BKG

Anjarsari, Octaviana (2011) Aplikasi Kompos Kayu Apu (Pistia stratiotes L.) dan Dosis Pupuk Fosfor Pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merril) Varietas Kaba. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Kayu apu ( Pistia stratiotes L.) ialah jenis gulma air yang tumbuh mengapung pada areal pertanaman padi. Karena jumlahnya yang cukup banyak maka oleh petani biasanya dikumpulkan lalu ditimbun di tepi petak sawah begitu saja sebagai limbah pertanian yang belum banyak dimanfaatkan. Kayu apu dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik karena memiliki beberapa kelebihan, antara lain: reproduksi vegetatif yang cepat, banyak mengandung unsur hara (N, P, K, Ca, Mg, Fe, Na dan Zn), tidak mengandung banyak kayu dan mudah didapat (Ablude, 2005). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Haryatun (2008) didapatkan hasil bahwa selain dapat meningkatkan bahan organik tanah, kayu apu juga mengandung unsur N, P dan K yang termasuk dalam kategori tinggi ialah berturut-turut sebesar 2,67%, 0,30% dan 1,12%. Kedelai ialah tanaman kacangkacangan sebagai bahan pangan kaya akan sumber protein nabati yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia. Produksi kedelai pada tahun 2010 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2009 dan hanya mencapai 905,01 ribu ton biji kering. Kebutuhan nasional mencapai 2,8 juta ton per tahun sehingga diperlukan peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan kedelai yang masih kurang (Anonymous, 2010). Peningkatan produksi kedelai dapat dilakukan dengan upaya peningkatan produktivitas melalui upaya-upaya budidaya, salah satunya ialah pemupukan. Pupuk fosfor (P) ialah pupuk yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak selain nitrogen dan kalium. Pada tanaman kedelai, pupuk fosfor berperan dalam pembentukan dan pengisian polong. Masalah utama dalam pemupukan P pada lahan pertanian ialah efisiensinya yang rendah, karena hanya 10-20% saja dari pupuk yang diberikan ke tanah dapat dimanfaatkan oleh tanaman (Foth, 1994). Hal ini akibat rendahnya bahan organik yang terkandung didalam tanah. Untuk mengatasi masalah efisiensi pemupukan P yang rendah ialah dengan penambahan bahan organik seperti kompos kayu apu. Tujuan penelitian ini ialah 1) Untuk mempelajari pengaruh aplikasi kompos kayu apu dan dosis pupuk P pada pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai, 2) Untuk penentuan dosis kompos kayu apu dan pupuk P yang tepat sehingga diperoleh pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai yang terbaik. Hipotesis yang diajukan ialah 1) Aplikasi kompos kayu apu dapat meningkatkan efektivitas pemberian dosis pupuk P dan pertumbuhan serta hasil tanaman kedelai, 2) Aplikasi kompos kayu apu 6 ton ha -1 + dosis pupuk P 75 kg ha -1 akan memberi pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai yang terbaik. Penelitian lapang dilaksanakan di Kebun Percobaan UB, Desa Jatikerto, + 303 m dpl., jenis tanah Alfisol, suhu minimal berkisar antara 18 21ºC, suhu maksimal berkisar antara 30 33ºC, curah hujan 100 mm/ bln dan pH tanah 6 2 6.2, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, sejak Maret 2011 hingga Juni 2011. Alat yang digunakan pada penelitian ini ialah cangkul, meteran, alat tugal, tali rafia, timbangan analitik, penggaris, oven dan Leaf Area Meter (LAM). Bahan-bahan yang digunakan ialah benih kedelai varietas Kaba, kompos kayu apu, pupuk Urea (46% N), pupuk SP-36 (36% P 2 O 5 ), pupuk KCl (60% K 2 O), Furadan 3G dan insektisida Decis 2,5 EC dosis 0-1 ml l -1 . Penelitian menggunakan percobaan faktorial yang dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK), meliputi 2 faktor yang diulang 3 kali. Dosis pemberian pupuk P (SP-36) sebagai faktor pertama yang terdiri dari 3 level, ialah: (P 1 ) dosis pupuk fosfor 50 kg/ha, (P 2 ) dosis pupuk fosfor 75 kg/ha, (P 3 ) dosis pupuk fosfor 100 kg/ha. Sedangkan kompos kayu apu sebagai faktor kedua yang terdiri dari 3 level, ialah (K 1 ) tanpa kompos kayu apu, (K 2 ) dengan kompos kayu apu sebanyak 6 ton ha -1 , (K 3 ) dengan kompos kayu apu sebanyak 12 ton ha -1 . Pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan pertumbuhan tanaman dan pengamatan hasil. Pengamatan pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, indeks luas daun (ILD), bobot kering tanaman dan laju pertumbuhan relatif tanaman (LPR). Pengamatan dilakukan secara destruktif dan non-destruktif pada umur tanaman 14, 24, 34, 44, 54 dan 64 hst. Pengamatan hasil meliputi jumlah polong isi/ tanaman, bobot 100 biji, bobot biji/ tanaman, hasil biji ton ha -1 dan IP (Indeks Panen). Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis dengan analisis ragam (uji F) pada taraf 5%. Apabila hasil pengujian menunjukkan perbedaan yang nyata, maka dilanjutkan dengan menggunakan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi nyata terjadi antara dosis pupuk P dan pemberian kompos kayu apu pada komponen pertumbuhan yang meliputi : tinggi tanaman, luas daun, indeks luas daun dan laju pertumbuhan relatif. Interaksi dosis pupuk P dan pemberian kompos kayu apu pada komponen hasil berpengaruh pada jumlah polong isi/ tanaman, bobot biji/ tanaman dan hasil biji ha -1</

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2011/249/051104858
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Endang Susworini
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/128759
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item