BKG

Yudianto, ArikAgus (2014) Pengaruh Jarak Tanam dan Frekuensi Pembumbunan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Garut (Marantha arundinaceaeL.). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Tanaman garut ( Marantha arundinaceae L.) ialah salah satu tanaman umbi-umbian, merupakan bahan pangan lokal mempunyai potensi untuk bahan baku pembuatan tepung alternatif pengganti terigu. Pati garut dapat digunakan untuk subtitusi terigu hingga 50-100 % (Djaafar dan Rahayu, 2006). Berdasarkan pada tingginya tingkat pemanfaatan tersebut, mengakibatkan permintaan umbi garut mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Akan tetapi, peningkatan permintaan ini tidak diimbangi dengan produktivitas umbi garut yang dihasilkan karena disebabkan salah satunya adalah sistem budidaya tanaman garut yang tidak tepat. Salah satu sistem budidaya yang amat penting untuk dilakukan adalah pengaturan jarak tanam dan frekuensi pembumbunan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kombinasi perlakuan jarak tanam dan frekuensi pembumbunan yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman garut sedangkan hipotesis yang diajukan adalah jarak tanam 30 x 50 cm dengan frekuensi pembumbunan 3 kali yaitu umur 75, 100 dan 125 HST mampu menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang terbaik terhadap tanaman garut. Penelitian telah dilaksanakan di desa Mulyoagung, kecamatan Dau kabupaten Malang pada September 2013 sampai dengan Februari 2014. Alat yang digunakan adalah cangkul, gembor, timbangan analitik, meteran, pisau dan kamera. Bahan yang digunakan berupa umbi garut berumur 12 bulan, urea, KCl dan SP-36. Penelitian ini merupakan percobaan sederhana dengan metode Rancangan Acak kelompok (RAK) dengan 12 perlakuan jarak tanam dan frekuensi pembumbunan diulang sebanyak 3 kali. Pengamatan penelitian dilakukan non destruktif berupa umur muncul tunas, jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun. Pengamatan destruktif berupa bobot segar umbi per tanaman dan panen berupa panjang umbi, jumlah umbi, bobot segar umbi per tanaman per petak panen dan hasil panen per hektar data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA pada taraf 5 % dan apabila ada perbedaan yang nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan Uji BNT pada taraf 5 %. Aspek pertumbuhan tanaman garut pada perlakuan J 12 menunjukkan kombinasi perlakuan jarak tanam dan frekuensi pembumbunan yang terbaik, yang menghasilkan jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun yang paling tinggi, sedangkan perlakuan J 1 menunjukkan pertumbuhan yang paling rendah. Aspek pengamatan hasil per tanaman garut meliputi bobot segar umbi per tanaman, jumlah umbi dan panjang umbi per tanaman pada perlakuan J4P3 menunjukkan hasil yang paling tinggi dan perlakuan J 1 menunjukkan hasil yang terendah terhadap kombinasi jarak tanam dan frekuensi pembumbunan. Bobot segar umbi per petak panen 3 m2 dan hasil panen umbi (ton ha-1) menunjukkan perlakuan J 12 adalah yang terbaik, karena tidak berbeda nyata dengan perlakuan J 1 dan J 3 .

English Abstract

Arrowroot plant ( Marantha arundinaceae L. ) is one of the root crops , a local food has the potential on manufacture raw material alternative to wheat flour . Arrowroot starch flour can be used to substitute up to 50-100 % ( Djaafar and Rahayu , 2006) . Based on the high levels of utilization , resulting in increased demand for arrowroot tubers from year to year . However , the increase in demand is not matched by productivity arrowroot tubers produced because one of them is arrowroot cultivation system that is no tright . One culture systems is very important to do plant spacing and pilled frequency . The purpose of this is knowing from research combined treatment plant spacing and pilled frequency be stongrowth and yield of arrowroot while the hypothesis is a plant spacing of 30 x 50 cm with a pilled frequency of 3 times that age 75 , 100 and 125 DAP able to show growth than results the best of the arrowroot plant . Research has been conducted on the Mulyoagung village , Dau district Malang regency in September 2013 until February 2014 . Tools used was a hoe , hype , analytical scales , tape measure , knife and camera . Materials used in the form of 12 -month old tubers of arrowroot , urea , KCl and SP - 36. The study uses a simple randomized block design ( RBD) with 12 treatment plant spacing and pilled frequency is repeated 3 times . Observational studies conducted non destructive form of age emerged shoots , number of tillers , plant height , number of leaves and leaf area . Observations destructive form of fresh weight of tubers per plant and tuber crops such as length , number of tubers , tuber fresh weight per plant per plot harvested and yield per hectare data were analyzed by ANOVA at 5% level and if there are significant differences between the treatmentis continued by LSD test at 5% level . Aspects of the arrowroot plant growth J 12 treatment showed the combination on best treatment plant spacing and pilled frequency , which resulted in the number of tillers , plant height , number of leaves and leaf area were highest , where as J 1 treatment showed the lowest growth . Aspects observations include arrowroot crop yield per fresh weight of tuber per plant , number of tubers per plant and tuber length on J 12 treatment showed the highest results and J 1 treatment showed the lowest result of the combination of plant spacing and pilled frequency . Fresh weight of tubers per plot of 3 m2 and harvest tuber yield ( tons ha - 1) showed J 12 is the best treatment , because the treatment was not significantly different from J 1 and J 3 .

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2014/265/051406093
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Hasbi
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/129728
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item