BKG

Yusnita, Erma (2011) Pola Pertumbuhan Fase Generatif Pisang Agung Semeru (Musa balbisiana cv. Agung Semeru) dan Pisang Mas Kirana (Musa acuminata cv. Mas Kirana) pada Ketinggian Tempat 850, 950 dan 1.050 Meter di Atas. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Tanaman pisang ialah komoditi asli Indonesia yang dapat dibudidayakan hampir di seluruh wilayah Indonesia dan merupakan komoditi unggulan pertanian yang sangat potensial dikembangkan (Suyanti dan Ahmad, 2008). Sentra pisang di Indonesia tersebar di seluruh wilayah Indonesia salah satunya adalah di Kabupaten Lumajang. Komoditas pisang andalan Kabupaten Lumajang adalah pisang agung dan pisang mas. Pisang agung dan pisang mas mempunyai keunggulan masing-masing. Keduanya memiliki pola pertumbuhan yang berbeda di setiap ketinggian. Pola pertumbuhan tanaman pisang dapat mempengaruhi waktu panen sehingga setiap tanaman pisang mempunyai waktu panen yang berbeda-beda. Perbedaan waktu panen inilah yang nantinya akan mempengaruhi kualitas atau mutu panen buah pisang, sehingga kualitas atau mutu pisang yang dihasilkan menjadi bervariasi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat yang berbeda terhadap pola pertumbuhan pisang agung dan pisang mas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pola pertumbuhan fase generatif Pisang Agung Semeru dan Pisang Mas Kirana pada ketinggian tempat 850 m dpl, 950 m dpl dan 1.050 m dpl. Hipotesis yang diajukan ialah (1) perbedaan ketinggian tempat mempengaruhi pola pertumbuhan fase generatif Pisang Agung Semeru dan Pisang Mas Kirana dan (2) pola pertumbuhan fase generatif Pisang Agung Semeru dan Pisang Mas Kirana pada ketinggian tempat 850 m dpl lebih cepat bila dibandingkan dengan ketinggian 950 m dpl dan 1.050 m dpl. Penelitian ini dimulai pada bulan Oktober 2010 sampai bulan Maret 2011 yang dilaksanakan di Desa Kandang Tepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah GPS ( Global Positioning System ), termometer suhu maksimum-minimum, meteran kayu ( rollmeter ), meteran, hand refraktometer , pisau, tangga, timbangan kue ( kitchen scale ), timbangan duduk (15 kg) dan kamera digital untuk dokumentasi selama pengamatan. Alat yang digunakan dalam laboratorium ialah timbangan analitik dan oven. Sedangkan bahan atau tanaman contoh yang digunakan ialah dua kultivar tanaman pisang yaitu Pisang Agung Semeru dan Pisang Mas Kirana yang tersebar pada tiga ketinggian tempat yang berbeda yaitu 850 m dpl, 950 m dpl dan 1.050 m dpl, label, stamp pad dan tinta, kertas millimeter, tissu dan aquades. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi lapang yaitu melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematik gejalagejala yang diteliti yang diawali dengan melihat kondisi dan letak kebun pisang yang akan dijadikan titik pengamatan melalui survey dan wawancara ( interview ) secara langsung dengan pihak-pihak (petani setempat) yang terkait dengan cara atau teknik yang dipergunakan dalam pembudidayaan tanaman pisang yang kemudian hasil survey dan wawancara tersebut dianalisis. Dalam pelaksanaan penelitian ini, pengambilan data dilakukan dengan menggunakan dua tahapan, yaitu pengambilan data primer yang meliputi data observasi lapang yaitu pengamatan suhu harian, morfologi generatif, morfologi vegetatif, pengamatan destruktif, pengamatan panen, pengamatan komponen pendukung, dokumentasi dan hasil wawancara. Tanaman contoh dipilih secara acak untuk jenis Pisang Agung Semeru 10 tanaman contoh di setiap ketinggian. Sedangkan pada Pisang Mas Kirana di ketinggian tempat 850 m dpl 10 tanaman contoh, di ketinggian 950 m dpl sebanyak 13 tanaman contoh dan ketinggian 1.050 m dpl yaitu 15 tanaman contoh. Adanya perbedaan jumlah tanaman contoh pada setiap ketinggian dikarenakan beberapa tanaman contoh roboh karena angin kencang dan penambahan tanaman contoh untuk destruktif. Satu tanaman contoh ialah satu ulangan, jadi total tanaman contoh yang digunakan pada tiga ketinggian adalah 68 tanaman contoh atau 68 ulangan. Pengolahan data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan Uji t pada taraf kesalahan α = 0.05 atau selang kepercayaan 95% dan untuk pengolahan data hasil interview menggunakan analisis scoring system . Berdasarkan hasil analisis terhadap pola pertumbuhan Pisang Agung Semeru dan Pisang Mas Kirana, menunjukkan perbedaan akibat ketinggian tempat yang berbeda. Perbedaan tersebut akibat suhu yang berbeda di tiap ketinggian selama pertumbuhan fase generatif. Semakin tinggi lokasi penelitian menunjukkan semakin menurunnya rerata suhu udara yang mengakibatkan umur bunga sampai panen menjadi semakin lama. Semakin tinggi lokasi penelitian untuk Pisang Mas Kirana menunjukkan tinggi tanaman semakin pendek, bobot sisir semakin menurun dan jumlah jari semakin sedikit. Sedangkan untuk Pisang Agung Semeru tidak menunjukkan perbedaan yang nyata di setiap ketinggian tempat. Jadi pola pertumbuhan fase generatif Pisang Agung Semeru dan Pisang Mas Kirana pada ketinggian tempat 850 m dpl le

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2011/189/051103805
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Endang Susworini
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/128696
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item