BKG

Pratiwi, Novinda (2013) Pemanfaatan Tepi Bedengan Tanaman Tomat (Lycopersicon Esculentum Mill.) Dengan Berbagai Tanaman Sela Dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Lahan. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Budidaya tomat mempunyai resiko kegagalan dan biaya yang cukup tinggi. Salah satu cara untuk mengurangi resiko kegagalan panen dan mengurangi biaya perawatan ialah melakukan penanaman tomat dengan sistem tanam tumpangsari dengan pengaturan jarak antar tanaman sela. Pada pola tanam tumpangsari akan terjadi kompetisi antara tanaman sela dan tanaman pokok dalam memperebutkan faktor-faktor pertumbuhan seperti air, unsur hara dan cahaya matahari sehingga, perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh berbagai tanaman sela dan jarak antar tanaman sela pada pertumbuhan dan hasil tanaman tomat, sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan pada pola tanam tumpangsari. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis tanaman sela dan jarak antar tanaman sela pada pertumbuhan dan hasil tanaman tomat pada sistem tumpangsari, mengetahui pengaruh berbagai tanaman sela dan jarak antar tanaman sela pada peningkatan produktivitas lahan dan pendapatan petani. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ialah penanaman jenis tanaman sela yang sesuai dan jarak antar tanaman sela yang optimum tidak mengganggu pertumbuhan dan hasil tanaman tomat pada sistem tumpangsari, penanaman tanaman sela yang sesuai dan jarak antar tanaman sela yang optimum dapat meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. Pelaksanaan penelitian pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2012 di Desa Wonomulyo Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Lokasi penelitian terletak pada ketinggian 600 m dpl, jenis tanah andosol dan pH tanah 5,96. Metode penelitiannya menggunakan Rancangan acak kelompok yang terdiri dari 9 perlakuan. Setiap perlakuan diulang 3 kali sehingga diperoleh 27 petak perlakuan, dengan ukuran petak 4 m x 2,4 m. Perlakuannya terdiri dari T0 : Tomat monokultur, T1: Tanaman sawi daging (pakchoy) sebagai tanaman tepi dengan jarak baris 20 cm, T2: Tanaman sawi daging (pakchoy) sebagai tanaman tepi dengan jarak baris 40 cm, T3: Tanaman selada keriting sebagai tanaman tepi dengan jarak tanam baris 20 cm, T4: Tanaman selada keriting sebagai tanaman tepi dengan jarak tanam baris 40 cm, T5: Tanaman sawi putih (petsai) sebagai tanaman tepi dengan jarak baris 40 cm, T6: Tanaman sawi putih (petsai) sebagai tanaman tepi dengan jarak baris 60 cm, T7: Tumpangsari Tanaman bawang daun sebagai tanaman tepi dengan jarak baris 20 cm, T8: Tanaman bawang daun sebagai tanaman tepi dengan jarak baris 40 cm. Pengamatan tanaman tomat dilakukan secara non destruktif dan destruktif. Pengamatan pertumbuhan tomat dilakukan secara non destruktif dengan interval 1 minggu sekali, mulai umur 2 minggu sampai 6 minggu hst. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman (cm), diameter batang (cm), Jumlah daun (helai) per tanaman, Jumlah cabang per tanaman. Pengamatan secara destruktif meliputi : Pengamatan dekstruktif dilakukan sebanyak dua kali, pada awal pembungaan (42 hst) dan akhir panen (92 hst). Analisis data menggunakan analisis ragam dengan menggunakan uji F pada taraf 5%. Apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan maka dilakukan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman berbagai jenis tanaman sela dan berbagai jarak tanam pada sistem tumpangsari tomat berpengaruh nyata pada tinggi tanaman pada semua umur pengamatan, jumlah daun, diameter batang, jumlah cabang, luas daun dan berat kering tanaman, bobot per buah, bobot buah per tanaman, bobot buah per hektar, jumlah buah dan diameter buah tomat. Tumpangsari tanaman tomat dan selada keriting pada jarak tanam 20 dan 40 cm (T3 dan T4) menghasilkan pertumbuhan dan hasil tanaman tomat lebih baik. Tumpangsari tomat dengan petsai dengan bawang daun pada jarak tanam 40 dan 60 cm (T5 dan T6) dan bawang daun 20 dan 40 cm (T7 dan T8) menghasilkan pertumbuhan dan hasil tomat lebih rendah. Hasil tomat lebih tinggi diperoleh pada tumpangsari tomat dengan selada keriting jarak tanam 20 cm dan 40 cm (T3 dan T4), berturut–turut sebesar 73,43 dan 66,99 ton/ha-1. Sedangkan tumpangsari tomat dengan selada keriting jarak antar tanaman 20 cm (T3) menghasikan nilai kesetaraan lahan dan R/C rasio lebih tinggi, dengan nilai LER 1,52 dan R/C rasio 2,54 sehingga meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2013/272/051310270
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Hasbi
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/129389
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item