BKG

Akbar, Aulia (2012) Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Waktu Penyiangan pada Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine max L.) Var. Grobogan. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Kedelai ialah komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi. Kebutuhan kedelai meningkat setiap tahunnya seiring meningkatnya minat masyarakat untuk mengkonsumsi protein nabati rendah lemak dan kebutuhan bahan baku untuk industri yang terus meningkat. Tetapi produksi kedelai mengalami penurunan setiap tahunnya sehingga pemerintah Indonesia mengambil kebijakan untuk melakukan impor guna memenuhi kesenjangan antara produksi dan konsumsi dalam negeri. Satu dari beberapa faktor yang menjadi penyebab rendahnya produksi kedelai nasional ialah gulma. Kehadiran gulma pada pertanaman kedelai tidak dapat dihindarkan, sehingga terjadi kompetisi antara keduanya. Penurunan hasil akibat gulma pada tanaman kedelai dapat mencapai 30% - 50%. Karena itu dibutuhkan suatu usaha untuk peningkatan produksi kedelai nasional melalui pengendalian gulma secara efektif dan efisien. Sistem olah tanah ialah suatu usaha pencegahan tumbuhnya gulma pada areal budidaya tanaman. Olah tanah yang tepat dapat menekan pertumbuhan gulma. Berdasarkan uraian di atas, dirasa penting untuk melakukan penelitian Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Waktu Penyiangan pada Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine max L.) Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Mempelajari pengaruh sistem olah tanah dan waktu penyiangan gulma sebagai pengendalian gulma pada pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (Glycine max. L), (2) Memperoleh kombinasi sistem olah tanah dengan waktu penyiangan gulma sebagai pengendalian gulma pada pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. (Glycine max. L) dengan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ialah sistem olah tanah maksimal dengan waktu penyiangan 24 dan 44 hst dapat mengendalikan gulma lebih baik pada pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT). Sistem olah tanah (T) ditempatkan sebagai petak utama yang terdiri atas 3 taraf, ialah T0 = Tanpa Olah Tanah, T1 = Olah Tanah Minimal dan T2 = Olah Tanah Maksimal. Sedangkan sebagai anak petak ialah waktu penyiangan (M) yang terdiri atas 3 taraf, ialah M0 = Tanpa Penyiangan, M1 = Penyiangan 24 hst dan M2 = Penyiangan 24 dan 44 hst. Perlakuan diulang 3 kali sehingga total petak percobaan ialah 27 petak. Pelaksanaan dimulai dengan persiapan lahan, disiapkan sesuai dengan jumlah petak perlakuan ialah sebanyak 27 petak, petak percobaan dibuat dengan ukuran 300 cm x 140 cm. Setelah itu tanah diolah sesuai dengan perlakuan, untuk perlakuan sistem tanpa olah tanah (T0) tanah tidak diolah. Pada perlakuan sistem olah tanah minimal (T1), tanah hanya diolah pada alur tanaman kedelai menggunakan cangkul. Sedangkan pada perlakuan sistem olah tanah maksimal (T2), tanah diolah secara keseluruhan dengan kedalaman 20 – 30 cm hingga gembur dengan menggunakan cangkul. Penanaman benih kedelai ditanam dengan kedalaman 3 cm dan menempatkan 2 benih per lubang tanam. Jarak tanam yang digunakan ialah 20 cm x 30 cm. Penyiangan dilakukan secara mekanik dengan sabit atau penyiangan gulma secara manual. Waktu penyiangan dilaksanakan pada umur 24 hst (M1) dan 24 dan 44 hst (M2). Pemeliharaan tanaman meliputi penyulaman dan penjarangan, pemupukan, pengairan dan pengendalian hama dan penyakit. Panen dilakukan setelah tanaman masak secara fisiologis. Panen dilakukan setelah tanaman masak secara fisiologis (76 hst) ditandai dengan polong berwarna coklat tua secara manual. Hasil panen dibersihkan dari tanah kemudian langsung dikeringkan dengan cara dijemur selama 2 hari. Pengamatan pada tanaman kedelai dilakukan secara non destruktif dan destruktif. Pengamatan non destruktif dilakukan untuk mengamati jumlah daun dan tinggi tanaman dengan mengambil 2 tanaman contoh. Sedangkan parameter pertumbuhan yang lain dilakukan pengamatan secara destruktif. Pengamatan destruktif ialah dengan cara mengambil 2 tanaman contoh untuk setiap kombinasi perlakuan yang dilakukan pada hari ke 14, 24, 34, 44, 54 dan 64. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5%. Bila hasil pengujian diperoleh perbedaaan yang nyata maka dilanjutkan dengan uji perbandingan antar perlakuan dengan menggunakan Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa sistem olah tanah dan waktu penyiangan berpengaruh nyata pada pertumbuhan, hasil tanaman kedelai dan nilai SDR gulma serta bobot kering gulma pada pertanaman kedelai. Kombinasi perlakuan sistem olah tanah maksimal dengan waktu penyiangan 24 dan 44 hst memberikan hasil panen tertinggi kedelai 1.19 ton ha-1, jumlah polong isi/tanaman tertinggi 17,67 polong/tanaman, jumlah biji/tanaman tertinggi 30,33 biji/tanaman, nilai bobot kering total gulma terendah 0,21 g 0,25 m-2 pada umur pengamatan 54 hst. Tetapi kombinasi perlakuan sistem olah tanah dengan waktu penyiangan 24 dan 44 hst belum mampu untuk mengendalikan secara efektif gulma Imperata cylindrica, Cyperus rotundus dan Cynodon dactylon yang tetap mendominasi pada lahan pertanaman kedelai.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2012/299/051204788
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Hasbi
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/129097
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item