BKG

Dewantari, RimaPutri (2014) Pengaruh Mulsa Jerami Padi dan Frekuensi Waktu Penyiangan Gulma pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merril. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan salah satu komoditas pangan yang penting di Indonesia yang memiliki kandungan protein tinggi. Kebutuhan kedelai meningkat setiap tahunnya seiring dengan meningkatnya minat masyarakat untuk mengkonsumsi protein nabati rendah lemak dan kebutuhan bahan baku untuk industri yang terus meningkat. Akan tetapi, tingkat produktivitas kedelai di Indonesia pada tahun 2012 masih rendah, yaitu  1,4 ton ha-1. Rendahnya produktivitas tanaman kedelai tersebut diduga sebagai akibat : (1) kehadiran gulma yang dapat menjadi pesaing bagi tanaman kedelai, (2) umumnya tanaman kedelai dibudidayakan pada musim marengan, yaitu transisi antara musim penghujan dengan musim kemarau sehingga kebutuhan air menjadi terbatas untuk menunjang pertumbuhan yang optimal. Salah satu teknik budidaya untuk meningkatkan produksi tanaman kedelai yang maksimum yaitu dengan memodifikasi iklim mikro di sekitar tanaman, yaitu dengan menggunakan mulsa. Jerami padi dapat dimanfaatkan sebagai mulsa, yang berfungsi merubah iklim mikro tanah dan menekan pertumbuhan gulma. Di sisi lain, salah satu metode pengendalian gulma lainnya ialah dengan penyiangan. Penyiangan gulma dilakukan untuk membersihkan tanaman budidaya dari tumbuhan gulma yang dapat mengganggu proses pertumbuhan tanaman budidaya tersebut sehingga tanaman budidaya dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal (Cahyono, 2007). Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mempelajari pengaruh dari kombinasi ukuran mulsa jerami padi dan frekuensi waktu penyiangan gulma pada pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai, (2) Menentukan kombinasi ukuran mulsa jerami padi dan waktu penyiangan gulma yang tepat agar diperoleh pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai paling tinggi. Hipotesis yang diajukan adalah aplikasi kombinasi mulsa jerami padi yang dicacah dengan waktu penyiangan 24 dan 44 hst akan diperoleh pertumbuhan dan hasil kedelai paling tinggi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juni 2014 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, yang terletak di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Alat yang digunakan dalam penelitian ini ialah Leaf Area Meter (LAM), timbangan analitik, oven, kamera, cangkul, meteran, alat tugal, tali rafia, Quantum meter, Soil Moisture Tester dan termometer tanah. Bahan yang digunakan ialah benih kedelai varietas Anjasmoro, pupuk N (Urea: 45%N), P (SP-36: 36% P2O5), K(KCl: 60% K2O), insektisida Decis 25 EC, Ripcord 50 EC dan jerami padi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana, dengan menempatkan 9 perlakuan yaitu : (M0) = Tanpa mulsa + tanpa disiang, (M1) = Mulsa jerami tanpa dicacah + tanpa disiang, (M2) = Mulsa jerami tanpa dicacah + disiang umur 24 hst, (M3) = Mulsa jerami tanpa dicacah + disiang umur 44 hst, (M4) = Mulsa jerami tanpa dicacah + disiang umur 24 dan 44 hst, (M5) = Mulsa jerami dicacah + tanpa disiang, (M6) = Mulsa jerami dicacah + disiang umur 24 hst, (M7) = Mulsa jerami dicacah + disiang umur 44 hst, (M8) = Mulsa jerami dicacah + disiang umur 24 dan 44 hst. Perlakuan diulang 3 kali sehingga diperoleh 27 satuan kombinasi perlakuan. Pengamatan dilakukan secara destruktif dengan mengambil 2 tanaman contoh untuk setiap kombinasi perlakuan yang dilakukan pada saat tanaman berumur 15, 30, 45 dan 60 hst. Parameter yang diamati meliputi komponen pertumbuhan yaitu : jumlah daun, jumlah cabang, luas daun, bobot kering total tanaman. Serta komponen hasil yang diamati mencakup : jumlah polong per tanaman, bobot polong per tanaman, jumlah polong isi per tanaman, bobot polong isi per tanaman, bobot polong hampa per tanaman, bobot biji per tanaman, bobot 100 biji dan hasil panen (ton ha-1). Komponen analisis pertumbuhan tanaman, antara lain : Laju Pertumbuhan Relatif (LPR) dan Indeks Panen (IP). Pengamatan komponen lingkungan yang dilakukan ialah : Penerimaan radiasi matahari, temperatur tanah dan kelembapan tanah. Selain itu juga dilakukan pengamatan pertumbuhan gulma yang dilakukan pada saat sebelum tanam, 24 hst, 44 hst dan 54 hst. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5%. Bila hasil pengujian terdapat pengaruh nyata dari perlakuan yang diberikan, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %. Pemulsaan jerami dan waktu penyiangan berpengaruh nyata pada pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Pada tanaman yang diberi mulsa jerami tanpa dicacah + disiang umur 24 dan 44 hst maupun mulsa jerami dicacah + disiang umur 24 dan 44 hst secara nyata dapat meningkatkan parameter pertumbuhan dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi pada beberapa parameter saat panen. Namun demikian, apabila ditinjau dari tingkat efisiensi penggunaan biaya dan daya saing produksi, perlakuan kombinasi mulsa jerami dicacah + disiang umur 24 dan 44 hst lebih efisien dan menguntungkan apabila dibandingkan dengan perlakuan kombinasi mulsa jerami tanpa dicacah + disiang umur 24 dan 44 hst yaitu dengan nilai B/C masing-masing sebesar 1,20 dan 1,08.

