BKG

Ghifari, MFachrurroziAl (2013) Pengaruh Kombinasi Kompos Kotoran Sapi dan Paitan (Tithonia diversifolia L.) Terhadap Produksi Cabai Keriting (Capsicum annum L.). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Peluang dalam produksi pertanian organik, khususnya cabai keriting masih terbuka lebar hal ini didukung dengan pertumbuhan pasar produk pertanian organik dunia yang terus meningkat 20% per tahun. Luas total area pertanian organik di Indonesia pada tahun 2009 adalah 231.687,11 ha. Sementara itu, total jumlah pelaku pertanian organik yang tercatat pada tahun 2009 hanya sebesar 12.101 produsen, jumlah ini dirasa relatif sedikit dan masih perlu ditingkatkan lagi. Tanaman cabai keriting responsif terhadap penyerapan unsur hara makro seperti N, P dan K. Kebutuhan unsur hara makro pada proses budidaya tanaman cabai keriting dapat dipenuhi dengan penggunaan kompos kotoran sapi yang memiliki kandungan N 0,40-2%, P 0,20-0,50% dan K 0,10-1,5%. Selain itu pemenuhan kebutuhan tanaman cabai keriting pada unsur makro juga dapat dipenuhi dengan alternatif penggunaan paitan (Tithonia diversifolia) sebagai bahan organik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran kombinasi kompos kotoran sapi dan paitan sebagai pupuk organik dalam produksi cabai keriting, serta untuk mengetahui residu hara pada petak lahan produksi cabai keriting dengan perlakuan pupuk organik dan anorganik. Penelitian ini dilaksanakan di lahan milik Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Jl. Joyo Agung no 2 Tlogomas Kota Malang pada bulan September 2012 hingga Februari 2013. Alat yang digunakan antara lain cangkul, sabit, gunting, timbangan, gembor, pisau, baki, meteran, tali raffia, penggaris, pinset dan oven. Bahan yang digunakan antara lain ajir, benih cabai keriting varietas lokal, daun dan batang paitan segar yang didapat dari sekitar lahan penelitian, kompos kotoran sapi dan pupuk anorganik seperti urea (45% N), SP36 (36% P2O5) dan KCl (60% K2O). Penelitian ini menggunakan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 6 perlakuan dan 4 kali ulangan, adapun perlakuan tersebut meliputi: (1) P0 = anorganik (Urea = 544,978 kg/ha-1, SP36 = 256,517 kg ha-1, KCl = 272,358 kg ha-1); (2) P1 = kompos kotoran sapi 25% (4,707 ton ha-1) dan paitan 75% (4,004 ton ha-1); (3) P2 = kompos kotoran sapi 50% (9,414 ton ha-1) dan paitan 50% (2,67 ton ha-1); (4) P3 = kompos kotoran sapi 75% (14,12 ton ha-1) dan paitan 25% (1,335 ton ha-1); (5) P4 = kompos kotoran sapi 100% (18,8272 ton ha-1); (6) P5 = paitan 100% (5,3392 ton ha-1). Pelaksanaan penelitian meliputi persiapan lahan, penyemaian, penanaman, penyulaman, pemupukan, penyiraman, pengendalian hama dan penyakit, dan panen. Pengamatan pada tanaman cabai keriting dilakukan secara nondestruktif, destruktif, panen, dan analisa kimia tanah. Pengamatan nondestruktif dilakukan sebanyak 3 kali dalam berbagai umur dengan parameter tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga. Pengamatan destruktif dilakukan sebanyak 3 kali dalam berbagai umur (30, 60, 90 hst) dengan parameter bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, laju pertumbuhan relatif tanaman, dan luas daun. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5 % untuk mengetahui pengaruh perlakuan, apabila hasil nyata maka dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 5 % untuk mengetahui perbedaan diantara perlakuan. Hasil penelitian berdasarkan parameter panen cabai keriting menunjukkan bahwa perlakuan P3 yang berupa kompos kotoran sapi 75% (14,12 ton ha-1) dan paitan 25% (1,335 ton ha-1) memiliki jumlah buah dan berat basah buah yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan lain dengan potensi panen sebesar 2,904 ton/ha. Dari penelitian ini dengan pengaplikasian pupuk anorganik, kompos kotoran sapi dan paitan secara umum menunjukkan adanya peningkatan residu tertinggal dalam tanah seperti persentase N total, P dan K. Persentase residu N yang lebih tinggi terdapat pada perlakuan P4, persentase residu P yang lebih tinggi terdapat pada perlakuan P5 dan persentase residu K yang lebih tinggi terdapat pada perlakuan P4. Saran untuk penelitian ini adalah penentuan waktu pengaplikasian bahan organik sebaiknya dilakukan lebih dari 2 minggu sebelum tanam agar didapat hasil proses dekomposisi yang lebih sempurna, dan waktu tanam lebih baik menghindari musim hujan untuk menghindari kerontokan pada bunga.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2013/267/051310265
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Hasbi
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/129385
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item