BKG

Mustofa, (2013) Uji Adaptasi 13 Genotip Gandum (Triticum aestivum) pada Dataran Tinggi dan Dataran Medium. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Gandum adalah bahan pangan yang dibutuhkan dalam jumlah besar karena gandum menjadi preferensi kedua setelah beras. Sebagian besar olahan makanan Indonesia banyak menggunakan tepung. Konsumsi pangan berbasis gandum terus meningkat yang dewasa ini telah mencapai 16 kg/kapita/tahun. Kebutuhan gandum nasional hampir keseluruhan dipenuhi dari impor, sehingga Indonesia kini menjadi negara pengimpor gandum terbesar kelima dengan total impor 4,5 juta ton/tahun dan angka ini terus meningkat dengan laju 2,6% per tahun. Pada tahun 2020 impor gandum diperkirakan akan mencapai 8,5 juta ton/tahun tentu saja memerlukan devisa yang tidak sedikit (Adnyana, 2006). Gandum merupakan tanaman subtropis sehingga dalam pengembangan di Indonesia terkendala oleh iklim. Indonesia saat ini hanya memiliki tiga varietas gandum yaitu Selayar, Nias dan Dewata yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanaman Sereal yang berlokasi di Propinsi Sulawesi Selatan. Saat ini terdapat satu varietas dan lebih dari 20 genotip yang diintroduksi ke Indonesia dan dilakukan penelitian. Hal ini bertujuan agar terdapat varietas baru gandum yang unggul. Introduksi yang dilakukan perlu dilakukan uji adaptasi pada varietas dan genotip yang memiliki potensi hasil tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui genotip gandum yang memiliki daya adaptasi luas. Percobaan dilakukan pada dua tempat yaitu Junrejo dan Kebun Percobaan Cangar. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan yang digunakan adalah M1, M2, M3, M4, M5, M6, M7, M8, M9, SO3, SO8, SO9, SO10 sebagai genotip yang diuji, sedangkan Jarissa, Selayar dan Nias sebagai varietas pembanding. Apabila terdapat perbedaan yang nyata diantara tiap genotip yang diuji, maka dilakukan pengujian dengan metode Beda Nyata Jujur pada taraf 5%. Berdasarkan hasil analisis ragam gabungan diketahui bahwa variabel muncul anakan pertama (hst), muncul malai, umur berbunga (hst), lebar malai, jumlah spikelet per malai, umur panen (hst), tinggi tanaman (cm), jumlah biji per malai, bobot 1000 biji (g), bobot biji per m2 memiliki interaksi yang berbeda sangat nyata. Sedangkan pada karakter panjang spikelet, jumlah floret per spikelet, panjang malai dan bobot biji per liter genotip uji dapat beradaptasi dengan baik pada kedua lokasi pengujian hal itu dapat diketahui dari interaksi genotip dan lingkungan menunjukkan tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding seperti Selayar, Nias dan Jarissa. Genotip yang mampu beradaptasi dengan baik pada lokasi junrejo adalah genotip M9, hal ini dapat dilihat dari karakter jumlah biji per malai, lebar malai, bobot biji 1000 butir, bobot biji per m2 dan jumlah spikelet per malai. Sedangkan pada lokasi Cangar genotip yang dapat beradaptasi baik adalah M3 ini dapat dilihat dari karakter tinggi tanaman, umur panen, muncul aakan pertama, bobot 1000 butir, bobot biji per m2, jumlah biji per malai, dan jumlah spikelet per malai.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2013/73/051305499
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Hasbi
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/129516
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item