English Abstract

Soybean (Glycine max (L.) Merrill) is one of the important food commodities in Indonesia, which has a high protein content. Soybean demand increases each year in line with the increasing interest of the public to consume low-fat vegetable protein and the needs of raw materials to an industry that continue to grow. However, the productivity of soybean in Indonesia in 2012 is still low,  1,4 tons ha-1. The low productivity of soybean plants were allegedly as a result: (1) the presence of weeds that could be a competitor for the soybean crop, (2) is generally cultivated soybean plants marengan season, namely the transition between the rainy season to the dry season, so that the water needs to be limited to support growth optimal. One of cultivation techniques to increase the maximum soybean crop production is by modifying the the microclimate around the plants, is by using mulch. Straw can be used as mulch, which serves to change the micro climate soil and suppress weed growth. On the other hand, one of the other methods of weed control is to weeding. Weeding is done to rid crops of plants weeds that may interfere with the growth of the crop plants so that crops can grow and develop optimally (Cahyono, 2007). Research’s purpose is to determine the effect of the combination of the size of straw mulch and weeding period on the growth and yield of soybean plants and determine the combination of the size of straw mulch and weeding period the right time in order to obtain growth and yield of soybean highest. The hypothesis is application cutting straw mulc combined with weeding when 24 ad 44 dap will be obtained soybean growth and yield the highest. The research was done on March to June 2014, in the experimental farm the Faculty of Agriculture, Brawijaya University, Jatikerto village, Malang. The tools used in this research are Leaf Area Meter (LAM), analytical balance, oven, cameras, hoes, meter, drill tools, rope, Quantum meter, Soil Moisture Tester and soil thermometer. The material used is soybean seed varieties Anjasmoro, N fertilizer (Urea 45% N), P (SP-36: 36% P2O5), K (KCl: 60% K2O), insecticide Decis 25 EC, Ripcord 50 EC and straw mulch. This research used a randomized block design, by placing 9 treatment are M0: no mulch + no weeding; M1: spread straw mulch + no weeding; M2: spread straw mulch + weeding when 24 dap; M3: spread straw mulch + weeding when 44 dap; M4: spread straw mulch + weeding when 24 and 44 dap; M5: cutting straw mulch + no weeding; M6: cutting straw mulch + weeding when 24 dap; M7: cutting straw mulch + weeding when 44 dap; M8: cutting straw mulch + weeding when 24 and 44 dap. Oservations were carried out destructively by taking two plants sample for each treatment combination were conducted when the plants are 15 dap, 30 dap, 45 dap and 60 dap. Observation of growth consist of number of leaves, number of branches, leaf area, total dry weight of plants. Yield components consist of number of pods per plant, weight of pods per plant, number of filled pods per plant, weight of field pods per plant, weight of empty pods per plant, weight of seed per plant, weight of 100 seed and yield (tons ha-1). Component analysis of plant growth, consist of: Relative Growth Rate (LPR) and Harvest Index (IP). Observations of environmental components are: Acceptance of solar radiation energy, soil temperature and soil moisture. Weed observation have done when before planting, 24 dap, 44 dap and 54 dap. Data observation was analyzed using analysis of variance (F test) at the level of 5%. If the test results are tangible effect of a given treatment, then continued with a comparison test between treatments using the BNT at the 5% level. Straw mulching and weeding a significant effect on the growth and yield of soybean. In plants treated with spread straw mulch + weeding time 24 and 44 dap and cutting straw mulch + weeding time 24 and 44 dap can significantly improve the growth parameters and yield a higher value on some parameters at harvest. However, when viewed from the level of efficiency and competitiveness of production costs, the treatment combination of cutting straw mulch + weeding when 24 and 44 dap is more efficient and profitable when compared with the treatment combination of spread straw mulch + weeding when 24 and 44 dap is the value B / C respectively 1,20 and 1,08

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2014/421/051407807
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/129899
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item