BKG

IndahRatnaYulika, (2007) Aplikasi mulsa organik pada budidaya tanaman gandum (Triticum aestivum L.) di Dataran Tinggi. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Program diversifikasi pangan merupakan upaya pemantapan swasembada pangan langkah yang dapat dipilih untuk mengatasi kekurangan pangan nasional. Salah satu bahan pangan yang dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti bahan makanan pokok beras adalah gandum. Tanaman gandum ( Triticum aestivum L.) merupakan tanaman serealia yang mengandung karbohidrat yang cukup tinggi, dan vitamin serta mineral yang cukup penting bagi tubuh manusia. Dari biji gandum dapat dijadikan tepung terigu yang merupakan bahan pembuat berbagai macam olahan seperti mie, roti, dll. Akan tetapi, tanaman masih jarang ditanam di Indonesia karena gandum adalah tanaman dataran tinggi. Tosari adalah daerah dataran tinggi yang ditanami gandum. Tetapi Tosari adalah derah dengan jenis tanah kering dengan tekstur lempung berpasir dengan fraksi pasir yang dominan (74%) dan sangat porus pada musim kemarau, sehingga ketersediaan air adalah faktor pembatas utamanya. Oleh karena itu, agar tanaman tidak kekurangan air pada musim kemarau, maka perlu dilakukan upaya penekanan kehilangan air baik yang terjadi melalui proses evaporasi maupun akibat perkolasi. Salah satu cara yang dapat dipilih adalah pemulsaan. Pemulsaan merupakan salah satu kegiatan untuk memodifikasi lingkungan tanah dengan menghamparkan suatu bahan, baik yang bersifat organik maupun anorganik ke permukaan tanah dengan tujuan untuk menekan laju evaporasi, mengendalikan pertumbuhan gulma, menekan laju erosi dan menstabilkan/ mengatur suhu tanah. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis mulsa organik pada beberapa ketebalan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman gandum ( Triticum aestivum L.). Hipotesis yang diajukan adalah aplikasi masing-masing jenis mulsa organik pada beberapa ketebalan memberikan pengaruh yang berbeda pada pertumbuhan dan hasil tanaman gandum ( Triticum aestivum L.). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-September 2006 di Dusun Ngawu, Desa Podokoyo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan dengan ketinggian tempat 2138 m dpl, suhu maksimum 18,5º C dan suhu minimum 12º C. Jenis tanah Inseptisol dengan curah hujan rata-rata 2438 mm. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi meteran, cangkul, sabit, timbangan, kertas kantong, tugal, oven, Leaf Area Meter. Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih gandum varietas dewata, pupuk Urea, SP-36, KCl. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana dengan 4 ulangan dan 7 perlakuan, yaitu: Tanpa Mulsa (M0), Mulsa jerami dengan ketebalan 3 cm (M1), Mulsa jerami dengan ketebalan 5 cm (M2), Mulsa rumput gajah dengan ketebalan 3 cm (M3), Mulsa rumput gajah dengan ketebalan 5 cm (M4), Mulsa paitan dengan ketebalan 3 cm (M 5), dan Mulsa paitan dengan ketebalan 5 cm (M6). Pengamatan dilakukan secara non destruktif yaitu untuk umur keluar malai serta umur panen dan destruktif dengan mengambil 2 tanaman contoh untuk setiap perlakuan yang dilakukan pada saat tanaman berumur 35, 50, 65, 80 dan 95 hst yang meliputi komponen pertumbuhan dan komponen hasil. Komponen pertumbuhan meliputi: luas daun dan bobot kering total tanaman sedangkan komponen hasil meliputi: jumlah malai/rumpun, bobot malai/rumpun, bobot spikelet/rumpun, bobot 1000 butir, hasil biji ton/ha dan IP. Pengamatan penunjang meliputi analisis pertumbuhan tanaman (CGR dan ILD) dan pengamatan lingkungan (suhu tanah). Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam (uji F) pada taraf 5 %, jika berbeda nyata akan diteruskan dengan uji BNJ pada taraf 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya pengaplikasian mulsa dengan ketebalan yang berbeda memberikan pengaruh nyata pada komponen pertumbuhan sedangkan pengaruh tidak nyata terdapat pada pada komponen hasil dan panen. Pada komponen pertumbuhan, jika dibandingkan maka didapatkan bahwa tanaman yang diberi mulsa dengan ketebalan 5 cm memberikan hasil yang lebih tinggi daripada tanaman yang tidak diberi mulsa. Tanaman yang diberi mulsa dengan ketebalan 3 dan 5 memberikan hasil yang tidak berbeda, dan tanaman yang diberi mulsa dengan ketebalan 3 cm memberkan hasil yang juga tidak berbeda dengan tanaman yang tidak diberi mulsa. Rata-rata hasil untuk tanaman yang tidak diberi mulsa adalah 2,19 ton/ha dan yang diberi mulsa dengan ketebalan 3 cm adalah 2,67 ton/ha sedangkan yang diberi mulsa dengan ketebalan 5 cm adalah 2,64 ton/ha.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2007/050701205
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Endang Susworini
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/127386
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item