kg ha-1. G1P3 : Bebas gulma (Pengendalian gulma 7 hari sekali sampai panen) + N 130 kg ha-1. G1P4 : Bebas gulma (Pengendalian gulma 7 hari sekali sampai panen) + N 160 kg ha-1. G2P1 : Pengendalian gulma pada umur 21 dan 49 hst + N 70 kg ha-1. G2P2 : Pengendalian gulma pada umur 21 dan 49 hst + N 100 kg ha-1. G2P3 : Pengendalian gulma pada umur 21 dan 49 hst + N 130 kg ha-1. G2P4 : Pengendalian gulma pada umur 21 dan 49 hst + N 160 kg ha-1. G3P1 : Herbisida pra tumbuh oksifluorfen + N 70 kg ha-1. G3P2 : Herbisida pra tumbuh oksifluorfen + N 100 kg ha-1. G3P3 : Herbisida pra tumbuh oksifluorfen + N 130 kg ha-1. G3P4 : Herbisida pra tumbuh oksifluorfen + N 160 kg ha-1. Pengamatan gulma dilakukan sebanyak lima kali yaitu pada saat sebelum tanam, pada umur tanaman 21 hst, 35 hst, 49 hst dan 63 hst. Pengamatan gulma dilakukan pada petak contoh dengan ukuran 0,6 x 0,5 m berdasarkan metode kuadrat yaitu dengan menghitung perbandingan nilai penting (Summed Dominance Ratio (SDR)) dan pengamatan bobot kering gulma. Pengamatan pertumbuhan dilakukan pada saat tanaman berumur 21 hst, 35 hst, 49 hst dan 63 hst. Pengamatan hasil tanaman dilakukan pada umur tanaman 100 hst. Pengamatan dilakukan dengan melihat dua komponen parameter, meliputi komponen pertumbuhan yaitu dengan metode non destruktif dan pengamatan komponen hasil tanaman kentang. Pengamatan pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, luas daun, dan bobot kering total tanaman. Parameter pengamatan hasil yaitu berat umbi segar, bobot kering umbi, jumlah umbi, indeks panen, dan berat segar umbi berdasarkan klasifikasi. Hasil pengamatan selanjutnya dilakukan analisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) dengan taraf 5% dengan tujuan untuk mengetahui nyata tidaknya pengaruh dari perlakuan. Apabila terdapat beda nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNT dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat jenis gulma yang mendominasi yaitu gulma Cyperus rotundus (teki) dan Ageratum conyzoides L. (wedusan), dan gulma baru yang muncul setelah tanam yaitu Paspalum conjugatum (paitan), Phylantus urinaria L. (meniran) dan Ludwigia perenis (cecabean). Perlakuan Herbisida pra tumbuh oksifluorfen efektif dalam menekan pertumbuhan gulma dari umur 0-49 hst, dan perlakuan herbisida pra tumbuh oksifluorfen tidak berbeda dibandingkan dengan perlakuan gulma umur 21 dan 49 hst. Herbisida pra tumbuh oksifluorfen dapat menekan pertumbuhan gulma sebesar 74.28% pada umur 0-49 hst dibandingkan dengan perlakuan pengendalian gulma umur 21 dan 49 hst. Perlakuan Herbisida pra tumbuh oksifluorfen + N 130 kg ha-1 menunjukkan rata-rata yang lebih tinggi 20% dan 13.73% dibandingkan perlakuan bebas gulma (pengendalian gulma 7 hari sekali sampai panen) + N 130 kg ha-1 pada parameter jumlah daun dan luas daun. Perlakuan herbisida pra tumbuh oksifluorfen + N 130 kg ha-1 dan pengendalian gulma umur 21 dan 49 hst + N 130 kg ha-1 menghasilkan produksi per hektar yang lebih tinggi yaitu sebesar 1498.93 kg ha-1 dan 1387.37 kg ha-1. Penambahan pupuk nitrogen sebesar 130 kg ha-1 merupakan perlakuan yang sesuai untuk meningkatkan hasil kentang.

