BKG

Sholekha, Ummatus (2014) AnalisisNilai Daya Gabung Galur Mandul Jantan dan Heterosis pada 12 Padi Hibrida (Oryza sativa L.). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Ketersediaan pangan harus memadai untuk menjaga kestabilan ekonomi dan politik bangsa, terutama dalammenghadapi perubahan iklim, lahan pertanian yang semakin sempit, serta kemungkinan serangan hama dan penyakit. Oleh karena itu persediaan beras harus selalu dalam keadaan surplus sebesar 10 juta ton.Surplus beras dapat terpenuhi apabila produksi Gabah Kering Giling (GKG) ditingkatkan sebesar 3,04%. Di berbagai negara di Asia termasuk Indonesia padi hibrida yang unggul dipilih untuk meningkatkan produksi padi karena potensi hasil 15-20% lebih tinggi dari galur murninya. Keunggulan hibrida terkait dengan peristiwa heterosis atau hibrida vigor yang merupakan fenomena dimana penampilan F1 (keturunan pertama) hasil dari persilangan dua tetua yang secara genetik berbeda memiliki sifat superior (di atas) kisaran dari tetua-tetuanya. Perakitan varietas hibrida yang unggul memerlukan tetua-tetua galur murni yang unggul pula. Pemilihan tetua dilakukan dengan menilai galur-galur murni tersebut melalui pendugaan nilai daya gabung baik daya gabung umum (DGU) maupun daya gabung khusus (DGK). Pendugaan nilai DGU dan DGK mampu mengklasifikasikan kemampuan galur murni dalam menghasilkan keturunan yang memiliki kombinasi dari kedua tetua persilangan. Penelitian ini bertujuan : 1. Untuk DGU pada galur-galur mandul jantan dan DGK pada hibridanya, 2. Untuk mengetahui nilai heterosis dan heterobeltiosis pada beberapa kombinasi padi hibrida. Hipotesis dari penelitian ini adalah 1. Beberapa genotip tetua galur mandul jantan memiliki nilai daya gabung umum dan daya gabung khusus yang tinggi pada hibridanya. 2. Beberapa populasi padi hibrida (F1) turunan beberapa galur mandul jantan/penguji ( restorer ) memiliki nilai heterosis dan heterobeltiosis yang tinggi. Penelitian dilaksanakan di lahan riset yang terletak di Desa Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang dengan ketinggian + 450 mdpl, dan suhu rata-rata harian 23-29 o C. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2013 – Mei 2014. Bahan yang digunakan adalah 12 hibrida (F1) hasil persilangan antara 4 galur mandul jantan dengan 3 galur penguji( restorer ), 4 galur mandul jantan, dan 3 penguji( restorer ). Pupuk yang digunakan antara lain Urea 300 kg/ha, SP36 100 kg/ha, KCl 100 kg/ha dan NPK 100 kg/ha dan pestisida yang digunakan disesuaikan dengan serangan yang ada di lapang. Alat yang digunakan meliputi alat tanam, plastik kemasan, karung kemasan, penggaris, meteran, timbangan, alat tulis, dan kamera. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari 12 populasi F1 hasil persilangan 4 tetua galur mandul jantan dengan 3 tetua penguji, 4 tetua galur mandul jantan dan 3 tetua penguji. Jumlah perlakuan keseluruhan ialah 19 perlakuan. Variabel pengamatan meliputi bobot hasil perplot, jumlah anakan perrumpun, panjang malai, jumlah gabah isi permalai, jumlah gabah hampa per malai, jumlah gabah total permalai, persentase gabah isi per malai, dan bobot 1000 butir. Metode galur x penguji digunakan untuk analisis nilai daya gabung dimana dalam metode ini galur mandul jantan sebagai galur dan galur restorer sebagai penguji. Analisis data meliputi analisis ragam menggunakan analisis ragamgalur x penguji RAK dan karena F hitungmenunjukkan perbedaan nyata pada taraf 5% dan 1% dilanjutkan perhitungan daya gabung umum, daya gabung khusus, heterosis dan heterobeltiosis. Uji beda nyata terhadap efek daya gabung umum dan khusus menggunakan galat baku baku DGU (galur), DGU (penguji) dan DGK yang dianalisis menggunakan uji t. Galur mandul jantan CGMJ14P02F merupakan galur mandul jantan terbaik yang ditunjukkan oleh nilai DGU tertinggi dan berpengaruh nyata pada karakter hasil dan karakter komponen hasil jumlah gabah total per malai.Di antara seluruh kombinasi hibrida yang ada CGMJ14P02F/R114002R adalah hibrida terbaik yang ditunjukkan oleh nilai DGK tertinggi dan berpengaruh nyata pada karakter hasil dan karakter komponen hasil jumlah gabah isi per malai. Hibrida CGMJ14P02F/R114002R juga merupakan hibrida terbaik dari segi nilai heterosis karena menunjukkan nilai heterosis dan heterobeltiosis tertinggi, positif, dan melebihi 15% pada karakter hasil dan karakter komponen hasil jumlah gabah isi per malai, jumlah gabah total per malai, dan persentase gabah isi per malai.

