BKG

Wijaya, SyamsuAgung (2014) Pengaruh Waktu Penyerbukan dan Proporsi Bunga Betina dengan Bunga Jantan Terhadap Hasil dan Kualitas Benih Mentimun (Cucumis sativus L) Hibrida. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Proses polinasi menggunakan serbuk sari dengan viabilitas yang baik serta stigma mencapai masa reseptif dan siap menampung polen. Jumlah polen sangat dipengaruhi oleh jumlah populasi tetua jantan yang ada. Petani benih mentimun hibrida sering melakukan penyerbukan dengan perbandingan bunga jantan dengan bunga betina tidak hanya 1:1 tetapi juga 1:2 dan 1:3 untuk menghemat sumber jantan. Waktu yang digunakan untuk penyerbukan antara pukul 06.00 sampai pukul 11.00. Apabila penyerbukan tidak dilakukan pada waktu kematangan bunga yang optimum, dapat terjadi tidak terbentuknya buah atau bentuk buah yang tidak normal. Gejala itu merupakan suatu kendala yang dapat menyebabkan kegagalan dalam penyerbukan dan pembuahan baik alami maupun buatan, dan akhirnya dapat mengakibatkan gagalnya produksi buah dan pembentukan benih. Dalam produksi benih mentimun hibrida, keberhasilan polinasi dipengaruhi oleh kematangan dari bunga jantan dan bunga betina itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan waktu yang sesuai dalam melakukan polinasi untuk melihat reseptifitas stigma dan viabilitas polen pada tingkat yang sama. Perbandingan jumlah dalam bunga jantan dengan betina yang digunakan dalam proses polinasi juga sangat penting untuk menghasilkan jumlah biji dengan kualitas yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat reseptivitas dan jumlah polen yang dapat di tampung oleh stigma pada waktu tertentu pada tanaman mentimun untuk menghasilkan benih dengan kualitas yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu penyerbukan dan proporsi bunga betina dengan bunga jantan terhadap hasil dan kualitas benih mentimun hibrida. Hipotesis yang diajukan ialah Terdapat perbedaan hasil dan kualitas benih mentimun pada waktu penyerbukan dan proporsi bunga betina dengan bunga jantan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai bulan Mei 2014, di desa Tumpuk, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. Bahan yang digunakan untuk penelitian terdiri dari bahan tanam bibit mentimun induk jantan dan induk betina dan bahan yang digunakan dalam proses budidaya berupa mulsa plastik hitam perak, ajir bambu, pupuk NPK, pupuk kompos, insektisida, fungisida, penjepit seng, kertas koran, dan benang penanda. Peralatan yang digunakan dalam penelitian berupa gembor, cangkul, sabit, cutter, pinset, nampan plastik, handuk, jangka sorong, roll meter, timbangan, sprayer, gunting, alat tulis, penggaris, plakat nama, dan kamera digital. Metode penelitian ini menggunakan percobaan faktorial dengan Rancangan Acak Kelompok Faktorial meliputi 2 faktor perlakuan yang diulang 6 kali, yaitu faktor pertama adalah pengaruh waktu penyerbukan tanaman. Perlakuan yang diberikan terdiri atas: (W1) pukul 06.00-07.00, (W2) pukul 08.00-09.00, dan (W3) pukul 10.00-11.00. Faktor kedua adalah proporsi bunga betina dengan bunga jantan. Perlakuan yang digunakan terdiri dari: (P1) 1 bunga jantan ♂: 1 bunga betina ♀, (P2) 1 bunga jantan ♂: 2 bunga betina ♀, dan (P3) 1 bunga jantan ♂: 3 bunga betina ♀ . Pengamatan terdiri dari pengamatan panen yang meliputi hasil buah, kualitas buah, hasil benih, dan kualitas benih. Selanjutnya dilakukan analisis dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) taraf 5%. Jika perlakuan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap hasil pengamatan, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji beda nyata (BNT) pada taraf 5 %. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan waktu penyerbukan memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah buah panen, bobot buah pertanaman, panjang buah, bobot benih pertanaman, persentase benih bernas, bobot 100 biji, keserempakan perkecambahan, dan daya kecambah. Penyerbukan yang dilakukan pukul 06.00 WIB memberikan hasil yang lebih baik dari pada perlakuan waktu penyerbukan yang lain. Proporsi bunga betina dengan bunga jantan juga memberikan pengaruh nyata terhadap bobot buah pertanaman, panjang buah, bobot benih pertanaman, persentase benih bernas, bobot 100 biji, keserempakan perkecambahan, dan daya kecambah. Proporsi 1 bunga betina dengan 1 bunga jantan memberikan hasil yang lebih baik dari pada perlakuan proporsi bunga betina dengan bunga jantan yang lain. Interaksi antara proporsi bunga betina dengan bunga jantan dan waktu penyerbukan menunjukkan pengaruh nyata terhadap diameter buah dan jumlah benih pertanaman. Interaksi antara proporsi 1 bunga betina dengan 1 bunga jantan dan penyerbukan pukul 06.00 WIB memberikan hasil yang lebih baik dari pada kombinasi perlakuan yang lain.