English Abstract

Potato (Solanum tuberosum L) is one of horticultural commodities that can be used as one of alternatives to fulfill the need of foodstuff. In accordance to Samadi, 2007 (in Ummah, 2010) potato is a carbohydrate source that could increase energy in human’s body. In Indonesia, potato has not been considered as superior commodity to be cultured, therefore the potato’s production in Indonesia is still low. According to Baharudin et al. (2004) suggested that potato consumption by the public is 2.3 kg per capita, therefore it requires 2.4 million ton year-1, meanwhile the national production of potato has reached 1.1 million ton year-1. In order to increase productivity of potato, optimal nutrient application is required, as well as cleaning up the environment where the crop grown. Supplementary nutrient application for the crop can be done through fertilization. Besides that, environment where the crops grow must be cleaned up from any disturbed plants, such as weed. Utami (2004) suggested that the existence of uncontrolled weeds will reduce the harvest yield, 20 – 80%. Objectives of this research were to find out dosage of the nitrogen fertilizer in competition with the weed in order to establish the right time to manage the weeds, and to find out the influence and optimal dosage of nitrogen fertilizer for potato. Hypothesis of the research is the higher the dosage of nitrogen fertilizer, the greater competition will be occurred between potato and the weeds. The research was conducted from May to September 2013. The research was done at Sumberbrantas Village, Bumiaji Subdistrict, Batu. Location of the research is at the altitude of 1640 m above the sea level. Average rainfall is 1807 mm year-1 and the temperature ranges 18–26oC, and the air humidity ranges 75–85 %. Devices used in this research include soil cultivator, label paper, knapsack sprayer, ruler, Leaf Area Meter (LAM), and analytic scale, oven, and digital camera. Materials of the research include tuber of potato seed, granola variety, chicken dropping as organic fertilizer 20 kg ha-1, Nitrogen fertilizer of 70 kg ha-1, 100 kg ha-1, 130 kg ha-1, 160 kg ha-1, SP-36 200 kg ha-1, and KCl 200 kg ha-1. The research used Randomized Complete Design (RCD) by weed treatment (G) and dosage of the Nitrogen (P) fertilizer. G1P1 : Weed free (Controlling the weeds once in 7 days till harvest time) + N 70 kg ha-1. G1P2 : Weed free (Controlling the weeds once in 7 days till harvest time) + N 100 kg ha-1. G1P3 : Weed free (Controlling the weeds once in 7 days till harvest time) + N 130 kg ha-1. G1P4 : Weed free (Controlling the weeds once in 7 days till harvest time) + N 160 kg ha-1. G2P1 : Controlling the weed at 21 and 49 dap + N 70 kg ha-1. G2P2 : Controlling the weed at 21 and 49 dap + N 100 kg ha-1. G2P3 : Controlling the weed at 21 and 49 dap + N 130 kg ha-1. G2P4 : Controlling the weed at 21 and 49 dap + N 160 kg ha-1. G3P1 : Herbisida pra tumbuh oksifluorfen + N 70 kg ha-1. G3P2 : Herbisida pra tumbuh oksifluorfen + N 100 kg ha-1. G3P3 : Herbisida pra tumbuh oksifluorfen + N 130 kg ha-1. G3P4 : Herbicide pre-growth oxyfluorephene + N 160 kg ha-1. Observation on weed was done five times, pre-planting, at 21 dap, 35 dap, 49 dap and 63 dap. Observation on weed was done at the sample plot, 0.6 x 0.5 m in size, based on quadratic method by calculating Summed Dominance Ratio (SDR) and observation on dry weight of the weed. Observation on the growth was done at 21 dap, 35 dap, 49 dap, and 63 dap. Observation on the yield was done at 100 dap. Observation was done by reviewing two components of parameter, such as the growth component using non destructive method and observation on yield component of the potato. The growth observation includes the crop height, numbers of branch, and numbers of leaf, leaf area, as well as total dry weight of the crop. Parameter for the yield observation, such as fresh tuber weight, dry weight of the tuber, numbers of tuber, harvest index, and fresh weight of the tuber based on classification. Then, results of the observation will be analyzed using analysis of variance (F-test) by 5% level in order to find out whether the treatment has significant influence or not. If any significant difference is found, then it will be continued by LSD (Least Significance Difference) test by 5% level. Results of the research showed that weeds, which dominate are Cyperus rotundus (purple nut sedge) and Ageratum conyzoides L. (wedusan), while new emerged weeds post-planting are Paspalum conjugatum (paitan), Phylantus urinaria L. (meniran) and Ludwigia perenis (cecabean). Herbicide treatment pre-growth of oxyfluorephene is effective to inhibit the weed growth at 0 – 49 dap, and such herbicide treatment pre-growth of oxyfluorephene has no different in comparison with the weed treatment at 21 and 49 dap. Herbicide treatment pre-growth of oxyfluorephene could inhibit the weed growth for about 74.28% at 0 - 49 dap in comparison with weed controlling treatment at 21 and 49 dap. Herbicide treatment pre-growth of oxyfluorephene + N 130 kg ha-1 is higher, on the average, 20% and 13.73% in comparison with weed free treatment (Controlling the weeds once in 7 days till harvest time) + N 130 kg ha-1 on parameter for numbers of leaf and leaf area. Herbicide treatment pre-growth of oxyfluorephene + N 130 kg ha-1 and weed management at 21 and 49 dap + N 130 kg ha-1 has resulted higher production per hectare, 1498.93 kg ha-1 and 1387.37 kg ha-1, respectively. Supplementary nitrogen fertilizer, 130 kg ha-1 is considered as the appropriate treatment to increase the potato yield.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2014/86/051402135
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130048
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item