BKG

Novitasari, ValentinaLintang (2011) Periode Kritis Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus Radiatus) Terhadap Gulma. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Kacang hijau ( Phaseolus radiatus L.) ialah salah satu komoditi penting yang dibudidayakan di Indonesia. Pulau Jawa merupakan penghasil utama kacang hijau yang telah memberikan kontribusi 61% terhadap produksi kacang hijau nasional. (Kasno, 2007). Namun, masalah yang dihadapi dalam budidaya kacang hijau di Indonesia antara lain rendahnya produksi. Umumnya, produksi kacang hijau sebesar 0,6 ton/ha ditingkat petani (Purwono dan Hartono, 2005). Salah satu penyebab rendahnya tingkat produktivitas komoditas pertanian, khususnya kacang hijau ialah rendahnya pengetahuan terhadap budidaya tanaman kacang hijau, terutama mengenai pangendalian gulma di lahan. Terdapat sebuah periode dimana tanaman budidaya mengalami masa yang paling peka terhadap keberadaan gulma di sekitar lingkungan tumbuh tanaman budidaya. Periode tersebut dikenal sebagai periode kritis dimana pada periode tersebut, tanaman budidaya mengalami masa yang paling peka terhadap lingkungan, terutama dalam kompetisi memperebutkan sarana ruang tumbuh, unsur hara, air dan cahaya matahari. Untuk mengendalikan keberadaan gulma secara tepat, salah satu langkah yang harus dilakukan adalah memprediksi dan menentukan periode kritis tanaman secara tepat. Apabila penentuan periode kritis sudah dilakukan secara tepat maka pengendalian gulma akan efektif dan pertumbuhan tanaman akan maksimal, sehingga tanaman pun akan menghasilkan produksi yang memberikan keuntungan dari hasil panen. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan antara lain : 1) untuk mempelajari dan mengetahui periode kritis pada tanaman kacang hijau ( Phaseolus radiatus ) terhadap kompetisi gulma, 2) untuk mempelajari dan menentukan waktu pengendalian gulma yang tepat pada tanaman kacang hijau ( Phaseolus radiatus ). Hipotesis yang diajukan ialah : 1) Perlakuan tanpa pengendalian gulma selama 21 hari setelah tanam kemudian setelahnya disiangi seminggu sekali memberikan hasil produksi tertinggi pada tanaman kacang hijau, 2) Pengendalian gulma yang paling tepat dilakukan pada 21 hari setelah tanam dengan interval 1 minggu sekali sampai saat panen . Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2011 sampai dengan bulan Juni 2011 di desa Dau, Malang Jawa Timur. Alat yang digunakan pada penelitian ini ialah, cangkul, gembor, sabit, tugal, meteran, timbangan analitik, Leaf Area Meter (LAM), oven, jangka sorong, penggaris dan kamera. Bahan tanam yang digunakan diantaranya benih kacang hijau varietas Murai, pupuk Urea (46% N) dengan dosis 50 kg ha -1 , SP 36 (36% P 2 O 5 ) dengan dosis 100 kg ha -1 , KCl (60% K 2 O) dengan dosis 50 kg ha -1 , pestisida, dan fungisida. Penelitian menggunakan Rancangan Acak iv Kelompok (RAK) yang terdiri atas 9 perlakuan pengendalian gulma dengan 3 kali ulangan, sehingga diperoleh 27 petak perlakuan. Adapun perlakuan tersebut meliputi 1) pengendalian gulma 1 minggu sekali sampai umur 62 HST; 2) tanpa pengendalian gulma sampai umur 14 HST; 3) tanpa pengendalian gulma sampai umur 21 HST; 4) tanpa pengendalian gulma sampai umur 28 HST; 5) tanpa pengendalian gulma sampai umur 35 HST; 6) tanpa pengendalian gulma sampai umur 42 HST; 7) tanpa pengendalian gulma sampai umur 49 HST; 8) tanpa pengendalian gulma sampai umur 56 HST; 9) tanpa pengendalian gulma sampai umur 62 HST. Pengamatan dilakukan pada tanaman kacang hijau dan gulma. Pengamatan tanaman dilakukan secara destruktif dengan mengambil dua tanaman contoh untuk setiap petak perlakuan yang dilakukan pada saat tanaman berumur 7, 21, 35, 49, dan 62 HST. Pengamatan parameter pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, dan bobot kering total tanaman; sedangkan parameter hasil meliputi jumlah polong per tanaman, jumlah polong hampa, jumlah biji per tanaman, , bobot 100 biji, hasil (ton/ha), dan Indeks Panen (IP). Untuk pengamatan pada gulma meliputi perhitungan dominansi gulma dan bobot kering gulma. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji F pada taraf nyata (p = 0,05) dan untuk mengetahui perbedaan antar varietas dilakukan dengan uji BNT pada taraf nyata (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman kacang hijau pada perlakuan P2 yaitu perlakuan tanpa pengendalian gulma sampai 21 hari setelah tanam kemudian setelahnya disiangi seminggu sekali dan memberikan hasil produksi tertinggi pada tanaman kacang hijau dengan indeks panen (IP) sebesar 0,5, kemudian P1 dengan IP sebesar 0,47, P0 dengan IP 0,46. Pengendalian gulma pada tanaman kacang hijau yang peling tepat dilakukan pada perlakuan P2 yaitu 21 hari setelah tanam dengan interval 1 minggu sekali sampai saat panen .

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2011/233/051104499
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Endang Susworini
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/128743
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item