English Abstract

Pollination using pollen with good viability and stigma reaches a receptive and ready to collect pollen. The amount of pollen is strongly influenced by the amount of the existing population of male elders. Hybrid cucumber seed farmers often do male flowers pollinated by comparison with the female flowers are not just 1: 1 but also 1: 2 and 1: 3 to save the source of the male. Time used for pollination between 06.00 to 11.00. If pollination is not done at the time of optimum ripeness interest, can occur not the formation of fruit or fruit shape is not normal. The symptoms of an obstacle that can cause failure of pollination and fertilization in both natural and artificial, and ultimately can lead to failure of the production of fruit and seed formation. In the hybrid cucumber seed production, pollination success is influenced by the maturity of male flowers and female flowers itself. Therefore we need an appropriate time to do pollination to see the stigma receptivity and pollen viability at the same level. Comparison of the amount of the male with the female flowers are used in the pollination process is also very important to produce the number of seeds with good quality. This study was conducted to determine the level of receptivity and the amount of pollen that can be accommodated by the stigma at a certain time on cucumber plants to produce seeds with good quality. The purpose of this study was to determine the effect of time and the proportion of female flowers pollinated by the male flowers on the yield and quality of cucumber hybrid seed. There is a proposed hypothesis is that differences in yield and quality of cucumber seeds at a time and the proportion of female flowers pollinated by the male flowers. The experiment was conducted from February to May 2014, in the Tumpuk village, district Trenggalek. Materials used for the study consisted of cucumber seedling planting material and the male parent and a female parent materials used in the cultivation process in the form of black plastic mulch silver, bamboo stakes, NPK fertilizer, compost fertilizer, insecticide, fungicide, zinc clamp, newsprint, and thread marker. Tools used in the research is a hype, hoe, sickle, cutter, tweezers, plastic trays, towels, calipers, roll meters, scales, sprayer, scissors, stationery, ruler, name plaques, and digital cameras. This research method uses factorial experiment with a factorial randomized block design includes 2 factors were repeated 6 times, the first factor is the influence of crop pollination time. Treatments consisted of: (W1) at 6:00 to 7:00, (W2) at 8:00 to 9:00, and (W3) at 10:00 to 11:00. The second factor is the proportion of female flowers with male flowers. The treatments consisted of: (P1) 1 male flowers ♂: 1 ♀ female flowers, (P2) 1 male flowers ♂: 2 ♀ female flowers, and (P3) 1 the male flowers ♂: 3 ♀ female flowers. Observations in the observation of the harvest is divided into fruit set, fruit quality, seed yield, and seed quality. Data were obtained from observations then analyzed by using analysis of variance (ANOVA) level of 5%. If treatment showed significant effect on the results of observations, then tested further by using real difference test (LSD) at the 5% level. From the results of research conducted pollination time can be concluded significant effect on the amount of fruit harvest, planting fruit weight, fruit length, weight of seed planting, seed pithy percentage, 100 seed weight, germination synchrony, and germination. Pollination is carried out 06.00 am gives better results than other treatments pollination time. The proportion of female flowers with male flowers also provide a real influence on planting fruit weight, fruit length, weight of seed planting, seed pithy percentage, 100 seed weight, germination synchrony, and germination. The proportion of female flowers 1 to 1 male flowers give better results than the proportion of female flowers treated with another male flowers. The interaction between the proportion of female flowers with male flowers and pollination time showed significant effect on fruit diameter and number of seed planting. The interaction between the proportion of female flowers 1 to 1 male flowers and pollination 06.00 am gives better results than other treatment combinations.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2014/478/051500027
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Hasbi
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/129961
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item