English Abstract

Food supply should be adequate to maintain economic and political stability of the nation, especially in the face of climate change, constriction of agricultural land area, and the possibility of pests and diseases. Therefore, the supply of rice should always be a surplus about 10 million tons. The rice surplus could be reached if the production of dry unhusked rice increased about 3.04 %. In many countries in Asia including Indonesia, farmers select superior hybrid rice to increase rice production because of the yield potentialwhich is 15-20% higher than the inbrid lines. The superiority of hybrid is heterosis or hybrid vigor phenomenon which is the F1 (first generation) appearanceof two genetically different parents crosses has superior characteristics above the range of mid-parents. Superior hybrid varieties require superior inbrid lines as the parents. The selection is conducted by assessing inbrid parental lines includes predicting ​​combining ability both general combining ability (GCA) of parents and specific combining ability (SCA) of the hybrids. Estimation the value of GCA and SCA are able to classify the ability of inbrid lines in producing hybridsthat have a good combination of parental crossing. This research aimed :1. To estimate the value of GCA in CMS lines and SCA in the hybrids, 2.To determine the value of heterosis and heterobeltiosis in hybrid rice. 2. The hypothesis of this research were 1. Some parents genotype had high general combining ability and specific combining ability. 2. Some populations of hybrid rice (F1) from some CMS linesx restorer lines hadhigh heterosis and heterobeltiosis. The experiment was conducted in the research field in Tunggulwulung, Lowokwaru, Malang, with an altitude of + 450 meters above sea level, and the average daily temperature is about 23-29 o C. Research was conducted in December 2013-Mei 2014. The materials used are 19 hybrids (F1) from crosses 4 CMS lines/3 tester (restorer) lines, 4 CMS lines and 3 tester (restorer) lines. Fertilizers used including urea 300 kg/ha, SP36 100 kg/ha, KCl 100 kg/ha and NPK 100 kg/ha and pesticides were used according to the attacks on the field. The tools used are a cropping tools, plastic bag, ruler, meter, scales, and a camera . The experiment was laid outin Randomized Complete Block Besign (RCBD) with three replications. Treatments consisted of 19 F1 populations from crosses 10 CMS lines with 3 tester lines, 4 CMS lines and 3 tester lines. The number of treatments was 19 treatments. Observed variables wereyield perplot, number of tiller per hill,panicle length, number of filled grain per panicle, number of empty grain per panicle, number of total grain per panicle, percentage of filled grain perpanicle and 1000-grain weight. Line x tester method was applied to analyze the value of combining ability which werein this method included, a CMS lines as the lines and restorer lines as the testers. Data analysis included analysis of variance using Analysis of Variance Line x Tester with RCBD design and because f-test 5 % and 1% showedsignificant different, analysis wascontinued to determine general combining ability, specific combining ability, heterosis, and heterobeltiosis. Significant effect of the general combining ability and specific combining ability effects was analyzed with standard error of GCA(line), GCA ( tester) and SCA and continued with t test. CGMJ14P02F lines was CMS lines with the best GCA value in yield and yield component character of number of total grain per panicle. Among all hybrid combination, CGMJ14P02F/R114002R was a hybrid with the best SCA value in the yield and yield component character of number of filled grain per panicle. CGMJ14P02F/R114002R hybrid was also the best hybrid base on the value of heterosis that showed highest heterosis and heterobeltiosis in yield character and over 15% in the value of heterosis and heterobeltiosis of number of filled grain per panicle, number of total grain per panicle, and percentage of filled grain per panicle.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2014/275/051406103
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Hasbi
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/129740
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item